DATANGLAH DAN SEMBAHLAH

"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Lukas 2:15-16

 

Bersama ke Bethlehem,

melihat Bayi mulia;

Bertelut dan menyembah,

Jurus'lamat manusia.

 

Ketika kita menyanyikan kata-kata seperti ini dalam lagu-lagu Natal kita, tidak banyak dari kita yang secara fisik berlutut. Kita memahami bahwa undangan lagu Natal ini bersifat metaforis. Namun, jika kita ingin benar-benar melihat Kristus, maka kita harus siap menerima undangan untuk datang dengan berlutut dalam hati kita. Apa artinya? Itu berarti datang dengan rendah hati dan penuh harap, dan dengan pengakuan bahwa orang ini layak mendapatkan penghormatan seperti itu. 

 

Sama seperti para gembala, kita didorong dan dimampukan untuk pergi kepada Allah karena Dia adalah Allah yang mencari. Pada saat kelahiran, Dia dengan luar biasa mengambil inisiatif, mengutus Putra-Nya ke dunia sebagai bayi yang tak berdaya, dan berbicara kepada para gembala melalui malaikat: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11). Allah mengambil inisiatif dalam kasih karunia, dan para gembala menanggapi dengan iman. Mereka percaya pada pesan malaikat dan dengan penuh semangat mulai mencari palungan. Dengan memprioritaskan pencarian mereka di atas mata pencaharian mereka dan semua yang mereka ketahui, mereka segera berusaha untuk mengenal sendiri Sang Penebus dunia. Sungguh ilustrasi yang indah tentang bagaimana kita seharusnya menanggapi pesan Allah! 

 

Sebagian orang mungkin memandang para gembala konyol, menganggap mereka bodoh karena kepercayaan dan tanggapan mereka yang sederhana. Apa yang menghalangi seorang pria atau wanita untuk memercayai pesan Allah seperti yang mereka lakukan? Satu kata: kesombongan. Kesombongan akan membuat para gembala tetap berada di padang, memiliki pengumuman malaikat tetapi tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Kesombongan akan menghalangi kita untuk datang kepada Kristus dengan berlutut dan membutakan kita terhadap kebenaran bahwa untuk mengenal Allah dengan sungguh-sungguh dibutuhkan jiwa yang menyesal dan hati yang rendah hati (Mazmur 51:19). 

 

Di Church of Nativity di Betlehem, mustahil untuk masuk begitu saja. Pintunya terlalu rendah. Jika Anda ingin memasuki tempat yang melambangkan kelahiran Tuhan Yesus, hanya ada satu cara untuk masuk: membungkuk, bersujud, dan berlutut. Ini adalah gambaran yang indah—dan ini menggerakkan kita untuk bertanya: Apakah saya siap untuk merendahkan diri di hadapan Kristus? Apakah saya bersedia, seperti para gembala itu, untuk melepaskan asumsi dan rencana saya sebelumnya untuk mengenal dan mengikuti Sang Penebus ini? Periksalah hati Anda pada Hari Natal ini: biarkan sikap hati Anda adalah selamanya tunduk di hadapan kemuliaan Allah dan memuja Dia yang pertama kali merendahkan diri-Nya dengan datang kepada kita sebagai seorang bayi.

 

Refleksi

Bacalah Lukas 2:1-20 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

 

Bacaaan Alkitab SetahunMika 4 - 5Lukas 22: 1 - 20

Truth For Life – Alistair Beg