PERCAYAKAN HIDUP KITA PADA-NYA
1 TAWARIKH 10–11
Kita seharusnya selalu memegang rencana kita dengan tangan terbuka, karena Allah sempurna dalam hikmat dan kedaulatan-Nya, sedangkan kita tidak.
Apa yang sebenarnya Anda rindukan dalam hidup ini? Datanglah dengan jujur di hadapan Tuhan dan juga pada dirimu sendiri. Jika semua kemungkinan terbuka, apa yang ingin Anda miliki? Impian apa yang terus Anda simpan dalam hati dan kembali Anda pikirkan? Di bagian mana Anda ingin memegang kendali penuh atas hidupmu? Apa yang membuat hatimu merasa kurang puas? Kapan Anda mulai meragukan apakah Tuhan sungguh baik dan bijaksana? Bagaimana sikapmu ketika menghadapi kekecewaan? Apa reaksimu saat rencanamu tidak berjalan seperti yang Anda harapkan? Pernahkah Anda meminta sesuatu dalam doa, lalu bertanya mengapa Tuhan tidak memberikannya? Apakah ada tarik-menarik dalam hatimu antara keinginanmu sendiri dan kehendak Tuhan? Pernahkah muncul pikiran bahwa Anda lebih tahu daripada Tuhan?
Seluruh kisah dalam Alkitab adalah kisah Tuhan. Di dalamnya kita diperkenalkan kepada kemuliaan-Nya yang luar biasa. Dialah pusat dari setiap cerita. Melalui firman-Nya, Tuhan menyatakan siapa diri-Nya, apa kehendak-Nya, dan bagaimana rencana-Nya bagi umat-Nya. Dialah yang bertindak dan memenangkan segala sesuatu. Setiap tokoh iman menjadi berarti bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena anugerah dan penyertaan Tuhan.
Dalam perjalanan kisah itu, kita melihat bahwa rencana manusia seringkali gagal, tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal. Kekuatan manusia terbatas dan tidak bertahan lama, tetapi kuasa Tuhan kekal. Kasih manusia bisa goyah, tetapi kasih Tuhan tetap teguh dan selalu menang. Namun, meskipun Tuhan dengan setia menyatakan diri-Nya supaya kita percaya, mengikuti Dia, dan menyerahkan hidup kita kepada-Nya, tetap saja ada pergumulan yang berulang: manusia menginginkan sesuatu, sementara Tuhan mengetahui apa yang sebenarnya terbaik bagi mereka.
Bangsa Israel pernah merasa tidak puas karena tidak memiliki raja manusia, padahal Allah sendiri adalah Raja yang jauh lebih sempurna. Mereka melihat bangsa-bangsa lain dan ingin menjadi seperti mereka. Maka Tuhan mengizinkan keinginan itu terjadi. Sayangnya, Saul menjadi raja yang sama seperti raja-raja bangsa lain. Pemberontakannya terhadap Allah, kehausannya akan kuasa, dan kecemburuannya membawa kehancurannya sendiri.
Padahal, Tuhan sudah menyediakan rencana yang jauh lebih indah bagi umat-Nya. Ia menghendaki seorang raja yang berkenan di hati-Nya, dan mengikat perjanjian dengannya, bahwa kerajaannya akan tetap untuk selama-lamanya. Dan dari garis keturunannya akan lahir Yesus, Anak Daud, Juruselamat dunia.
Sebagai Bapa yang penuh hikmat, Allah selalu tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Rencana-Nya tidak pernah keliru, dan jalan-Nya selalu benar. Kita tidak akan pernah melampaui hikmat-Nya. Karena itu, menyerahkan keinginan, rencana, dan kehendak kita kepada Tuhan adalah keputusan yang bijaksana. Sebaliknya, memaksakan kehendak sendiri hanya akan membawa kita pada kesia-siaan. Rencana dari Dia yang merancang segala sesuatu adalah yang paling baik. Percayakanlah hidupmu kepada-Nya, dan pada akhirnya kamu akan melihat betapa baiknya jalan-Nya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 37:1–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 10-11