TUHAN LAYAK DIPERCAYA
MAZMUR 146–150
Setiap orang pasti menaruh kepercayaan pada seseorang atau sesuatu. Dan apa yang kita percayai akan memengaruhi cara kita menjalani hidup.
Mazmur 146 berbicara tentang kepercayaan. Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang selalu menaruh kepercayaan kepada seseorang atau sesuatu. Setiap hari kita menyerahkan hati kita kepada apa yang kita anggap mampu memberi keamanan, pertolongan, atau harapan. Ketika kita mempercayai sesuatu, kita berharap bahwa hal tersebut dapat memberikan apa yang kita anggap paling kita butuhkan. Bahkan orang yang terlihat paling skeptis, paling sinis, atau paling takut sekalipun tetap menaruh kepercayaan pada sesuatu.
Kemampuan untuk percaya adalah pemberian Allah. Sejak semula, manusia diciptakan untuk percaya kepada-Nya, menyerahkan hati kepada-Nya, dan menerima setiap firman-Nya sebagai kebenaran. Namun, dosa pertama di Taman Eden terjadi ketika Adam dan Hawa memilih untuk tidak lagi mempercayai Allah. Mereka lebih mempercayai perkataan ular daripada firman Tuhan, melanggar batas yang telah Allah tetapkan. Keputusan itu membawa dosa dan kehancuran, dan sampai hari ini seluruh umat manusia masih hidup dalam akibatnya.
Perhatikan apa yang dikatakan pemazmur: “Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya” (Mzm. 146:3–6).
Pemazmur mengajukan sebuah pertanyaan yang penting: mengapa kita menaruh harapan kepada manusia yang hidupnya begitu singkat dan tidak sanggup menyelamatkan kita? Mengapa kita menggantungkan hati kepada sesuatu yang diciptakan, padahal semua ciptaan terbatas dan akan berlalu?
Sebaliknya, pemazmur mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. Ia mengajak kita membandingkan keterbatasan manusia dengan kesetiaan Allah. Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Dia tetap setia untuk selama-lamanya. Dia membela orang yang tertindas, memberi makan kepada yang lapar, membebaskan yang terbelenggu, membuka mata yang buta, menguatkan yang lemah, serta memelihara mereka yang tidak memiliki siapa-siapa. Apa yang Allah kerjakan selalu sejalan dengan siapa diri-Nya: Dia setia, benar, penuh kasih, dan tidak pernah berubah.
Dalam terang Injil, semua janji itu mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus. Yesus adalah bukti terbesar bahwa Allah layak dipercaya. Di kayu salib, Ia menanggung hukuman dosa kita agar kita yang telah kehilangan kepercayaan kepada Allah diperdamaikan kembali dengan-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, Kristus menunjukkan bahwa tidak ada kuasa, termasuk dosa dan maut yang dapat menggagalkan rencana keselamatan Allah. Karena itu, pengharapan orang percaya tidak lagi bertumpu pada manusia, harta, jabatan, atau kekuatan diri, tetapi pada Kristus yang hidup dan memerintah untuk selama-lamanya.
Ketika kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, kita tidak sedang menggantungkan harapan kepada sesuatu yang rapuh, melainkan kepada Allah yang tidak pernah gagal menepati janji-Nya. Hanya Dia yang sungguh mengetahui kebutuhan kita, sanggup memelihara kita, dan berkuasa menyelesaikan pekerjaan keselamatan yang telah dimulai-Nya di dalam kita.
Hanya Allah yang sungguh mengenal kebutuhan kita. Hanya Dia yang sanggup menyediakan apa yang benar-benar kita perlukan. Hanya Dia yang tetap setia ketika segala sesuatu yang lain berubah. Ketika kita menaruh harapan kepada-Nya, kita memiliki pengharapan yang tidak akan mengecewakan, tidak akan pudar, dan tidak akan lenyap. Jadi mengapa kita masih ingin menyerahkan hidup kita kepada sesuatu yang jauh lebih kecil daripada Dia?
Hari ini, berhentilah menggantungkan pengharapan Anda pada apa yang mudah berubah (manusia, kemampuan diri, harta, atau keadaan). Arahkan kembali hati Anda kepada Kristus, satu-satunya Pribadi yang tidak pernah berubah dan tidak pernah gagal memegang janji-Nya. Ketika segala sesuatu di sekitar Anda terasa tidak pasti, ingatlah bahwa Tuhan tetap bekerja untuk kebaikan umat-Nya. Karena Injil, kita tidak hidup dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan pengharapan yang teguh kepada Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita. Oleh sebab itu, percayakanlah seluruh hidup Anda kepada-Nya, sebab hanya Dia yang sanggup menopang Anda hari ini, esok, dan sampai selama-lamanya.
Refleksi
Bacalah Kejadian 3:1–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 146–150