KEMBALI KEPADA ALLAH

Sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Zakharia 1:3

 

Pernikahan bisa menjadi sangat berat. Kita tidak perlu jauh-jauh mencari buktinya—cukup melihat statistik pernikahan, dan kita akan diyakinkan. Namun, sebenarnya sejak dulu pun, pernikahan memang penuh tantangan. Suami dan istri berjuang untuk mewujudkan pernikahan yang ideal, tetapi perselisihan dalam hubungan pasti terjadi karena dua orang berdosa dipersatukan dalam suatu perjanjian yang erat.

Hari ini, kita ingin berbicara tentang dua kata yang sangat berharga dalam pernikahan: Aku mencintaimu. Namun, ada tiga kata lain yang mungkin lebih penting, terutama di masa-masa sulit: Aku minta maaf. Tentu saja, kata-kata ini tidak akan berarti jika diucapkan dengan sembarangan, sekadar formalitas, atau dengan nada marah. Tetapi permintaan maaf yang tulus dan pengampunan yang penuh kasih (Efesus 4:32) dapat menjadi kekuatan besar dalam pernikahan: Aku minta maaf. Aku telah berbuat salah. Maukah kamu memaafkanku? Mari kita coba lagi. Aku mencintaimu. Mari kita melangkah bersama.

Setiap pernikahan selalu membutuhkan awal yang baru, pemulihan, dan perbaikan terus-menerus. Ketika sebuah pernikahan gagal, sering kali penyebabnya adalah salah satu pasangan menolak untuk kembali kepada yang lain. (Namun, ada keadaan tertentu yang dibenarkan dalam Alkitab di mana Tuhan mengizinkan berakhirnya pernikahan, seperti dalam kasus perzinahan, dan 1 Korintus 7 juga berbicara tentang pasangan yang tidak percaya yang memilih untuk pergi.)

Kebutuhan untuk kembali ini tidak hanya berlaku dalam hubungan suami istri, tetapi juga dalam hubungan kita dengan Allah. Kita sering mengecewakan-Nya dan melakukan kesalahan yang membawa aib bagi nama-Nya. Kita berpaling dari-Nya dalam pemberontakan, tidak menaati firman-Nya, dan berusaha mengendalikan hidup kita sendiri. Oleh karena itu, seperti dalam pernikahan, kita harus berkomitmen untuk kembali kepada-Nya—karena dalam hubungan ini, kitalah yang selalu tersesat.

Yakobus memberikan perintah yang jelas: "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu" (Yakobus 4:8). Demikian pula, Tuhan berfirman melalui nabi Zakharia: "Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Aku pun akan kembali kepadamu." Janji dalam kedua ayat ini luar biasa: jika kita kembali kepada Allah, Dia akan menyambut kita dengan kasih-Nya.

Saat kita gagal, kita mungkin berpikir bahwa Allah tidak ingin berurusan dengan kita—bahwa Dia sudah muak dan marah. Namun sebenarnya, Dia selalu menunggu kita untuk kembali, agar Dia dapat kembali mendekat kepada kita. Allah tidak pernah menolak kita.

Hari ini, dalam area apa dalam hidup Anda Anda perlu kembali kepada Allah dan berkata, "Aku minta maaf"? Ketahuilah bahwa saat Anda melakukannya, Dia dengan senang hati menerima Anda dan sekali lagi meyakinkan Anda: "Aku mencintaimu."

 

Refleksi

Bacalah Hosea 14:1-9 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 24 - 26; Ibrani 3

Truth For Life – Alistair Beg