Dua Kota. Dua Lensa

Reading The Times Through The Lens of Genesis – Week 9 “Dua Kota Dua Lensa”

Ps. Michael Chrisdion

 

Akhir akhir ini ketika melihat perang antarbangsa yang sedang terjadi, Kejadian 4 sebenarnya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Masalah terbesar manusia bukanlah perang antarnegara. Masalah terbesar manusia dimulai dari perang yang ada di dalam hatinya sendiri. Itulah sebabnya hari ini kita akan melihat dua kota dan dua lensa. Setelah Kain membunuh, ia membangun sebuah kota. Seakan akan ada dua kota yang berdiri, satu yang Tuhan bangun dan satu yang Kain bangun. Satu yang dunia sedang bangun dan satu yang Tuhan ingin bangun melalui gereja Nya. Itu berarti ada dua cara pandang. Ada lensa yang menempatkan diri sendiri sebagai pusat, dan ada lensa yang menjadikan Tuhan sebagai pusat. Tanpa sadar, bisa jadi kita sedang hidup dalam lensa yang sejak awal melahirkan peperangan, dan semuanya selalu berawal dari hati.

BACAAN: Kejadian 4:10-16, 19-26

4:10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 

4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 

4:12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." 

4:13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 

4:14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku." 

4:15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 

4:16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. 

4:19 Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila. 

4:20 Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. 

4:21 Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. 

4:22 Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama. 

4:23 Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; 

4:24 sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat." 

4:25 Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya." 

4:26 Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN.

Hari ini kita menutup rangkaian seri khotbah ini, kita sudah delapan minggu belajar tentang siapa manusia itu. Mengapa dunia menjadi retak karena manusia jatuh dalam dosa. Mengapa relasi manusia rusak. Mengapa rasa malu dan takut muncul sehingga manusia bersembunyi. Dan apa yang terjadi ketika manusia tidak bertobat. Sejak Kejadian 4 terlihat ada dua kota dan dua lensa. Sejak saat itu sudah ada perang paradigma, perang cara pandang, perang worldview. Worldview adalah cara kita melihat kehidupan. Sejak awal sejarah selalu ada peperangan antara apa yang dunia mau bangun dan apa yang Tuhan ingin bangun.

Zaman ini terobsesi membangun nama. Orang bekerja, datang ke kota besar, mencari identitas dan pengakuan. Kota modern menjadi mesin pembuat nama. Sejak Kejadian 4 ada kota yang berkata, bangun namamu sendiri. Kota ini berdiri di atas kuasa. Kuasa dianggap jalan menuju keberhasilan dan kemajuan, tetapi juga melahirkan kecemasan karena kuasa harus terus dipertahankan.

Sebaliknya ada kota yang berkata, hiduplah untuk Tuhan. Kota ini dibangun di atas anugerah yang mendorong pelayanan, pengorbanan, dan damai. Dua lensa ini selalu hadir. Pertanyaannya, lensa mana yang membentuk hati? Seseorang bisa saja melayani, tetapi jika pusatnya diri sendiri, ia sedang membangun kota yang salah.

Pertama, kita melihat kehancuran Kain yang mengeluh tanpa bertobat, lalu membangun kota. Apa yang terjadi ketika kota dibangun tanpa pertobatan? Kedua, lahirlah budaya kematian yang nyata di sekitar kita. Namun Tuhan menyediakan solusi: kota anugerah yang akan datang. 

          1. KEHANCURAN KAIN

Pertama kita belajar tentang kehancuran Kain. Minggu lalu sudah dilihat bagaimana Tuhan menegur Kain. “Kain, di mana adikmu?” Pertanyaan itu bukan karena Tuhan tidak tahu, melainkan karena Tuhan memberi ruang bagi Kain untuk berproses. Namun jawabannya dingin dan sinis, “Aku tidak tahu. Apakah aku penjaga adikku?” Tidak ada empati. Jika dibandingkan dengan Adam, ketika ditegur masih ada rasa malu dan rasa bersalah. Pada Kain, itu hampir tidak terlihat lagi.

