ALLAH MEMAKAI PENDERITAAN TUK MEMBENTUK KITA
YESAYA 44–48

 

Allah sering memakai hal-hal yang paling sulit dalam hidup untuk menghasilkan hal-hal yang baik melalui diri kita.

 

Kita semua menyukai hidup yang nyaman. Jika diberi pilihan, tentu kita akan lebih memilih tubuh yang sehat, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang stabil, keuangan yang cukup, dan masa depan yang dapat diprediksi. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana, dijauhkan dari orang-orang yang menyulitkan, terhindar dari rasa sakit, kegagalan, dan kecemasan. 

 

Keinginan-keinginan itu sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Namun, ketika kerinduan akan kenyamanan menjadi yang terutama di hati kita dan berubah menjadi tujuan hidup kita, saat itulah kita akan berjalan berlawanan dengan kehendak Tuhan. Sering kali Allah mengizinkan kenyamanan kita terganggu untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik, yaitu karakter yang semakin serupa dengan Kristus. 

 

Alkitab mengajarkan bahwa karya keselamatan Allah tidak berhenti ketika kita diampuni. Memang benar, melalui iman kepada Kristus kita telah dibenarkan di hadapan Allah. Namun, Bapa terus menguduskan anak-anak-Nya agar hidup mereka semakin mencerminkan kekudusan Kristus. Proses inilah yang sering kali melibatkan penderitaan, kesulitan, dan pencobaan. Penting untuk kita ingat bahwa pengajaran tentang anugerah Allah yang memurnikan dan mengubahkan bukan hanya terdapat dalam Perjanjian Baru. Sejak dahulu, inilah rancangan Allah bagi umat-Nya. Hal itu terlihat dengan jelas dalam Yesaya 48:9–11: “Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau. Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan. Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!"

 

Allah melihat kelemahan, ketidakdewasaan, dan kegagalan umat-Nya. Namun, Dia tidak membinasakan mereka. Sebaliknya, Dia bekerja dengan kasih dan kesabaran untuk memurnikan mereka. Seperti logam yang dimurnikan melalui api, Allah memakai "tungku penderitaan" untuk membuang apa yang tidak berkenan kepada-Nya dan menghasilkan iman yang semakin murni. Semua itu dilakukan demi kemuliaan nama-Nya. Dari sini kita bisa belajar bahwa tujuan terbesar Allah bukan sekadar membuat hidup kita lebih mudah, tetapi membuat hidup kita semakin memuliakan Dia. 

 

Di dalam Injil, kita melihat kebenaran ini dengan lebih jelas lagi. Yesus Kristus sendiri menempuh jalan penderitaan sebelum masuk ke dalam kemuliaan. Ia ditolak, dihina, menderita, dan akhirnya mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Namun justru melalui penderitaan itulah Allah menggenapkan karya keselamatan yang terbesar dalam sejarah.

 

Karena kita telah dipersatukan dengan Kristus, Allah juga memakai penderitaan dalam hidup kita untuk membentuk kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Penderitaan orang percaya bukanlah hukuman atas dosa, sebab hukuman itu telah ditanggung sepenuhnya oleh Kristus di salib. Penderitaan adalah alat di tangan Bapa untuk menguduskan anak-anak yang telah ditebus-Nya. Di tengah setiap proses yang menyakitkan, kasih Allah tidak pernah berubah. Ia sedang mengikis kesombongan, mengajar kita bergantung kepada-Nya, memurnikan iman kita, dan membentuk karakter Kristus di dalam diri kita.

 

Sering kali kita baru menyadari maksud Allah setelah melewati masa-masa yang sulit. Apa yang dahulu kita anggap sebagai beban, ternyata dipakai-Nya untuk mendewasakan iman, memperdalam pengenalan kita akan kasih-Nya, dan membuat hidup kita menjadi kesaksian tentang anugerah-Nya.

 

Hari ini, jika Anda sedang berada di dalam "tungku penderitaan", janganlah berpikir bahwa Allah telah meninggalkan Anda. Di dalam Kristus, penderitaanmu tidak pernah sia-sia. Bapa yang mengasihimu sedang memurnikan imanmu dan membentukmu menjadi semakin serupa dengan Yesus. Percayalah, tangan yang mengizinkan “tungku penderitaan” adalah tangan yang sama yang memegang hidupmu dengan kasih yang sempurna. Dan pada akhirnya, seluruh proses itu akan menghasilkan kemuliaan bagi nama-Nya dan sukacita yang kekal bagi kita yang adalah anak-anak-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Yakobus 1:2–4 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 44-48