KITA MEMBUTUHKAN JURUSELAMAT
AMSAL 19–21

 

Pertanyaan ini selalu menentukan arah hidup kita: Apakah kita merasa diri kita sudah baik-baik saja, ataukah kita menyadari bahwa kita sangat membutuhkan Juruselamat?

 

Ketika seorang anak mulai dapat berbicara, biasanya ia akan melontarkan begitu banyak pertanyaan: "Mengapa, Mama?" "Mengapa tidak, Ayah?" "Apa itu?" "Bagaimana cara kerjanya?" "Mengapa aku tidak boleh?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengalir tanpa henti. Pertanyaan yang kita ajukan sangat menentukan jawaban yang akan kita terima. Dan jawaban yang kita terima akan membentuk cara berpikir, karakter, serta arah hidup kita. Orang yang benar-benar bijaksana bukanlah mereka yang selalu memiliki semua jawaban, melainkan mereka yang tahu mengajukan pertanyaan yang benar. Sebab, kita tidak akan pernah menemukan jawaban yang benar jika terus bertanya dengan pertanyaan yang salah.

 

Sepanjang sejarah, manusia telah bergumul dengan berbagai pertanyaan besar tentang kehidupan, dirinya sendiri, dan Allah. Allah menciptakan kita dengan kemampuan untuk berpikir, bertanya, dan mencari makna. Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada semuanya, karena jawaban atas pertanyaan ini menentukan arah hidup, bahkan kekekalan seseorang. Pertanyaan itu tertulis dalam Amsal 20:9: “Siapakah dapat berkata: "Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?"

 

Pertanyaan ini membagi manusia menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berkata, "Pada dasarnya aku adalah orang yang baik. Aku bisa hidup benar dengan usahaku sendiri. Dosaku bukan masalah yang serius." Mungkin mereka tidak pernah mengucapkannya secara langsung, tetapi cara mereka menjalani hidup menunjukkan bahwa mereka tidak merasa membutuhkan pertolongan Allah. Mereka tidak terlalu gelisah karena dosa, sebab mereka menganggap hati mereka pada dasarnya baik-baik saja. Mereka tidak menyadari bahwa hati manusia telah dirusak oleh dosa. Karena merasa dirinya sudah cukup baik, mereka juga tidak merasa membutuhkan anugerah keselamatan dari Yesus Kristus.

 

Kelompok kedua memberikan jawaban yang berbeda. Mereka mengakui, "Aku tidak mungkin dapat membersihkan hatiku sendiri. Aku tahu bahwa aku adalah orang berdosa dan tidak sanggup melepaskan diri dari dosa." Kesadaran ini membuat mereka terus datang kepada Tuhan. Mereka menyadari bahwa hanya Yesus yang sanggup mengampuni dosa, mengubah hati, dan memberikan hidup yang baru. Setiap hari mereka bergantung kepada kasih karunia-Nya, bukan kepada kebaikan diri sendiri.

 

Berita Injil menyapa kita kembali hari ini. Firman Tuhan tidak mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik lalu hanya membutuhkan sedikit perbaikan. Sebaliknya, Alkitab menyatakan bahwa hati manusia telah dicemarkan oleh dosa, rusak, bahkan tidak seorang pun mampu menyucikan dirinya sendiri. Karena itu, Allah mengutus Yesus Kristus untuk melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan. Melalui kehidupan-Nya yang sempurna, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya, Kristus membersihkan orang berdosa yang datang kepada-Nya dengan iman.

 

Semakin kita memahami kekudusan Allah, semakin kita menyadari betapa dalamnya dosa kita. Dan semakin kita menyadari dosa kita, semakin berhargalah anugerah Kristus di mata kita. Orang yang hidup di dalam Injil tidak lagi berusaha membuktikan bahwa dirinya cukup baik, tetapi setiap hari datang kepada Yesus, karena hanya Dia yang sanggup mengampuni, menyucikan, dan memperbarui hati.

 

Kiranya kita tidak pernah menjadi begitu terbiasa dengan dosa sehingga mulai meremehkannya atau mencari alasan untuk membenarkannya. Sebaliknya, biarlah setiap hari kita tetap memiliki kerinduan yang mendalam akan anugerah Kristus, karena hanya Dia yang dapat berkata kepada orang berdosa, "Dosamu telah diampuni," dan hanya Dia yang sanggup menciptakan hati yang baru.

 

Refleksi
Bacalah Kejadian 6:5–7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19-21