Lalu Tuhan berkata bahwa darah Habel berteriak dari tanah. Secara logika, orang mungkin mengira Tuhan akan langsung menghukum mati Kain. Namun yang terjadi tidak demikian. Tuhan memang memberikan hukuman, tetapi tidak membinasakan. Mengapa? Karena Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat. Sampai hari ini pun, ketika manusia berdosa, Tuhan memberi ruang untuk bertobat. Pertanyaannya, apakah Kain memakainya?

Ayat 13 mencatat Kain berbicara kepada Tuhan. Berbicara kepada Tuhan belum tentu berarti bertobat. Ia berkata, “Hukumanku itu lebih besar daripada yang dapat kutanggung.” Dalam bahasa Inggris, my punishment is more than I can bear. Kain tampak berduka, bersedih, dan mengeluh. Namun perhatikan isi keluhannya. Ia tidak pernah berkata, “Tuhan, aku berdosa. Ampuni aku karena aku telah membunuh adikku.” Tidak ada pengakuan seperti itu. Yang ada hanyalah komplain tentang beratnya hukuman. Ia menyesal karena konsekuensi dosa, bukan karena dosanya terhadap Tuhan dan Habel. Inilah kesedihan yang menyimpang. Ia sedih karena dampak dosa, bukan karena hatinya hancur di hadapan Tuhan.

Ada perbedaan antara menyesal dan bertobat. Rasul Paulus menulis dalam 2 Korintus 7:10 bahwa dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan. Tetapi dukacita yang dari dunia menghasilkan kematian. Ternyata ada dua jenis dukacita dengan dua arah yang berbeda. Satu menyelamatkan, satu membawa kematian.

Orang yang hanya menyesal berpusat pada diri sendiri. Ia menyesal karena ketahuan. Ia sedih karena citranya rusak dan konsekuensi menimpanya. Fokusnya pada diri dan dampaknya, bukan pada relasinya dengan Tuhan. Banyak orang menangis, tetapi tangisannya hanya karena efek dosa yang merugikan dirinya. Itu bukan pertobatan. Pertobatan sejati berpusat pada Tuhan yang dilanggar. “Tuhan, ampuni aku. Aku berdosa kepada Mu.” Hatinya ingin dipulihkan dan relasinya diperdamaikan kembali.

Tangisan bisa terlihat sama, tetapi arahnya berbeda. Yang satu menangis karena kehilangan reputasi, takut dipandang buruk, khawatir pada masa depan, pada investasi, pada pelayanan, pada pendapat orang lain. Bahkan ada yang ketika dosanya terbongkar, bukan bertobat melainkan bernegosiasi agar dampaknya bisa diperkecil. Ia defensif, mencari pembenaran, menyalahkan pasangan, rekan kerja, keadaan. Ia bermain sebagai korban dan hanya meratapi akibat dosa. Itulah tangisan yang egois.

Pola ini tidak hanya terlihat pada Kain. Ingat kisah Esau dan Yakub, anak dari Ishak. Esau menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup. Yakub menipu ayahnya. Ketika semuanya terungkap, Esau menangis. Namun tangisannya bukan karena pertobatan, melainkan karena kehilangan berkat. Ia menyesal, tetapi tidak berbalik.

Hal yang sama terlihat pada Raja Saul. Ia membangkang dan tidak taat kepada Tuhan. Ketika ditegur dan akhirnya kehilangan kerajaan, ia juga menangis. Namun tangisannya lebih karena takut kehilangan posisi dan kuasa daripada hati yang hancur di hadapan Tuhan.

Yang paling mengerikan bukan hanya dosa itu sendiri, melainkan hati yang menolak untuk bertobat. Hati yang terus menolak akan menjadi keras sedikit demi sedikit. Kegelapan makin gelap. Dosa mengeraskan hati secara perlahan tetapi pasti. Inilah lensa dosa, lensa Kain, yang selalu menaruh diri sebagai pusat. Seseorang bisa tetap berdoa, tetap beribadah, bahkan melayani, tetapi pusatnya tetap diri sendiri.

