MENANTANG KEKUASAAN ALLAH

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 

Yohanes 1:11

 

Semua aktor berpikir mereka cocok untuk memainkan peran Hamlet. Namun, dalam kenyataannya, banyak dari mereka yang tidak cocok dengan peran itu. Mereka tidak memiliki kemampuan dan pengalaman untuk melakukannya—meskipun, tentu saja, itu tidak menghentikan mereka untuk mencoba! 

 

Demikian pula, semua manusia pada suatu titik akan tergoda untuk menantang otoritas Allah atas hidup mereka, percaya bahwa mereka dapat memainkan peran yang hanya cocok untuk-Nya. Kita sering gagal memercayai tangan-Nya dalam keadaan kita. Sebaliknya, kita mempertanyakan kehendak-Nya yang berdaulat. Kita mencoba mencuri peran yang hanya cocok untuk Sang Pencipta, Allah. Penolakan terhadap otoritas Allah bukanlah hal baru. Ketika Yesus turun ke bumi untuk menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama, Dia tidak disambut oleh umat-Nya sendiri. Israel telah menunggu Mesias—tetapi begitu Dia datang, mereka mempertanyakan otoritas-Nya dan menolak identitas-Nya. Mereka mengetahui nubuat-nubuat tentang-Nya, tetapi mereka tidak menyadari penggenapannya.

 

Beberapa hari sebelum Dia mati di tangan para pemimpin agama Yahudi serta para penguasa bukan Yahudi, Yesus menceritakan perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur yang jahat yang menolak pemilik kebun anggur dan membunuh putranya. Tuhan dengan murah hati dan berani menunjukkan kebutaan para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua, yang menuntut agar Dia memberikan bukti atas tindakan-tindakan-Nya (Markus 12:1-12). Mereka mengerti bahwa Yesus mengaku sebagai Anak Allah. Namun, setelah baru saja diperingatkan oleh Yesus bahwa mereka bertindak seperti para pengelola kebun anggur yang telah menangkap anak pemilik kebun anggur, orang-orang ini kemudian (dengan ironi yang tragis) segera ingin menangkap-Nya.

 

Sangat menggoda untuk berpikir, "Lancang sekali para pemimpin agama itu berani menentang Raja alam semesta dan otoritas-Nya!" Namun, kita dulu juga tidak berbeda dengan mereka. Dalam sifat kita yang berdosa, kita tidak ingin menerima Sang Anak yang diutus Allah. Kita cenderung hidup dalam kegelapan. Bahkan sebenarnya, kita sangat menyukai kegelapan! Yohanes menggambarkannya dengan baik ketika dia berkata bahwa terang telah datang ke dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3:19). Manusia pada dasarnya tidak duduk dan menunggu terang Injil masuk ke dalam hati mereka. Namun, melalui kasih karunia-Nya, Allah membuka mata yang buta untuk melihat identitas Anak-Nya sehingga orang-orang percaya dan menyembah-Nya.

 

Itulah sebabnya Alkitab selalu berbicara tentang "sekarang." Tidak ada hari yang lebih baik daripada hari ini untuk hidup bagi Kristus. Bahkan sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk terus-menerus bertobat dan memulihkan diri dalam perjalanan kita bersama Tuhan daripada memilih untuk berperan sebagai Allah dalam kehidupan kita sendiri. Saat hati kita semakin peka terhadap dosa kita dan kita mengalami kesabaran-Nya yang terus-menerus terhadap kita, kebaikan-Nya akan menuntun kita menuju kekudusan. Dan ketika Anda hidup dengan Allah sebagai pusat kehidupan, dengan Dia memainkan peran yang hanya Dia yang bisa, Anda menemukan bahwa Anda mampu dengan sukacita dan yakin memenuhi peran yang telah Dia berikan kepada Anda—untuk menjalani kehidupan yang telah Dia berikan kepada Anda dan menemukan tujuan hidup Anda di “panggung” kehidupan: menikmati, mengenal, dan melayani-Nya. 

 

Refleksi

Bacalah Markus 12:1-12 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

Bacaaan Alkitab Setahun2 Tawarikh 30-31 ; Lukas 10:25-42

Truth For Life – Alistair Beg