KASIH YANG RELA MENGGANTIKAN KITA
YESAYA 49–53
Yesus dengan rela menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, supaya kita dapat hidup untuk selama-lamanya dalam hubungan yang diperdamaikan dengan Allah.
Ada bagian-bagian Alkitab yang begitu sering kita baca sehingga kita tidak lagi merasakan kedalaman maknanya. Kita sering mendengar ayat-ayatnya tapi tidak lagi merenungkannya. Kita sudah mengenalnya, bahkan mungkin dapat menghafalnya. Namun, keakraban dengan firman Tuhan tidak boleh membuat kita kehilangan rasa kagum. Sebaliknya, setiap kali membacanya, kita seharusnya semakin menyadari besarnya kasih dan anugerah Allah.
Mungkin Anda sudah sangat mengenal bagian firman berikut ini. Namun, mari kita memperlambat langkah sejenak dan kembali memperhatikannya bersama-sama: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yes. 53:1–6).
Jika bagian firman ini tidak lagi menggugah hati kita, mungkin kita telah kehilangan pemahaman akan kuasanya. Bagian ini diberikan supaya kita melihat betapa luar biasanya kesediaan Yesus untuk menanggung penderitaan yang begitu besar, agar kita mengalami karya anugerah Allah yang begitu ajaib. Nubuat ini menunjukkan betapa seriusnya dosa kita. Dosa bukanlah kesalahan kecil yang dapat diabaikan begitu saja. Dosa adalah pemberontakan terhadap Allah yang kudus, yang mendatangkan hukuman dan kematian. Karena itulah, tidak ada manusia yang sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun, di sinilah Injil dinyatakan dengan begitu indah. Yesus datang bukan hanya untuk memberi teladan hidup yang baik, tetapi untuk menjadi Pengganti bagi orang-orang berdosa. Ia yang tidak mengenal dosa rela memikul dosa kita. Ia dihina agar kita diterima. Ia ditolak agar kita diperdamaikan dengan Allah. Ia tertikam karena pelanggaran kita. Ia diremukkan karena kejahatan kita. Hukuman yang seharusnya kita tanggung dijatuhkan ke atas-Nya, supaya kita menerima pengampunan, damai sejahtera, dan hidup yang kekal.
Semakin kita memahami betapa berat penderitaan Kristus, semakin kita menyadari betapa dahsyatnya kasih-Nya. Salib menunjukkan dua kebenaran sekaligus: betapa mengerikannya dosa kita dan betapa besarnya kasih karunia Allah. Jika dosa tidak begitu serius, Kristus tidak perlu menderita sedemikian rupa. Namun karena kasih Allah begitu besar, Ia rela memberikan Anak-Nya yang tunggal demi menyelamatkan kita.
Pengharapan kita, baik untuk hidup saat ini maupun untuk kekekalan, tidak bergantung pada kesetiaan kita kepada Kristus, tetapi pada kesediaan Kristus untuk taat sampai mati menggantikan kita. Keselamatan kita aman karena karya-Nya telah sempurna. Tidak ada lagi hukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Hari ini, pandanglah kembali kepada salib Kristus. Jangan biarkan keakraban dengan kisah penyaliban membuat hati Anda menjadi biasa-biasa saja. Renungkan kembali bahwa setiap luka yang diterima Yesus adalah karena dosa kita, dan setiap tetes darah-Nya adalah bukti kasih Allah yang tidak terukur. Bersyukurlah, sebab melalui pengorbanan Kristus, kita yang dahulu adalah musuh Allah kini telah diperdamaikan, diampuni, dan diterima sebagai anak-anak-Nya. Kiranya kasih yang begitu besar itu memenuhi hati kita dengan penyembahan, ketaatan, dan sukacita setiap hari.
Refleksi
Bacalah Matius 26:36–46 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 49-53