Trusting in Christ in Life and Death

Youth Sermon

✨ Trusting in Christ in Life and Death ✨

📖 Ayat Bacaan: Kisah Para Rasul 6:8–10; 7:51–60

📝 Ringkasan Khotbah:

Hidup kita bukan cerita yang berdiri sendiri. Kita sedang ada dalam “series” besar Allah, rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kita hidup di antara penebusan Kristus dan kedatangan-Nya kembali, sebuah “episode misi” di mana kita dipanggil untuk menyatakan Injil. Seperti Stefanus, kita dipanggil untuk setia, bahkan di tengah tekanan, karena Roh Kudus yang menguatkan kita.

Stefanus berani karena ia bukan hanya tahu Injil, tetapi telah jatuh hati pada Injil. Injil bukan sekadar informasi, tetapi kabar yang mengubahkan hidup. Ketika hati kita benar-benar ditangkap oleh kasih Kristus, kita tidak bisa menyimpannya sendiri. Keberanian itu bukan dari diri kita, melainkan dari Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.

🤔 Pertanyaan Reflektif:

1. Apa yang membuat saya sulit menyatakan Injil kepada orang lain?

(Tips Respons 💡: Bantu anak Anda jujur melihat ketakutan atau hambatan, lalu arahkan bahwa Roh Kudus adalah sumber keberanian.)

2. Apakah saya pernah menyatakan Injil? Jika belum, kepada siapa saya mau mulai menyatakannya?

(Tips Respons 💡: Dorong anak Anda mulai dari langkah sederhana—menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang terdekat.)

✝ GOSPEL CONNECTION:

Seperti Stefanus, Yesus juga difitnah, diadili secara tidak adil, dan ditolak. Namun di kayu salib, Yesus menanggung murka Allah yang seharusnya kita terima, “batu-batu” dosa kita jatuh ke atas-Nya, supaya kita diselamatkan. Injil bukan tentang bagaimana kita mati seperti Stefanus, tetapi tentang bagaimana Yesus telah mati bagi kita supaya kita benar-benar hidup. Kini Ia berdiri sebagai Pembela kita, memberi kita keberanian untuk hidup dan bersaksi bagi-Nya.

🙌🏼 Sebagai Gospel People, kita…

1. Jatuh hati pada Injil dan rindu membagikannya kepada orang lain.

2. Bergantung penuh pada Roh Kudus dalam menyatakan Injil