KETIKA TUHAN TERASA JAUH
AYUB 21–23
Kita bisa berada dalam bahaya secara rohani saat mulai merasa bahwa Tuhan itu jauh, diam, atau tidak peduli dengan hidup kita.
Dalam masa-masa sulit, sering kali masalah yang kita hadapi terasa begitu besar sampai memenuhi pikiran dan hati kita. Kadang kita mulai bertanya-tanya, “Apakah Tuhan benar-benar mendengar?” Bahkan doa terasa seperti tidak sampai ke mana-mana. Penderitaan dapat membuat hati kita lelah dan iman kita menjadi goyah. Dan saat hidup terasa berat, apa yang biasanya terjadi dalam hati kita? Apakah kita tetap datang kepada Tuhan, atau justru mulai menjauh?
Kita hidup di dunia yang telah jatuh dalam dosa, sehingga penderitaan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Ada masa-masa ketika hidup terasa gelap. Kita menghadapi sakit secara fisik, kekecewaan dalam relasi, dan berbagai pergumulan hidup yang berat. Masalah-masalah itu terasa begitu besar sampai menyambut kita sejak bangun pagi, memenuhi pikiran sepanjang hari, dan membuat kita sulit beristirahat di malam hari.
Melalui kitab Ayub, Tuhan memperlihatkan kepada kita pergumulan seorang yang sedang menderita. Kita melihat bagaimana Ayub bergumul secara pribadi mencari Tuhan di tengah rasa sakitnya. Apa yang dirasakan Ayub sering kali juga menjadi apa yang kita rasakan: “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia; di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia.” (Ayb. 23:8–9).
Sebagai bagian dari kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, kita semua akan mengalami masa-masa ketika seolah-olah Allah meninggalkan kita sendirian dalam penderitaan. Jika Anda pernah mengalami kehilangan, atau menghadapi sesuatu yang tidak pernah Anda harapkan dan tidak Anda inginkan, maka Anda dapat memahami perkataan Ayub. Lalu mengapa percakapan pribadi ini dicatat bagi kita? Mengapa Allah mengizinkan kita melihat pergumulan seorang Ayub bersama-Nya? Jawabannya adalah karena Allah mengasihi kita.
Dalam kelembutan kasih dan belas kasihan-Nya, serta karena Ia mengetahui betapa rusaknya dunia yang kita tinggali, Allah ingin kita tahu bahwa Dia melihat, mengetahui, dan peduli terhadap semua yang sedang kita alami. Perasaan bahwa Tuhan jauh bukanlah bukti bahwa Tuhan benar-benar meninggalkan kita. Ayub tidak dapat melihat Allah, tetapi Allah tetap melihat Ayub. Demikian juga dengan kita.
Di dalam Injil, kita melihat bukti terbesar bahwa Allah tidak jauh dari penderitaan manusia. Dalam Yesus Kristus, Allah datang mendekat kepada kita. Ia masuk ke dalam dunia yang rusak, menanggung penderitaan, ditolak, disalibkan, dan mati bagi dosa-dosa kita. Karena itu, ketika kita menderita, kita memiliki Juruselamat yang memahami penderitaan kita dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Tuhan mengetahui keadaan Anda. Tuhan peduli kepada Anda. Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika Anda tidak dapat melihat-Nya.
Dan karena Kristus telah menang, Allah telah memulai karya pembaruan yang sempurna. Suatu hari nanti, Ia akan menjadikan segala sesuatu baru. Untuk itu, pengharapan orang percaya bukanlah bahwa hidup akan selalu mudah, tetapi bahwa Allah yang hadir bersama kita sekarang akan membawa kita kepada pembaruan yang mulia pada akhirnya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 88:1–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 21-23