Konsep ini pernah dijelaskan oleh Martin Luther dalam kuliahnya tentang Roma dengan istilah homo incurvatus in se, hati yang melengkung ke dalam dirinya sendiri. Hati manusia begitu terpusat pada diri sehingga bahkan ketika mencari Tuhan pun sering kali demi kepentingannya sendiri. Dalam relasi, dalam pekerjaan, dalam pelayanan, pertanyaannya selalu sama, apa untungnya untuk aku. Ketika hidup tidak berjalan lancar, padahal sudah merasa setia beribadah dan melayani, lalu marah kepada Tuhan, itu tanda hati masih melengkung pada diri sendiri.

Pertobatan sejati seharusnya mengeluarkan diri dari pusat dan menempatkan Tuhan kembali sebagai pusat. Ketika dosa tersingkap dan ditegur, seharusnya responnya adalah pengakuan, “Ya Tuhan, aku salah. Aku telah melukai Engkau dan orang lain.” Namun banyak yang menangis dengan arah yang salah. Tangisannya tetap terobsesi pada citra diri dan pendapat orang.

Kain memperlihatkan pola itu. Ia menangis, tetapi tidak bertobat. Pertanyaannya, seperti apa hati kita? Apakah memiliki hati yang bertobat atau hanya hati yang menyesal?

Selanjutnya akan dilihat apa yang terjadi ketika orang seperti Kain, yang tidak bertobat, membangun kota. Hati yang tidak bertobat akan mendirikan sistem. Jika manusia yang hatinya melengkung pada dirinya sendiri membangun budaya, seperti apa budaya yang akan lahir darinya.

          2. BUDAYA KEMATIAN

Kejadian 4 tidak berhenti pada pribadi Kain. Teks ini membawa kita kepada sebuah kota. Pada ayat 17 bagian b dikatakan bahwa Kain mendirikan suatu kota. Inilah pertama kalinya kata kota muncul dalam Alkitab. Kain yang rusak dan tidak bertobat membangun kota, dan keturunannya membentuk budaya.

Dalam dunia kuno, kota sebenarnya adalah sesuatu yang baik. Kota menjadi tempat perlindungan dan keamanan. Di dalamnya ada hukum yang ditegakkan, ada aturan, ada pengadilan. Jika terjadi konflik, ada mekanisme penyelesaiannya. Secara ekonomi, di luar kota hidup bisa liar dan keras, setiap orang berjuang sendiri. Namun di kota muncul spesialisasi. Ada yang ahli membuat alat, ada yang membuat palu, pisau, senjata. Ada yang mengembangkan pangan, ada yang memproduksi pakaian. Lahirlah pasar, pertukaran barang dan jasa, inovasi baru. Kota menjadi mesin budaya.

Sebenarnya ini selaras dengan mandat Allah. Dalam Kejadian 2 manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memeliharanya. Paradigma dasarnya adalah mengolah taman. Berkebun menjadi pola dasar dari pekerjaan dan pembentukan budaya. Taman tidak dibiarkan liar, tetapi juga tidak dirusak. Ada kreativitas, pengelolaan, arah, dan desain. Budaya pada dasarnya adalah mengembangkan potensi ciptaan. Seharusnya budaya menjadi life through service, kehidupan melalui pelayanan. Hidup untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan bersama.

Keturunan Kain juga membentuk peradaban. Muncul peternakan, musik dengan kecapi dan suling, teknologi alat dari tembaga dan besi. Para penafsir Alkitab melihat bahwa meskipun mereka jatuh dalam dosa, tetap ada percikan gambar Allah. Manusia berdosa tetap kreatif, masih mencerminkan Sang Pencipta.

Namun disinilah pergeserannya. Dari Taman Eden yang berbudaya kehidupan dengan pola pelayanan, kota Kain bergerak ke arah lain. Jika di taman kuasa dipakai untuk mengelola dan memberkati, di kota Kain kuasa dipakai untuk menguasai. Jika diberi kuasa, ia mengeksploitasi. Jika diberi posisi, ia menindas dan memanipulasi. Di situlah lahir budaya kematian. Hidup orang lain dipakai untuk melayani diri sendiri.

