RAJA YANG RENDAH HATI

Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu: Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan mendapati seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah ke mari. …  Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan menolong Yesus naik ke atasnya. Lukas 19:29-30, 35

 

Minggu Palem adalah hari yang sangat penting dalam minggu paling bersejarah di dunia. Kedatangan Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan sebelum penyaliban-Nya dicatat dalam keempat Injil, masing-masing dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Jika kita memperhatikan dengan saksama, kita akan melihat dinamika sosial yang kompleks dalam peristiwa ini, yang mungkin tidak langsung terlihat jika hanya membaca satu Injil.

Injil Yohanes mencatat bahwa bahkan murid-murid Yesus tidak memahami makna kedatangan-Nya ke Yerusalem sampai setelah kebangkitan-Nya (Yohanes 12:16). Namun, Yesus sendiri sangat sadar akan apa yang sedang Ia lakukan. Dengan sengaja, Ia menyatakan identitas-Nya sebagai Raja dan mengarahkan langkah-Nya menuju Yerusalem, menggenapi nubuat Perjanjian Lama yang telah dinyatakan ratusan tahun sebelumnya:

"Bersorak-sorailah dengan nyaring, hai puteri Sion! Bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Zakharia 9:9)

Orang banyak yang menyambut-Nya datang berbondong-bondong, terutama setelah menyaksikan bagaimana Ia membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 12:17-18). Mereka bukan hanya kagum pada Lazarus, tetapi juga pada Pribadi yang telah melakukan mukjizat besar itu. Mereka mengelu-elukan Yesus dengan sorak-sorai:

"Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" (Lukas 19:38)

Mereka berharap Yesus adalah Mesias yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa pujian mereka itu kelak akan berubah menjadi teriakan ejekan Meskipun Yesus menyatakan kemesiasan-Nya dalam peristiwa ini, Ia juga menunjukkan diri sebagai Raja yang "lemah lembut dan rendah hati" (Matius 11:29). Ia datang bukan dengan kuda perang seperti seorang penakluk, tetapi dengan seekor keledai muda, binatang beban yang melambangkan kerendahan hati. Menariknya, tidak ada catatan lain dalam Kitab Suci yang menyebutkan Yesus menunggangi hewan apa pun. Mengendarai keledai muda yang belum terlatih pasti tidak nyaman, tetapi itulah cara Sang Raja Mahakuasa menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati-Nya. Cobalah renungkan: Raja seperti apa yang datang dengan seekor keledai, lalu mengenakan mahkota duri? Kerendahan hati seperti apa yang diperlukan untuk itu? Dan kasih seperti apa yang bersedia melakukannya?

Banyak orang dalam kerumunan saat itu mengharapkan seorang Mesias yang akan menjadi pahlawan nasional mereka. Itu sebabnya mereka bersorak selama Yesus memenuhi harapan mereka. Namun, ketika ternyata Ia bukan Raja yang mereka inginkan, mereka berbalik menolak-Nya. Kita pun harus berhati-hati agar tidak membentuk Yesus sesuai keinginan kita, lalu kecewa ketika Ia tidak memenuhi ekspektasi kita.

Sebaliknya, kita perlu melihat-Nya sebagaimana Ia benar-benar adalah: Raja yang datang bukan untuk memerintah dengan kekuatan duniawi, tetapi untuk memikul salib. Ia memanggil kita untuk mengikut Dia dengan jalan yang sama—jalan penyangkalan diri dan salib—bukan demi kehidupan yang nyaman saat ini, melainkan demi kehidupan kekal yang akan datang. Inilah Raja yang jauh lebih baik, lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih penuh kasih daripada yang bisa kita bayangkan.

Refleksi

Bacalah Lukas 19:28-40 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 27–29; Ibrani 4

Truth For Life – Alistair Beg