DAPAT MELIHAT KEHADIRAN DAN KUASA ALLAH
2 RAJA-RAJA 6–8
Sungguh menyedihkan ketika seseorang tidak dapat melihat kehadiran dan kuasa Allah yang begitu besar.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa hal-hal yang paling penting dalam hidup ini justru tidak dapat dilihat dengan mata jasmani. Allah kita, yang bertakhta atas seluruh alam semesta, yang memerintah dengan hikmat, kedaulatan yang mutlak, dan kuasa yang dahsyat, tidak dapat dilihat atau disentuh secara fisik. Keberadaan-Nya, pemerintahan-Nya, dan rencana-Nya bagi manusia adalah kenyataan yang paling nyata, tetapi bukan sesuatu yang terlihat oleh mata kita.
Kita tidak bisa membuktikan keberadaan Allah hanya dengan metode ilmiah atau teknologi modern. Kita memang bisa melihat bukti-bukti keberadaan-Nya melalui ciptaan, tetapi untuk benar-benar melihat kemuliaan-Nya di balik ciptaan itu, dibutuhkan “mata” yang berbeda. Artinya, penglihatan terpenting bukanlah mata jasmani, melainkan mata hati. Kebutaan secara fisik memang berat. Namun ada kebutaan yang jauh lebih serius, yaitu ketika “mata hati” kita tidak dapat melihat perkara-perkara Allah.
Hal ini terlihat jelas dalam 2 Raja-raja 6:15–17: “Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: 'Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?' Jawabnya: 'Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.' Lalu berdoalah Elisa: 'Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.' Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.'”
Saat itu, Elisa sedang dikepung oleh tentara Aram yang hendak menangkapnya. Pelayan Elisa hanya melihat bahaya, jumlah musuh, dan kemungkinan kehancuran. Tetapi Elisa melihat sesuatu yang lebih besar yaitu perlindungan Allah yang tak terlihat. Seringkali kita seperti pelayan itu. Kita hanya melihat masalah, ancaman, kekurangan, dan jalan buntu. Tetapi Injil menyatakan bahwa realitas terbesar bukanlah masalah kita, melainkan Allah yang hadir menyertai umat-Nya. Lalu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata pelayannya. Dan Tuhan menjawab doa itu. Tiba-tiba pelayan itu dapat melihat bahwa gunung di sekeliling mereka dipenuhi dengan kuda dan kereta berapi, tanda kehadiran dan kuasa Allah yang melindungi mereka.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa melihat secara rohani bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami bagi orang berdosa. Kita dapat melihat dunia, tetapi tidak melihat kemuliaan Allah. Kita dapat memahami keadaan, tetapi gagal melihat tangan Tuhan yang bekerja. Ketika hati kita dapat melihat kemuliaan dan kuasa Allah, itu adalah karena kasih karunia-Nya bekerja dalam hidup kita. Sama seperti pelayan Elisa, kita pun membutuhkan Tuhan untuk membuka mata hati kita.
Nubuat tentang Mesias juga mengatakan bahwa Ia akan membuat orang buta melihat (Yes. 35:5). Ia bukan hanya menyembuhkan mata jasmani, tetapi juga membuka hati kita yang tertutup oleh dosa. Melalui Injil, Kristus menyingkapkan bahwa Allah beserta kita, membela kita, dan memimpin kita menuju keselamatan kekal. Jika hari ini kita dapat percaya kepada Kristus, dapat melihat kasih salib-Nya, dan bersandar pada janji-Nya, itu bukan karena kepandaian kita, melainkan anugerah Allah yang membuka mata kita.
Untuk itu, di saat Anda merasa dikelilingi masalah, mintalah bukan pertama-tama jalan keluar, tetapi mata yang dibukakan untuk melihat bahwa Tuhan masih memegang kendali. Berdoalah dalam hati Anda senantiasa: “Ya Tuhan, bukalah mataku supaya aku melihat Engkau.”
Refleksi
Bacalah Yohanes 9:1–41 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 6-8