Ada dua tanda budaya kematian yang terlihat jelas dalam teks, yaitu penindasan dan kekerasan.

Pertama, penindasan. Kejadian 4:19 mencatat bahwa Lamekh mengambil dua istri. Inilah pertama kali poligami disebut dalam Alkitab. Jika kembali ke Kejadian 2:24, desain awal pernikahan adalah satu laki laki dan satu perempuan menjadi satu daging. Tuhan tidak menciptakan beberapa Hawa untuk satu Adam. Namun Lamekh merusak desain itu. Ia mengambil dua perempuan untuk melayani dirinya, demi kepuasan dan kepentingannya.

Memang ada tokoh tokoh Perjanjian Lama yang berpoligami seperti Abraham, Yakub, bahkan Salomo. Namun penting memahami cara membaca teks. Robert Alter dalam bukunya The Five Books of Moses menjelaskan bahwa meskipun poligami tidak selalu dikutuk secara eksplisit melalui hukum dalam kitab Kejadian, narasinya secara konsisten menunjukkan konflik dan bencana relasional yang ditimbulkannya. Alkitab bersifat deskriptif dalam menceritakan peristiwa, tetapi itu tidak berarti preskriptif atau memberi persetujuan. Narasi itu jujur, dan justru memperlihatkan dampak destruktifnya, terutama bagi perempuan. Relasi yang seharusnya mencerminkan kemuliaan Tuhan dipelintir menjadi alat dominasi dan manipulasi. Itulah penindasan.

Kedua, kekerasan dan kekejaman. Dalam nyanyian Lamekh di Kejadian 4:23, ia berkata telah membunuh seorang laki laki karena melukainya dan membunuh seorang muda karena memukulnya sampai bengkak. Luka yang digambarkan sebenarnya ringan, sekadar memar. Namun balasannya adalah pembunuhan. Bahkan yang melukai digambarkan sebagai seorang muda, kemungkinan remaja. Lamekh bukan hanya melakukan kekerasan, ia membanggakannya. Ia memproklamasikan identitasnya melalui kekerasan.

Lalu ia berkata, jika Kain dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. Angka tujuh melambangkan kesempurnaan. Ungkapan tujuh puluh tujuh kali berarti tanpa batas. Ia menyatakan bahwa jika dilukai, ia akan membalas tanpa akhir. Ia tidak akan mengampuni, tidak akan meredakan amarah, dan akan memelihara dendam.

Inilah logika dosa yang anti Injil. Dendam menjadi identitas. Kekerasan menjadi kebanggaan. Kuasa dianggap sebagai sumber keamanan. Dari budaya kehidupan yang berorientasi pada pelayanan, bergeser menjadi death through power, kematian melalui kuasa. Kreativitas dipakai untuk membangun nama. Dominasi menjadi supremasi.

Sebenarnya masalah utamanya bukan pada kotanya, melainkan pada hati dan lensa yang dipakai. Kota menjadi ruang di mana identitas diuji, kompetisi diperketat, dan cara pandang dipertemukan. Bagi orang percaya, kota adalah arena pertempuran antara dua lensa, lensa pembuktian diri dan lensa anugerah.

Bayangkan seorang pengusaha yang bisnisnya berkembang dan mulai masuk ke jaringan yang lebih besar. Ia bertemu pebisnis dengan valuasi jauh lebih besar dan cabang ratusan. Ia bisa memakai lensa pembuktian diri, merasa terancam, lalu terdorong untuk membuktikan diri dengan segala cara, bahkan mungkin menghalalkan cara agar tidak kalah. Atau ia memakai lensa anugerah, menyadari bahwa pertumbuhan selama ini adalah anugerah Tuhan, lalu berfokus melayani pelanggannya dengan setia dan kreatif tanpa didorong oleh rasa tidak aman.

