IMAN MENGUBAH CARA HIDUP
1 SAMUEL 21–24
Iman yang sejati bukan hanya soal apa yang kita pikirkan, tetapi juga tentang bagaimana hati kita terikat kepada Tuhan dan mengubah cara kita hidup setiap hari.
Teologi bukan sekadar pengetahuan; teologi adalah kehidupan itu sendiri. Ketika seseorang berkata bahwa ia percaya, itu bukan hanya persetujuan di dalam pikiran. Iman yang sejati selalu terlihat dari cara hidupnya. Setiap ajaran dalam Alkitab dimaksudkan untuk membentuk cara hidup kita. Setiap kebenaran memanggil kita kepada gaya hidup tertentu. Kalau kebenaran Firman tidak mengubah hidup kita, mungkin kita belum sungguh-sungguh mempercayai-Nya.
Karena itu, seharusnya tidak ada jarak antara apa yang kita akui sebagai iman (apa yang kita percaya) dan apa yang kita jalani (cara kita hidup). Kita sering dengan mudah berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan, tetapi jauh lebih sulit untuk membawa kebenaran itu masuk ke dalam situasi nyata, dalam keputusan, relasi, dan keseharian kita. Padahal, iman bukan sekadar pengetahuan. Iman adalah perkara hidup dan mati, karena iman yang sejati selalu menghasilkan kehidupan yang diubahkan. Apa yang kita percaya akan membentuk siapa kita, memberi arah hidup kita, dan menentukan bagaimana kita menjalani hidup ini.
Dalam 1 Samuel 21–24, kita melihat contoh nyata iman melalui kehidupan Daud. Ia menghadapi kebencian Saul yang begitu dalam dan tidak masuk akal. Saul begitu iri hingga kehilangan kendali. Ia mengejar Daud dengan niat membunuh, seolah-olah dengan itu ia bisa mengubah rencana Tuhan. Padahal, apakah Saul benar-benar berpikir bahwa ia bisa menggagalkan kehendak Tuhan? Apakah ia mengira Tuhan tidak melihat isi hatinya? Iri hati telah membutakan dia.
Lalu bagaimana dengan Daud? Suatu saat, Daud berada di gua yang sama dengan Saul. Orang-orangnya melihat itu sebagai kesempatan emas untuk membalas. Tapi Daud tidak melakukannya. “Lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: ‘Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.’” (1 Sam. 24:7).
Daud percaya bahwa Tuhan berdaulat. Ia tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia memilih taat, bahkan ketika itu sulit dan tidak menguntungkan dirinya secara manusiawi. Iman kepada Tuhan membuat seseorang tetap melakukan yang benar, bahkan ketika diperlakukan salah.
Dalam terang Injil, kita melihat bahwa ini menunjuk kepada Kristus. Yesus sendiri tidak membalas ketika disakiti, tidak melawan ketika difitnah, dan tidak menghancurkan musuh-Nya—melainkan menyerahkan diri-Nya demi menyelamatkan orang berdosa. Karena itu, ketika kita percaya kepada Kristus, kita tidak lagi hidup mengikuti dorongan dosa, kita dimampukan untuk hidup benar, dan kita memiliki damai bahkan di tengah ketidakadilan.
Jika kita sungguh percaya bahwa Tuhan berdaulat dan menyertai kita, maka kita akan dimampukan untuk tetap hidup benar, bahkan di tengah dunia yang tidak adil. Hidup oleh iman berarti mempercayakan diri kepada kasih karunia Tuhan—bahwa Dia yang memanggil kita juga yang memampukan kita untuk hidup seturut kehendak-Nya.
Refleksi
Bacalah Efesus 3:14-19 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 21-24