MELIHAT ALLAH DI TENGAH KESULITAN
AYUB 24–28
Di tengah masa-masa sulit, penting bagi kita untuk terus mengarahkan hati kepada kebesaran Tuhan.
Hati kita selalu dipengaruhi oleh sesuatu yang kita anggap besar, indah, atau berharga. Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan untuk merasa kagum, supaya kekaguman itu membawa kita kepada-Nya dalam penyembahan dan penyerahan hidup. Kita hidup di dunia yang penuh dengan keindahan ciptaan Tuhan. Ada gunung yang megah, aliran sungai yang menenangkan, langit yang indah, makanan yang nikmat, atau orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Semua itu dapat membuat kita terpukau. Namun semua keindahan dan kesenangan itu sebenarnya bukan tujuan akhir. Ketika dinikmati dengan benar, semua itu memiliki tujuan penting dalam rencana-Nya. Semua itu seharusnya menolong kita melihat betapa mulia dan besar-Nya Tuhan yang menciptakan semuanya.
Allah tidak pernah bermaksud agar ciptaan-Nya menjadi pusat penyembahan kita. Sebaliknya, semua yang indah dalam dunia ini seharusnya membangkitkan dan memperdalam kekaguman kita kepada Sang Pencipta. Ketika hati kita dipenuhi oleh kekaguman kepada Allah, kemuliaan-Nya akan mengarahkan cara kita hidup.
Terlebih lagi saat kita sedang berada dalam penderitaan, kita perlu menjaga kekaguman kita kepada Tuhan. Karena jika kekaguman kepada Allah tidak membentuk hidup kita pada masa-masa sulit, maka sesuatu yang lain akan mengambil tempat itu. Ketika kita menderita, kita perlu belajar memandang kemuliaan Tuhan. Artinya, kita terus merenungkan siapa Dia, bukan hanya berfokus pada masalah kita. Iman yang alkitabiah tidak meminta kita menolak kenyataan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun iman memang memanggil kita untuk tetap memandang kemuliaan Allah di tengah kesulitan yang sangat berat.
Itulah yang dilakukan Ayub di tengah penderitaannya yang begitu berat. Walaupun hidupnya penuh kehilangan dan rasa sakit, Ayub tetap mengarahkan pandangannya kepada kebesaran Tuhan: “Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan. Ia membungkus air di dalam awan-Nya, namun awan itu tidak robek. Ia menutupi pemandangan takhta-Nya, melingkupinya dengan awan-Nya. Ia telah menarik garis pada permukaan air, sampai ujung perbatasan antara terang dan gelap; tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. Ia telah meneduhkan laut dengan kuasa-Nya dan meremukkan Rahab dengan kebijaksanaan-Nya. Oleh nafas-Nya langit menjadi cerah, tangan-Nya menembus ular yang tangkas. Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalan-Nya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari pada-Nya! Siapa dapat memahami guntur kuasa-Nya?" (Ayb. 26:7–14)
Sering kali ketika penderitaan datang, masalah menjadi begitu besar di mata kita sehingga Allah terasa kecil, jauh, atau bahkan diam. Namun Injil mengingatkan kita bahwa Allah yang mengendalikan langit dan bumi adalah Allah yang sama yang menyatakan kasih-Nya melalui Yesus Kristus. Di kayu salib, seolah-olah Allah diam dan tidak bertindak. Namun justru melalui peristiwa itu Allah sedang mengerjakan keselamatan terbesar dalam sejarah manusia melalui Yesus Kristus.
Karena itu, ketika kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi dalam hidup kita, kita dapat memandang kepada Kristus. Salib menjadi bukti bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa penderitaan, dosa, dan kematian tidak akan memiliki kata terakhir.
Masalah kita mungkin besar, tetapi Allah jauh lebih besar. Penderitaan kita mungkin berat, tetapi kemuliaan-Nya jauh lebih agung. Pemahaman kita terbatas, tetapi hikmat dan kuasa-Nya tidak pernah terbatas. Kiranya Allah memberi kita anugerah untuk terus memberitakan kepada hati kita sendiri tentang kebesaran dan kemuliaan-Nya, bahkan ketika Dia tampak jauh. Dengan demikian, kesulitan tidak menguasai hati kita dan tidak merampas kekaguman kita kepada-Nya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 46:1–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 24-28