ALLAH PEMBERI KARUNIA
1 SAMUEL 18–20

 

Allah adalah sumber dari segala karunia yang baik. Karena itu, iri hati terhadap apa yang dimiliki atau dicapai orang lain tidak akan pernah membawa kita kepada kebaikan.

 

Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang ada. Termasuk dunia fisik yang menyatakan kemuliaan-Nya dan memberi kita sukacita, juga hal-hal nonfisik seperti pikiran, kepribadian, emosi, dan jiwa kita. Penting untuk dipahami bahwa Allah bukan hanya menciptakan semuanya, tetapi juga berdaulat atas ciptaan.

 

Dan bukan hanya menciptakan, Allah juga berdaulat atas semuanya. Allahlah yang menentukan karunia dan kemampuan setiap orang. Ia membagikan semuanya sesuai dengan kehendak-Nya, untuk kemuliaan-Nya, demi kebaikan manusia, dan untuk menggenapi rencana-Nya yang besar. Seorang dokter memiliki keahlian bukan hanya karena usaha, tetapi karena Allah memberikan kemampuan itu. Seorang seniman atau musisi pun demikian—semua adalah pemberian Allah.

 

Namun ketika kita mulai iri melihat orang lain, sebenarnya masalahnya bukan sekadar kita “ingin seperti mereka.” Lebih dalam dari itu, kita sedang mempertanyakan Tuhan. Seolah-olah kita berkata, “Tuhan, kenapa bukan aku?” Iri hati perlahan membuat kita meragukan hikmat dan kebaikan-Nya. Dan kita menganggap bahwa Allah telah salah memberi.

 

Itulah yang terjadi pada Raja Saul dalam kisah 1 Samuel 18. Ketika Allah menolak dia sebagai raja dan memilih Daud, Saul tidak bisa menerima hal itu. Ia melihat keberhasilan Daud, tetapi bukannya bersyukur karena Tuhan melindungi umat-Nya melalui Daud, ia justru dikuasai iri hati.

 

Iri hati membuat Saul melawan Allah, bukan sekadar melawan Daud. Ia tidak lagi melihat karya Allah, tetapi hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal Daud tidak melawan Saul. Ia tetap setia dan melakukan apa yang Allah percayakan kepadanya. Namun hati Saul telah dikuasai kecemburuan. Kecemburuan selalu menentang hikmat dan kedaulatan Allah. Saat kita mempertanyakan pemberian Allah, kita berhenti datang kepada-Nya. Kita merasa lebih tahu daripada Dia.

 

Namun dalam Injil, kita melihat sesuatu yang lebih dalam. Ketika Allah memilih Daud, Ia sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya. Dari garis keturunan Daud akan datang Raja yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Melalui Dia, Allah menyediakan keselamatan bagi dunia. Allah sedang bekerja melalui setiap pemberian dan setiap peran, untuk membawa kita kepada Kristus. Apa yang tampak seperti perbedaan karunia, sebenarnya adalah bagian dari rencana keselamatan yang besar.

 

Karena itu, respons kita bukanlah iri hati, melainkan percaya. Percaya bahwa Allah baik. Percaya bahwa apa yang Ia berikan sudah tepat. Dan percaya bahwa di dalam Kristus, kita sudah menerima anugerah yang paling besar. Betapa besar kasih, hikmat, limpah anugerah-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 11:9-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 18-20