Bukan Pelarian Tapi Pemulihan

The Gospel After Genesis – Week 10 “Bukan Pelarian tapi Pemulihan”

Ps. Erich Huwae

 

Minggu lalu, kita merenungkan sebuah janji yang luar biasa indah: sebuah hari di mana kita akan bersatu sepenuhnya dengan Tuhan dalam perjamuan kawin Anak Domba. Sebuah final union tanpa jarak, tanpa keterpisahan. Namun, ada satu kecenderungan manusiawi yang sering luput dari perhatian kita saat berbicara tentang akhir zaman atau pengharapan kekal.

Sering kali, kita membayangkan masa depan itu sebagai sesuatu yang "jauh di sana" dengan satu tujuan terselubung: keinginan untuk segera keluar dan lepas dari dunia ini. Tanpa sadar, pengharapan yang seharusnya memotivasi kita untuk merindukan proses pemulihan di tengah dunia, perlahan bergeser menjadi sekadar mekanisme pelarian dari kenyataan hidup.

BACAAN: Wahyu 21:1-7

21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. 

21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. 

21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. 

21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." 

21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar." 

21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. 

21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku. 

Dalam salah satu daily devotion di Gibeon App, terdapat sebuah kalimat yang menggugah: “Setiap orang menggantungkan harapannya pada sesuatu, dan apa atau siapa yang menjadi tempat kita berharap, itulah yang menguasai hati kita.” Logikanya sederhana namun tajam: apa yang menguasai hati akan mengendalikan seluruh hidup dan tindakan kita. Jika pusat pengharapan kita masih tertuju pada diri sendiri, maka definisi "kekekalan" kita pun menjadi sangat sempit. Jujur saja, sering kali kita menganggap keselamatan hanyalah sebuah "pintu keluar" darurat.

Saat beban hidup terasa menindas dan melelahkan, kita mulai memoles keinginan kita dengan bahasa rohani:

  • Kita berkata merindukan surga, padahal yang sebenarnya kita rindukan hanyalah hidup tanpa masalah.
  • Kita berseru, “Tuhan, datanglah segera,” padahal yang sebenarnya kita inginkan adalah hidup tanpa pergumulan.
  • Kita bicara soal keabadian, padahal yang kita incar hanyalah hilangnya rasa sakit dan tekanan.

Masalahnya bukan karena kita tidak punya pengharapan, melainkan karena arah pengharapan itu keliru. Kita berharap keadaan segera membaik, penderitaan berhenti, dan tekanan hilang. Namun, ketika kenyataan berkata lain dan kesulitan tetap bertahan, di situlah iman kita mulai goyah dan ketahanan rohani kita menjadi rapuh.

Apa yang kita yakini tentang masa depan akan menentukan bagaimana cara kita melangkah hari ini. Ada dua risiko besar jika kita memiliki cara pandang yang salah tentang masa depan:

1. Pengharapan yang Sempit Menghasilkan Kehidupan yang Rapuh Jika harapan kita hanya sebatas kenyamanan materi, kesehatan yang stabil, atau relasi yang berjalan mulus, maka kita sedang membangun hidup di atas fondasi yang mudah goyah. Karena semua hal itu bisa berubah sewaktu-waktu, maka saat fondasi itu retak, seluruh hidup kita pun ikut hancur.

2. Pengharapan yang Kabur Menghasilkan Kehidupan yang Cemas Banyak dari kita percaya pada Tuhan, tetapi tidak benar-benar tahu ke mana arah hidup ini menuju. Ketidaktahuan ini melahirkan kecemasan dan kepanikan. Kita akhirnya tidak lagi hidup berdasarkan janji firman Tuhan, melainkan hidup berdasarkan berita harian, situasi sekitar, dan ketidakpastian yang mengepung kita.

Melalui kitab Wahyu 21:1-7, Rasul Yohanes mengajak kita untuk tidak sekadar melihat "pintu keluar", melainkan melihat visi yang lebih besar. Kita dipanggil untuk memperluas kapasitas pengharapan kita melalui tiga fondasi utama:

  • Restorasi Dunia yang Ditebus: Memahami bahwa Tuhan sedang mengerjakan pemulihan yang menyeluruh.
  • Panggilan di Tengah Dunia: Menyadari peran kita saat Tuhan menempatkan kita di dunia yang sedang bergerak menuju penebusan tersebut.
  • Kristosentris: Menjadikan Kristus sebagai satu-satunya dasar yang kokoh bagi pengharapan kita.

