KETIKA MELIHAT SESAMA JATUH
AMSAL 24–26
Hati yang telah diubahkan oleh kasih karunia tidak akan bersukacita atas kejatuhan orang lain.
Di zaman media sosial, kita begitu mudah terpikat oleh kabar tentang kegagalan atau kejatuhan seseorang. Berita tentang kebaikan sering kali hanya menarik sedikit perhatian, tetapi ketika seorang tokoh terkenal jatuh dalam dosa atau skandal, banyak orang segera ingin mengetahui semua detailnya. Kita ingin tahu apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, dan siapa yang salah. Kita dengan cepat memberikan penilaian terhadap karakter orang tersebut, membahas apa yang telah dilakukannya, dan bagaimana seharusnya ia ditangani.
Kita terus mengikuti perkembangan beritanya, membaca komentar orang lain, lalu tergoda untuk ikut menyampaikan pendapat. Semua percakapan itu sering kali bukan lahir dari kasih atau keinginan untuk menolong, melainkan dari hati yang diam-diam menikmati kegagalan orang lain. Ada kecenderungan akibat dosa dalam diri manusia untuk merasa puas ketika melihat sesama jatuh, terutama jika orang itu dianggap berbeda, tidak disukai, atau bahkan musuh.
Firman Tuhan mengingatkan kita melalui Amsal 24:17–18: "Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok, supaya TUHAN tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu." Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak berkenan ketika kita merasa senang melihat orang lain jatuh, bahkan jika orang itu adalah musuh kita. Masalah ini bukan hanya terjadi di media sosial. Media sosial hanya membuat dosa di hati itu terlihat dengan nyata. Hati yang diam-diam menikmati kegagalan orang lain, senang mendengar aib mereka, atau merasa puas melihat mereka dipermalukan adalah hati yang sedang menjauh dari kasih Allah.
Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi kejatuhan seseorang, bahkan seseorang yang pernah menyakiti kita? Jawabannya adalah dengan memiliki hati Allah sendiri. Allah yang selalu benar, kudus, dan tidak pernah berkompromi terhadap dosa, justru menyatakan: "Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?" (Yeh. 33:11).
Allah tidak pernah menikmati kebinasaan orang berdosa. Ia tidak bersukacita melihat seseorang akhirnya menerima hukuman yang layak baginya. Sebaliknya, Allah menghendaki agar orang berdosa berbalik kepada-Nya, menerima pengampunan, dan mengalami kuasa kasih karunia yang mengubahkan hidup.
Di sinilah Injil mengubah cara kita memandang orang lain. Kita semua pernah menjadi orang berdosa yang pantas menerima hukuman, tetapi Kristus datang untuk menanggung hukuman itu di kayu salib. Karena kita sendiri telah menerima belas kasihan yang tidak layak kita terima, kita tidak lagi memandang diri lebih baik daripada orang yang jatuh. Sebaliknya, kita merindukan agar mereka mengalami kasih karunia yang sama yang telah menyelamatkan kita. Hati yang telah disentuh oleh Injil tidak bersorak atas kejatuhan orang lain, tetapi berdukacita karena dosa dan bersukacita ketika ada pertobatan.
Hari ini, kiranya kita memohon agar Allah terus melembutkan hati kita. Ketika melihat orang lain jatuh, jangan biarkan hati dipenuhi rasa puas atau keinginan untuk menghakimi. Sebaliknya, berdoalah agar kasih karunia Allah memulihkan mereka, sebagaimana kasih karunia yang sama telah lebih dahulu memulihkan kita. Dengan demikian, sukacita kita bukan lagi ditemukan dalam melihat kejahatan tersingkap, melainkan dalam melihat Kristus dimuliakan melalui pertobatan dan pemulihan orang berdosa.
Refleksi
Bacalah Roma 12:9–21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 24-26