MENGHADAPI RASA BERSALAH
Imamat 5–7

 

Dosa membuat setiap kita hidup dalam rasa bersalah. Pertanyaannya adalah: apa yang akan kita lakukan dengan rasa bersalah itu?

 

Kita semua adalah orang berdosa, kita semua berdiri sebagai orang yang bersalah di hadapan Allah. Dan setiap orang, sadar atau tidak, harus berurusan dengan rasa bersalahnya masing-masing. Ada yang memilih menyangkalnya, terus meyakinkan diri bahwa dirinya benar. Ada yang mencoba menebus rasa bersalah itu dengan usaha sendiri. Ada yang membandingkan diri dengan orang lain dan berkata, “Aku tidak seburuk itu.” Ada juga yang mengecilkan dosanya, seolah-olah apa yang ia lakukan tidak terlalu salah. Ada yang pandai menyalahkan orang lain atau keadaan. Ada pula yang justru tenggelam dalam rasa bersalah, membiarkan rasa malu menekan dan mengasingkan dirinya. Bahkan ada yang mencoba mengatasi rasa bersalah dengan berjanji untuk berubah secara ekstrem, memasang standar kesalehan yang sempurna dan tidak realistis bagi dirinya sendiri.

 

Semua cara ini melelahkan, tidak sehat, dan pada akhirnya mengecewakan. Cara-cara ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Yang dihasilkan hanyalah kesombongan rohani atau keputusasaan, tetapi tidak pernah menghasilkan buah yang baik—baik dalam diri kita maupun dalam relasi kita dengan orang lain. Karena kita terlahir sebagai orang yang bersalah, rasa bersalah itu tidak bisa disangkal atau dihilangkan dengan keinginan semata. Rasa bersalah harus diakui, harus ditanggung, dan harus disingkirkan, supaya kita bisa hidup dalam terang tanpa rasa malu.

 

Inilah sebabnya korban penghapus salah menjadi anugerah yang sangat penting sekaligus melegakan (Im. 5–7). Allah menyatakan bahwa Ia sendiri telah menyediakan jalan untuk menyelesaikan rasa bersalah kita, sehingga kita tidak perlu bangun setiap pagi sambil memikul beban rasa bersalah yang berat itu lagi. Korban penghapus salah menunjukkan arah dari kisah penebusan Allah. Di balik setiap korban binatang, tersimpan janji bahwa akan datang satu Anak Domba yang terakhir dan sempurna (1 Kor. 5:7). Dialah yang akan menanggung seluruh rasa bersalah dan malu kita.

 

Yesus, yang sepenuhnya tidak bercela, dengan rela memikul beban rasa bersalah kita. Ia menyingkirkan rasa bersalah itu, sehingga kita dapat berdiri di hadapan Allah sebagai orang yang dibenarkan, tanpa takut dan tanpa malu.

 

Karena rasa bersalah tidak bisa dihindari, korban penghapus salah sungguh-sungguh dibutuhkan. Dan karena Yesus adalah korban penghapus salah itu, kita tidak lagi hidup dalam penyangkalan, tetapi datang dengan pengakuan dosa, percaya bahwa kita akan menerima belas kasihan dan kasih karunia. Hari ini, rayakanlah korban penghapus salah yang Allah sediakan dengan rela dan penuh kasih bagimu. Keluarlah dari kegelapan rasa malu dan hiduplah dalam terang Injil.

 

Refleksi

Bacalah 1 Yohanes 1:5–10  untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 5-7