RESTORASI (Dunia yang Ditebus)

Dalam Wahyu 21:1-2, Yohanes menuliskan penglihatannya tentang langit yang baru dan bumi yang baru. Namun, sering kali kita salah kaprah dalam menerjemahkan kata "baru" tersebut. Mari kita bedah lebih dalam mengapa pemahaman linguistik di sini bisa mengubah cara pandang kita terhadap hidup.

Dalam bahasa Yunani, ada dua kata untuk "baru": Neos dan Kainos.

  • Neos berarti baru secara waktu. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, atau sesuatu yang lama dihancurkan total lalu diganti dengan yang benar-benar lain.
  • Kainos berarti baru secara kualitas. Ini berbicara tentang pembaharuan, pemulihan, atau transformasi. Sesuatu yang sudah ada dipulihkan kembali ke maksud asalnya.

Yohanes menggunakan kata kainos. Artinya, Tuhan tidak sedang berencana membuang dunia ciptaan-Nya ke tempat sampah kosmik untuk menciptakan planet lain yang tidak ada hubungannya dengan kita. Sebaliknya, Ia sedang melakukan karya penebusan yang memperbaharui ciptaan yang telah rusak oleh dosa menjadi pulih sepenuhnya di bawah pemerintahan Kristus.

Ketika teks mengatakan "langit dan bumi yang pertama telah berlalu," yang dimaksud bukanlah kehancuran materi secara total, melainkan berlalu atau berakhirnya tatanan lama—tatanan yang dicemari oleh maut, kutuk, ketidakadilan, dan keterpisahan dengan Allah.

Sama seperti saat kita disebut sebagai "ciptaan baru" (kainos) dalam 2 Korintus 5:17, tubuh fisik kita tidak langsung lenyap dan diganti tubuh orang lain, bukan? Kita tetap orang yang sama, namun ditebus dan dilahirkan kembali secara kualitas. Demikian pula dengan dunia ini.

Untuk memahami ini, kita perlu membedakan dua cara Tuhan bekerja dalam sejarah:

  1. Creatio ex Nihilo: Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (Kejadian 1:1).
  2. Creatio ex Vetere: Allah memperbaharui dari sesuatu yang sudah ada.

Inilah yang ditegaskan oleh tokoh-tokoh seperti John Calvin dan N.T. Wright. Pengharapan Kristen bukanlah penghancuran dunia, melainkan pembaruan dunia. Penebusan Kristus yang sempurna tidak hanya memulihkan relasi kita dengan Tuhan secara pribadi, tetapi juga memulihkan empat dimensi relasi yang rusak akibat dosa:

  • Relasi manusia dengan Allah.
  • Relasi manusia dengan sesama.
  • Relasi manusia dengan diri sendiri.
  • Relasi manusia dengan semesta/alam.

Sebagaimana dinyatakan dalam New City Catechism, kematian Kristus adalah awal dari pembaharuan seluruh dunia ciptaan. Langit dan bumi baru bukanlah "Rencana B" setelah manusia jatuh dalam dosa, melainkan rancangan agung yang absolut sejak semula.

Memahami bahwa dunia ini berharga dan akan dipulihkan seharusnya mengubah cara kita hidup hari ini. Biasanya, tanpa pemahaman ini, manusia terjatuh pada dua reaksi ekstrem:

  • Ekstrem Pertama: Terlalu Melekat pada Dunia (Pemujaan) Mereka yang merasa dunia ini adalah tujuan akhir hidup. Slogannya: "Hidup cuma sekali, hajar habis-habisan." Mereka mencari validitas dari pekerjaan, keamanan dari uang, dan sukacita dari kesenangan duniawi. Dampaknya? Saat dunia ini berguncang, hidup mereka ikut runtuh karena fondasi mereka adalah sesuatu yang belum sempurna.
  • Ekstrem Kedua: Ingin Cepat Pergi (Pelarian) Karena lelah dengan luka dan penderitaan, sebagian orang menjadi apatis. Mereka melihat kekristenan hanya sebagai "tiket keluar" dari dunia yang rusak. Pekerjaan, masyarakat, dan pelestarian alam dianggap tidak penting karena "semuanya toh akan hancur."

Injil tidak mengajarkan kita untuk menyembah dunia, namun juga tidak membolehkan kita membencinya. Injil memanggil kita untuk hidup setia di dunia yang sedang dipulihkan ini. Tuhan tidak membawa kita keluar dari dunia; Ia memulihkan kita bersama-sama dengan dunia ini. Bayangkan sebuah dunia tanpa rasa malu, tanpa luka dalam relasi, tanpa ancaman kematian, dan tanpa kecemasan. Itulah yang sedang Tuhan siapkan dan pembaharuannya dimulai dari cara kita memandang dunia saat ini.

