BAIT SUCI DENGAN PONDASI YANG TAK TERGONCANGKAN
TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan. Mazmur 11:4-5
Sering kali, kita membaca perikop atau ayat Kitab Suci berulang kali, tetapi melewatkan kekayaan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kadang kita terlalu akrab dengan apa yang telah kita baca, sehingga luput dari makna yang lebih dalam. Di lain waktu, kita tidak meluangkan cukup waktu untuk merenungkan dan menikmati kekayaan firman Tuhan yang ada di hadapan kita.
Hari ini, mari kita renungkan kebenaran bahwa "Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus." Kebenaran ini mengandung penghiburan sekaligus peringatan. Kenyataan ini ditegaskan dalam banyak bagian Perjanjian Lama, seperti Habakuk 2:20, Mazmur 18:7, dan Mikha 1:2. Namun, dalam Mazmur 11, Daud memberikan sudut pandang tambahan yang memperkaya pemahaman kita.
Pertama, "takhta-Nya di sorga" menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah yang ditinggikan. Ia tidak memerintah sebagai manusia biasa dengan keterbatasan waktu dan kendali, tetapi sebagai Allah yang mahakuasa, kekal, dan mahatahu. Ia berdaulat atas segala sesuatu dan lebih tinggi dari segala penguasa dunia. Di hadapan-Nya, semua bangsa hanyalah seperti setitik debu.
Kedua, Tuhan adalah Allah yang mengamati: "mata-Nya mengamat-amati." Dari takhta-Nya di surga, tidak ada yang tersembunyi dari pandangan-Nya. Setiap perbuatan baik yang dilakukan demi nama-Nya tidak akan luput dari perhatian-Nya, dan setiap motivasi atau pikiran tersembunyi pun Ia ketahui. Ini memberikan penghiburan besar karena setiap aspek hidup kita—bahkan sejak kita masih "zat yang belum terbentuk"—telah ada dalam pengamatan-Nya (Mazmur 139:15-16). Namun, di sisi lain, kesadaran bahwa setiap kata, pikiran, dan perbuatan kita terbuka di hadapan-Nya juga seharusnya membuat kita rendah hati dan hidup dengan penuh kesadaran akan kehadiran-Nya.
Ketiga, Tuhan adalah Allah yang menguji: "Tuhan menguji orang benar." Ujian dari Tuhan tidak selalu mudah, tetapi selalu sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Setiap orang percaya pasti mengalami ujian dan pencobaan dalam perjalanan imannya. Kenyataan ini mungkin tidak menyenangkan, tetapi justru sangat berharga. Ketika Allah, dengan hikmat-Nya yang tak terduga, mengarahkan kita melewati lembah kehidupan, kita tidak perlu panik. Setiap ujian yang Ia izinkan memiliki tujuan ilahi—untuk mempersiapkan kita bagi hari ketika kita akan melihat-Nya di bait-Nya yang kudus.
Ingatlah kebenaran ini ketika Anda merasa bahwa "dasar-dasar dihancurkan" (Mazmur 11:3). Ketidakstabilan yang kita alami mengingatkan kita bahwa stabilitas dunia ini hanyalah ilusi. Keamanan sejati hanya ditemukan di dalam Tuhan. Dialah satu-satunya yang berdaulat, yang melihat segalanya, dan yang membimbing serta menguji kita demi kebaikan kita. Ketika segala sesuatu terasa goyah, kita dapat berpegang pada janji bahwa dunia ini bukanlah rumah kita yang sejati. Allah sedang menuntun kita menuju kota dengan fondasi yang tidak akan terguncang (Ibrani 11:10; 12:28). Kita dapat yakin bahwa Ia ada di bait-Nya yang kudus—dan Ia telah berjanji akan membawa kita ke tempat itu.
Refleksi
Bacalah Ibrani 12:22-29 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 9; 1 Korintus 16:10-24
Truth For Life – Alistair Beg