HIDUP UNTUK KEMULIAAN KRISTUS
YEHEZKIEL 25–27
Selama kita masih hidup di dunia ini, kita akan terus berjuang menentukan siapa yang paling layak mendapatkan kemuliaan: kita atau Tuhan.
Mungkin kita pernah melihat perubahan dalam diri seseorang yang dahulu begitu bersemangat memberitakan Injil. Dulu, Kristus adalah pusat dari hidup dan pelayanannya. Ia memiliki kerinduan yang besar untuk memberitakan Injil dan melayani Tuhan. Namun, perlahan-lahan sesuatu berubah. Pelayanannya mulai berpusat pada dirinya sendiri. Ia mulai menikmati perhatian orang lain. Ia senang menjadi pusat perhatian, dikelilingi banyak pengagum, dan berada di tengah orang-orang yang dianggap penting atau terkenal. Ia masih melayani. Ia masih melakukan banyak hal dalam pelayanan. Tetapi pusat kemuliaannya telah berubah.
Kita pun harus berhati-hati, karena kita memang diciptakan oleh Allah dengan kerinduan terhadap kemuliaan. Kita tertarik kepada hal-hal yang indah dan mengagumkan. Itulah sebabnya kita dapat menikmati makanan yang lezat, pertandingan yang seru, pakaian yang indah, film yang menyentuh, atau matahari terbenam dengan warna yang begitu indah. Allah memenuhi dunia ini dengan berbagai hal yang mulia dan memberi kita kemampuan untuk menikmati kemuliaan tersebut.
Namun, setiap kemuliaan yang Allah ciptakan sebenarnya menunjuk kepada kemuliaan-Nya. Kita tidak pernah diciptakan untuk hidup demi kemuliaan diri sendiri atau demi kemuliaan ciptaan. Kerinduan kita akan kemuliaan seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, sampai hanya kemuliaan-Nya yang benar-benar memuaskan hati kita.
Namun, dosa membuat kita mencari kepuasan di luar Sang Pencipta. Kita mulai mencari sesuatu dalam keberhasilan, pengakuan, perhatian, popularitas, atau hal-hal lain yang diciptakan, seolah-olah semua itu dapat memuaskan hati kita. Padahal, Allah tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Allah menghendaki agar kemuliaan-Nya menjadi satu-satunya kemuliaan yang benar-benar menguasai hati kita. Karena itu, hal ini seharusnya memengaruhi cara kita menjalani hidup.
Kecemburuan Allah yang kudus terhadap kemuliaan-Nya terlihat jelas dalam perkataan yang berulang kali muncul dalam Yehezkiel 25–26: “Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” (Yeh. 25:7, 11, 17; 26:6). Allah sedang menyatakan penghukuman atas bangsa-bangsa di sekitar Israel. Ia menjalankan keadilan-Nya supaya bangsa-bangsa itu mengetahui bahwa Dialah Tuhan. Allah menyatakan kuasa-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri.
Kita tidak seharusnya hidup untuk kemuliaan diri sendiri, karena kita adalah ciptaan. Kita adalah milik Dia yang menciptakan kita. Kita ada karena kehendak-Nya dan untuk tujuan-Nya. Namun, Allah berbeda dari kita. Ia memerintah dalam kemuliaan dan keagungan atas segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Dan kerinduan-Nya agar kemuliaan-Nya dikenal justru menjadi pengharapan bagi seluruh ciptaan.
Ketika kita hidup bagi kemuliaan-Nya, kita dibebaskan dari perbudakan untuk mencari kemuliaan diri sendiri, kemuliaan yang tidak akan pernah benar-benar memuaskan hati kita. Hanya melalui kuasa kasih karunia Allah yang menyelamatkan, kita dapat dibebaskan dari keterikatan kita kepada kemuliaan dunia ini. Kita dapat menemukan pengharapan, kehidupan, dan kepuasan yang sejati ketika kita hidup bagi kemuliaan Sang Pencipta.
Rasul Paulus mengingatkan kita dalam 2 Korintus 5:15 bahwa kasih karunia itu kita temukan di dalam pribadi dan karya Yesus. Yesus datang supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, “tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri: “Siapa yang sebenarnya menjadi pusat hidup kita? Kemuliaan siapa yang sedang kita cari?” Kiranya melalui kasih karunia Kristus, hati kita tidak lagi terikat pada kemuliaan diri sendiri, tetapi semakin rindu untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Refleksi
Bacalah Mazmur 50:12–15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 25-27