FIRMAN YANG SUDAH ADA SEBELUMNYA

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Dia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Yohanes 1:1-2

 

Sebagian besar bayangan kita tentang Yesus lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di gambar dan film alih-alih Alkitab. Alkitab memang tidak memberikan gambaran fisik tentang Kristus selain bahwa Dia “bertambah besar” (Lukas 2:52). Jadi, kita mulai membayangkan-Nya berambut pirang, bermata biru mencolok, seperti yang dilakukan banyak orang dalam budaya Barat. Gambaran seperti itu bukan hanya salah besar, mengingat bahwa Dia adalah seorang Yahudi Timur Tengah; tetapi juga mencegah kita untuk memahami dan menikmati cara yang mengagumkan ketika Injil Yohanes memperkenalkan-Nya.

 

Sejak ayat pertama, Yohanes memberi tahu kita tentang kekekalan Kristus, kepribadian-Nya, dan keilahian-Nya. Tidak peduli seberapa jauh kita menganggap awal waktu dan tidak peduli model apa yang mungkin ada dalam pikiran kita tentang bagaimana waktu dimulai, kita akan menemukan Putra Allah yang belum berinkarnasi. Dia tidak diciptakan, karena Dia adalah Sang Pencipta. Anak dalam palungan adalah pribadi yang sama yang meletakkan bintang-bintang di langit—termasuk bintang yang menuntun orang bijak dari timur untuk datang dan menyembah-Nya.

 

Dalam kekekalan-Nya, Sang Firman, Yesus, berbeda dari Bapa dan Roh, bukan dalam hakikat tetapi dalam pribadi. Dia “bersama-sama dengan Allah,” tetapi Dia “adalah Allah.” Meskipun mungkin terdengar membingungkan, Yohanes tidak menulis dalam bentuk abstrak. Dia menghadirkan seseorang yang telah Dia temui, lihat, dengar, dan sentuh. Panggung telah disiapkan agar para pembaca dapat bersama-sama berkata dengan sang rasul, “Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya” (1 Yohanes 1:2), karena itulah kuasa Firman Allah yang hidup.

 

Dengan menegaskan kenyataan bahwa Kristus tidak hanya bersama Allah tetapi adalah Allah sendiri, Yohanes ingin kita membaca seluruh Injilnya dengan mengingat keilahian Yesus. Ketika kita membalik setiap halaman, membaca perkataan Yesus, dan mengamati perbuatan-perbuatan-Nya, kita seharusnya melihat bahwa semua itu adalah perkataan dan perbuatan Allah sendiri.

 

Jika Yesus hanyalah seorang manusia yang baik, maka apa yang kita baca dalam Injil Yohanes pada akhirnya adalah penghujatan. Namun, Dia lebih dari sekadar manusia. Dia dulu, sekarang, dan selamanya akan menjadi satu dengan Allah atas semua ciptaan. Kita perlu memahami ayat-ayat pembukaan Yohanes untuk benar-benar memahami siapa Yesus sehingga kita dapat, dalam kata-kata Bruce Milne, "menyembah-Nya tanpa henti, menaati-Nya tanpa ragu, mengasihi-Nya tanpa syarat, dan melayani-Nya tanpa henti." Jika Anda merasa sulit untuk menyembah, menaati, mengasihi, atau melayani Tuhan saat ini, inilah jawabannya: pandanglah Dia. Karena semakin baik kita memahami bahwa Firman yang terbaring di palungan adalah Firman yang bersama Allah dan adalah Allah sejak awal, semakin wajar kita akan menemukan kewajiban Kristiani kita berubah menjadi sukacita. 

 

 

Refleksi

Bacalah Yohanes 1:1-18 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini?  

 

Bacaaan Alkitab Setahun2 Tawarikh 25-27 ; Lukas 9: 37-62

Truth For Life – Alistair Beg