JALAN PENDAMAIAN
Imamat 1–4
Tidak ada hadiah yang lebih besar daripada anugerah pendamaian atas dosa. Kita merayakan anugerah ini sebagai anugerah kasih karunia untuk selama-lamanya.
Ada satu kesadaran yang menyedihkan yang pada akhirnya dialami setiap orang tua. Cepat atau lambat, dalam hidup anak yang kita kasihi, dosa akan terlihat dengan jelas. Kita mungkin berharap anak kita berbeda, tetapi kenyataannya tidak demikian. Ia bisa menolak perintah, berteriak “tidak”, bersikap egois, atau mudah marah. Masalahnya bukan sekadar perilaku yang keliru, tetapi juga anak itu berdosa karena natur, bukan hanya karena perbuatan.
Masalahnya bukan hanya karena anak kita sesekali berbuat salah. Yang kita hadapi jauh lebih dalam dari sekadar perilaku. Kalau masalahnya hanya tindakan tertentu, mungkin pendidikan atau aturan bisa memperbaikinya. Namun Alkitab menunjukkan bahwa masalah manusia bukan sekadar apa yang kita lakukan, melainkan siapa diri kita. Perilaku yang salah muncul karena natur yang telah rusak. Dosa bukan hanya sesuatu yang kadang kita lakukan; tanpa kasih karunia Allah, dosa adalah kondisi hidup kita. Kita adalah orang berdosa secara alami, dan karena itu kita tidak mampu membebaskan diri dari kuasa dan hukuman dosa dengan kekuatan sendiri.
Di sinilah kabar baik dari kitab Imamat bersinar terang. Kitab ini seperti penunjuk arah yang mengarahkan kita melihat rencana besar penebusan Allah. Imamat menegaskan bahwa Allah yang kudus dan penuh kasih menyediakan jalan pendamaian bagi atas kita. Ia sendiri yang mengatur agar hukuman dosa dibayar, sehingga pengampunan dapat diberikan. Jika dosa adalah masalah terdalam dan paling merusak dalam hidup manusia, maka pendamaian atas dosa adalah kabar terbaik yang pernah kita dengar.
Semakin kita menyadari bahwa setiap dosa adalah pemberontakan terhadap Allah, semakin besar pula kita mengagumi anugerah pendamaian itu. Manusia berdosa telah menyakiti hati Allah berkali-kali, namun dengan kasih yang melampaui kata-kata, Allah sendiri mengambil inisiatif untuk membuka jalan pendamaian.
Dalam Imamat pasal 4, satu kalimat diulang tiga kali: “Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian baginya, sehingga ia menerima pengampunan” (Im. 4:26, 31, 35). Kata-kata ini penuh pengharapan. Tidak peduli seberapa kuat cengkeraman dosa, tidak peduli seberapa gelap jalan yang pernah kita tempuh, selalu ada pengharapan di dalam Allah. Kita diyakinkan bahwa Allah yang sepenuhnya kudus sanggup memulihkan orang-orang berdosa secara menyeluruh—menghapus hukuman mereka dan membersihkan hidup mereka dari dosa.
Namun kisah ini tidak berhenti di sini. Semua korban dalam Imamat menunjuk ke depan, kepada satu Pribadi: Yesus Kristus, Imam Besar Agung kita. Dialah korban terakhir dan sempurna. Dialah pembayaran yang tuntas. Di dalam Dia, kita menerima pengampunan yang kekal. Kabar apakah yang lebih baik daripada ini? Bahwa bagi orang berdosa seperti kita, Allah sendiri telah menyediakan jalan pendamaian, supaya kita boleh hidup di dalam pengampunan, pemulihan, dan kasih karunia-Nya untuk selama-lamanya.
Refleksi
Bacalah Ibrani 7:11–28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 1-4