Hal serupa bisa terjadi dalam pelayanan. Seseorang yang merasa hebat di lingkup kecil lalu melihat standar yang lebih tinggi di tempat lain. Ia bisa terdorong untuk meningkatkan diri demi pembuktian dan gengsi rohani, atau ia bisa bertumbuh demi melayani Tuhan dengan lebih baik. Garisnya sangat tipis. Aktivitasnya bisa sama, tetapi motivasi hatinya berbeda.

Di jantung setiap manusia selalu ada pertarungan. Hidupku untuk melayani Tuhan dan sesama, atau hidup orang lain untuk melayani aku. Budaya kehidupan atau budaya kematian. Lensa mana yang sedang membentuk hati hari ini.

          3. KOTA ANUGERAH YANG AKAN DATANG

Hampir semua orang datang ke kota besar dengan harapan yang mirip: ingin menjadi seseorang. Entah itu lewat karier, jabatan, pencapaian, atau pengakuan. Kota menjadi tempat membangun nama dan identitas. Namun di Kejadian 4:26 muncul garis yang berbeda, yaitu keturunan Set. Di sana tertulis bahwa orang mulai memanggil nama Tuhan. Ini kontras yang sangat kuat. Bukan lagi membesarkan nama sendiri, melainkan berseru kepada nama Tuhan.

Di sini terlihat dua fondasi yang berbeda. Kota Kain dibangun di atas kuasa, ambisi, dan dorongan untuk mengukuhkan diri. Garis keturunan Set dibangun di atas anugerah dan penyembahan. Satu berorientasi pada reputasi pribadi, yang lain berorientasi pada kemuliaan Tuhan. Sejak awal sejarah manusia, dua arus ini berjalan berdampingan.

Garis keturunan Set tidak berhenti pada satu generasi. Dalam Kejadian 12, Allah memanggil Abraham untuk membentuk satu umat yang menjadi kerajaan imam, masyarakat alternatif di tengah bangsa bangsa. Mereka dipanggil untuk merepresentasikan Allah. Walau Israel sering gagal, rencana Allah tidak batal. Dalam Yesus, Allah sendiri datang dan membentuk komunitas baru. Ia tidak mendirikan kota secara fisik, tetapi membangun gereja sebagai umat perjanjian yang baru.

Ketika Yesus berkata bahwa murid muridNya adalah terang dunia dan kota di atas gunung, Ia sedang berbicara tentang identitas dan orientasi. Kota ini tidak berbeda secara geografis, tetapi berbeda secara hati. Di tengah dunia yang sama, ada komunitas yang hidup untuk diri dan kuasa, dan ada komunitas yang hidup untuk Tuhan dan pelayanan.

Kita bisa bekerja di kantor yang sama, tinggal di lingkungan yang sama, bahkan berada dalam percakapan yang sama. Namun arah hidupnya bisa sangat berbeda. Dalam logika kota Kain, relasi dipakai untuk keuntungan pribadi, kerja menjadi alat membangun nama, dan kuasa dipakai untuk mengontrol. Dalam Kristus, relasi menjadi sarana melayani, kerja menjadi bentuk ibadah, dan kuasa dipakai untuk memberkati. Tujuannya bukan agar diri dipuji, melainkan agar Tuhan dimuliakan.

Apakah mudah. Tentu tidak. Akan ada kesalahpahaman karena lensa yang dipakai adalah lensa anugerah, sedangkan dunia hanya mengenal lensa kuasa, lensa Kain yang menaruh diri sebagai pusat. Dalam 1 Petrus 2:12, Petrus menuliskan agar hidup yang baik dijalani di tengah bangsa bangsa lain, supaya ketika difitnah sebagai orang durjana, mereka melihat perbuatan baik itu dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Petrus menggemakan perkataan Yesus. Jika hidup dengan lensa anugerah, kesalahpahaman bahkan fitnah akan terjadi. Yesus sendiri disalahpahami. Dunia tidak mengerti logika anugerah karena ia terbiasa dengan logika kuasa dan dosa.