PARTISIPASI (Panggilan Kita)

Dalam Wahyu 21:2, Yohanes mencatat penglihatan tentang Yerusalem Baru yang "turun" dari surga. Ada dua kata kunci yang sangat krusial di sini: "turun" dan "kota."

  • "Turun": Ini menunjukkan arah gerak teologis yang revolusioner. Keselamatan bukan tentang manusia yang berusaha "naik" untuk melarikan diri dari bumi, melainkan tentang Allah yang berinisiatif "turun" menghampiri ciptaan-Nya. Injil bukan cerita tentang pelarian, tapi tentang kehadiran Allah yang berdiam bersama manusia.
  • "Kota": Ini adalah simbol komunitas. Pemulihan Tuhan tidak hanya bersifat individual (aku dan Tuhanku), tetapi komunal. Tuhan sedang membangun sebuah tatanan masyarakat baru yang dipulihkan.

Jika kita masih menganggap dunia ini hanyalah "tempat transit" atau halte bus yang membosankan menuju surga, maka hidup kita sekarang akan terasa hampa. Pekerjaan hanya akan menjadi beban untuk bertahan hidup, dan penderitaan akan terasa sia-sia. Namun, jika Tuhan sedang memulihkan dunia ini, maka setiap detik yang kita jalani sekarang memiliki nilai kekekalan.

Jika Allah sedang memperbaharui segala sesuatu, maka panggilan kita bukan untuk lari, melainkan untuk setia. Pengharapan ini mengubah cara kita memandang aktivitas harian kita:

  1. Dalam Pekerjaan: Kita bekerja bukan lagi sekadar mencari validitas, kehormatan, atau sekadar menyambung hidup. Kita bekerja untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kejujuran dan tanggung jawab di kantor—sekecil apa pun itu—adalah bentuk partisipasi kita dalam pemulihan tatanan dunia yang sedang Tuhan kerjakan.
  2. Dalam Relasi: Mengampuni dan memperbaiki hubungan yang retak memang sulit. Namun, karena Allah tidak menyerah memulihkan relasi-Nya dengan kita, kita pun dipanggil untuk tidak mudah menyerah (cut off) pada orang lain. Kita belajar menghadirkan "ruang pemulihan" di tengah dunia yang penuh luka.
  3. Dalam Penderitaan: Pengharapan tidak membuat kita kebal terhadap rasa sakit. Kita tetap bisa menangis dan merasa lelah. Namun, kita tidak menyerah karena kita tahu bahwa air mata dan penderitaan bukanlah akhir dari cerita kita.

Mengapa perspektif tentang masa depan begitu menentukan hidup kita hari ini? Bayangkan dua orang narapidana di penjara yang sama, mengalami tekanan yang identik.

Narapidana pertama mendapat kabar bahwa seluruh keluarganya telah tiada. Tidak ada lagi yang menunggunya di luar. Perlahan, ia kehilangan arah dan menyerah pada keputusasaan.

Narapidana kedua menerima surat dari anak dan istrinya yang menulis, "Kapan Papa pulang? Kami menantimu." Meski ia masih berada di sel yang sama gelapnya dengan narapidana pertama, ia memiliki kekuatan untuk bertahan. Ia memiliki masa depan yang menantinya.

Situasi mereka sama, tetapi apa yang mereka percayai tentang masa depan mengubah cara mereka merespons penderitaan saat ini. Inilah yang dilakukan Injil bagi kita. Kita mungkin masih menghadapi tekanan yang sama dengan dunia, tetapi kita memiliki kepastian masa depan yang membuat kita mampu berdiri tegak.

Tentu saja, kita harus jujur pada realita. Kita hidup dalam ketegangan antara "Sudah" dan "Belum" (ALREADY BUT NOT YET)

  • Sudah: Kristus sudah bangkit, Roh Kudus sudah dicurahkan, dan pemulihan itu sudah dimulai.
  • Belum: Dosa masih ada, air mata masih mengalir, dan kematian masih terasa menyakitkan.

Kita sudah mencicipi pemulihan itu, namun belum menikmatinya secara utuh. Yang membedakan orang percaya bukanlah absennya pergumulan, melainkan fakta bahwa kita tidak pernah berjalan tanpa pengharapan.

Namun, jika dunia memang belum pulih sepenuhnya dan penderitaan masih begitu nyata di depan mata, muncul satu pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya menjadi dasar kokoh bagi pengharapan kita sehingga kesetiaan kita tidak menjadi sia-sia?

KRISTOSENTRIS (Dasar Pengharapan Kita)

Sering kali kita merasa bahwa masalah terbesar dalam hidup adalah dunia yang rusak. Kita mengeluh tentang rekan kerja yang hobi "menusuk dari belakang", sistem yang tidak adil, atau pasangan yang kalau bicara "tidak pakai spasi, titik, atau koma." Kita merasa terjebak di tempat yang salah.