Bagaimana agar tidak tersedot budaya kuasa dan ambisi. Jawabannya adalah memandang kepada Yesus. Lamekh pernah berkata bahwa jika seseorang melukainya, ia akan membalas tujuh puluh tujuh kali, balas dendam tanpa akhir, kemarahan yang tidak pernah reda. Ketika murid murid bertanya kepada Yesus berapa kali harus mengampuni, Ia menjawab bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Angka sempurna yang menunjuk pada pengampunan tanpa batas. Hak untuk marah ada, tetapi Ia menolak memelihara kemarahan selamanya dan justru memberi kasih karunia.

Dalam kisah Kain terdapat tiga ketakutan. Ia menjadi pelarian dan pengembara, kehilangan rumah. Ia takut kehilangan hadirat Tuhan. Ia juga takut dibunuh. Kutuk dosa yang tampak pada Kain itu ditanggung oleh Kristus. Jika Kain takut mengembara, dalam Matius 8:20 Yesus berkata bahwa rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya. Jika Kain takut kehilangan hadirat Allah, di kayu salib Yesus berseru, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Pribadi kedua dari Tritunggal mengalami keterpisahan. Jika Kain takut dibunuh, Yesus ditangkap di Getsemani, diadili, dan disalibkan di Golgota.

Tanda Kain tidak diketahui bentuknya, tetapi di dalam Kristus ada tanda anugerah. Jika Injil masuk ke dalam hati, lensa akan berubah. Tidak perlu lagi mencari nama bagi diri sendiri. Menjadi warga kota Allah adalah karena kasih karunia. Yesus kehilangan hadirat Bapa supaya umatNya tidak pernah kehilangan hadirat Tuhan. Kerja tidak lagi menjadi identitas atau altar penyembahan karena nama Tuhan menjadi nama kita. Identitas diterima bukan berdasarkan performa pribadi, melainkan performa Kristus. Uang tidak lagi menjadi berhala, melainkan alat. Kuasa dan jabatan menjadi sarana untuk melayani.

Alkitab dimulai di taman dan berakhir di kota. Pertanyaannya adalah kota mana yang sedang dibangun dengan hidup ini dan lensa mana yang membentuk hati. Beberapa bulan lalu, setelah khotbah tentang menghadapi dunia dengan keyakinan Injil, seorang jemaat menyadari bahwa ia hidup seolah Injil tidak cukup. Di gereja ia percaya Injil, tetapi di kantor ia takut kalah, takut tertinggal, takut tidak naik posisi, ingin diakui dan membuktikan diri. Cara pandangnya seperti dunia. Diskusi tentang Injil menjadi kalibrasi lensa, karena peperangan itu nyata. Lensa kuasa dan budaya kematian selalu berusaha menggeser lensa Injil dan budaya anugerah.

Di kayu salib, Kristus kehilangan namaNya supaya nama umatNya aman. Kabar baik Injil membebaskan dari kebutuhan membangun nama sendiri dan dari kelelahan karena beban pembuktian diri. Ada nama di atas segala nama, Yesus Kristus. 

PERTANYAAN REFLEKTIF

• Dalam area hidup mana saya sedang membangun nama saya sendiri dan bukan hidup untuk Nama Tuhan? (pekerjaan, pelayanan, keluarga, dll)

• Ketika ditegur atau saat dosa terekspos, apakah respons pertama saya defensif atau pertobatan?

• Jika orang melihat hidup saya di kota ini, apakah mereka melihat budaya kuasa (ego) atau budaya pelayanan (Anugerah)?

ORANG BERINJIL

Tidak lagi terobsesi membangun nama, justru karena namanya sudah aman di dalam Kristus.

Bekerja dengan excellence tanpa diperbudak ambisi, karena kerja adalah pelayanan, bukan pembuktian diri.

Berani tinggal di kota yang penuh tekanan, tanpa tersedot budaya kuasa, karena hidup dari lensa anugerah untuk memuliakan Tuhan.