Namun, jika kita jujur melakukan diagnosa hati, kita akan menyadari sebuah kenyataan yang lebih pahit: kerusakan itu juga ada di dalam diri kita.

  • Kita mengasihi Tuhan, tapi tetap mencari rasa aman pada saldo tabungan.
  • Kita percaya pada janji-Nya, tapi tetap panik saat keadaan tidak sesuai rencana.
  • Motivasi kita sering kali bercampur antara ketulusan dan keinginan untuk dihargai.

Pertanyaannya kemudian: Bagaimana mungkin manusia yang juga "rusak" ini bisa masuk ke dalam dunia yang dipulihkan? Di sinilah Wahyu 21:5-7 memberikan jawabannya melalui sebuah gelar yang agung: Alfa dan Omega.

Dasar pengharapan kita bukan terletak pada kemampuan kita untuk tetap setia, melainkan pada kesetiaan Kristus yang tidak pernah gagal. Sebagai Alfa (awal) dan Omega (akhir), Kristus adalah sumber, pengendali, dan tujuan akhir dari sejarah.

Pengharapan Kristen bukan sebuah optimisme kosong atau utopia belaka. Akhir cerita kita tidak ditentukan oleh seberapa kacau dunia hari ini, melainkan oleh Dia yang memegang awal dan akhir. Seperti yang dikatakan William Hendriksen, sejarah tidak berjalan secara acak; ia sedang bergerak menuju pemulihan yang sudah dijamin oleh-Nya.

Ada satu kontras yang sangat menyentuh dalam teologi ini. Pribadi yang berkata, "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru," adalah Pribadi yang sama yang pernah berteriak di atas kayu salib, "Aku haus."

Timothy Keller memberikan wawasan yang mendalam: di atas salib, Yesus mengalami "keputusasaan kosmis". Dia kehilangan segalanya, bahkan wajah Bapa supaya kita tidak perlu mengalaminya. Di Kalvari, Ia merasa haus agar kita bisa minum. Di Wahyu 21, Ia menawarkan mata air kehidupan secara cuma-cuma.

Pemulihan dunia ini bukanlah pengharapan yang "murah." Ia dibayar mahal dengan darah. Kristus masuk ke dalam luka dunia lebih dalam daripada siapa pun, sehingga ketika kita sekarang bergumul dengan air mata dan rasa sakit, kita tahu kita sedang mengikuti Tuhan yang sangat memahami penderitaan kita.

Kita memang masih hidup dalam masa already but not yet. Sudah, Kristus sudah bangkit dan pemulihan sudah dimulai. Belum, Air mata masih ada, relasi masih bisa retak, dan tubuh masih bisa lelah.

Namun, pengharapan kita tidak dibangun di atas keadaan yang selalu baik, melainkan di atas Kristus yang sudah menang. Keberadaan kita di dunia ini bukan lagi sebuah pelarian, melainkan sebuah misi kesetiaan.

Apa pun yang hari ini terasa berantakan atau belum selesai dalam hidupmu (baik itu pergumulan ekonomi, kesehatan, maupun hati yang mulai dingin) ketahuilah bahwa itu bukan akhir dari ceritamu. Sang Alfa dan Omega sedang bekerja, dan Ia tidak akan berhenti sampai segala sesuatu dijadikan-Nya baru secara sempurna.

Jangan menyerah. Tetaplah setia. Bukan karena hidup ini mudah, tetapi karena Dia yang memegang hari esok tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari hidupmu.

PERTANYAAN REFLEKTIF

  1. Apakah selama ini saya benar benar menantikan pemulihan Allah, atau sebenarnya hanya ingin melarikan diri dari dunia dan pergumulan hidup saya?
  2. Di area mana saya paling sulit hidup setia saat ini, pekerjaan, relasi, atau penderitaan, dan apa yang mengungkapkan tentang dasar pengharapan saya?
  3. Ketika keadaan hidup belum berubah, apakah saya tetap percaya bahwa Kristus sebagai Alfa dan Omega sedang bekerja memulihkan saya?

GOSPEL PEOPLE

Tidak lagi hidup dari rasa takut terhadap masa depan, tetapi dari keyakinan bahwa Kristus sedang dan akan menyempurnakan pemulihan Nya.

Tidak dipanggil untuk kabur dari dunia, tetapi untuk berpartisipasi setia dalam karya pembaruan Allah di tengah dunia yang belum sempurna.

Dapat bertahan di tengah penderitaan bukan karena hidup selalu membaik, tetapi karena Kristus telah mengalahkan keputusasaan dan menjamin akhir cerita kita.