KASIH ALLAH DI BALIK PERINTAH-NYA
Ulangan 5–7

 

Perintah-perintah Allah adalah karunia kasih ilahi yang penuh dengan hikmat. Adalah suatu kebodohan jika kita menolak keindahan perintah-Nya yang melindungi dan menuntun hidup kita.

 

Allah tidak memberikan hukum-Nya supaya kita mendapatkan penerimaan-Nya, karena standar-Nya terlalu tinggi dan terlalu kudus untuk dapat dicapai oleh manusia berdosa. Sebaliknya, hukum Allah adalah anugerah bagi umat yang telah terlebih dahulu Ia kasihi, supaya mereka mengetahui bagaimana harus hidup, dan melalui ketaatan kepada perintah-Nya, mereka dapat hidup dengan benar dan penuh berkat. Itulah sebabnya pemazmur dapat berseru, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari” (Mzm. 119:97). Kata-kata yang mengikuti seruan itu adalah ungkapan sukacita atas karunia perintah Allah dan kasih karunia yang memampukan kita untuk mengasihi dan menaati-Nya.

 

Hukum Allah adalah sempurna, kudus, benar, dan baik. Hukum-Nya adalah undangan yang penuh kasih karunia, yang lahir dari kasih, penuh hikmat, dan kelembutan Allah, yang menuntun kita kepada kehidupan yang baik. Di dalamnya, dorongan dosa dibatasi, hati kita yang mudah menyimpang dijaga, dan kita belajar hidup sesuai dengan rancangan Pencipta kita. Batasan-batasan yang Allah tetapkan, pagar-pagar hukum-Nya, adalah ungkapan kasih-Nya kepada kita.

 

Hukum-hukum ini diberikan bukan supaya kita memperoleh kasih-Nya, melainkan sebagai karunia anugerah bagi mereka yang telah Ia pilih untuk dikasihi. Di dunia yang terus berubah—ketika lembah terasa dalam, gunung terasa tinggi, jalan terasa gelap, musuh terasa dekat, dan pencobaan berbisik pelan—ada keamanan di dalam hukum Allah yang tidak pernah berubah. Tidak ada yang perlu ditambahkan pada perintah-Nya yang kudus dan benar.

 

Siapa yang dapat merancang rencana yang begitu sempurna, tujuan yang begitu indah, dan tatanan hidup yang begitu benar bagi kebaikan manusia? Adalah kesombongan, kebingungan, pemberontakan, dan kebodohan, jika kita mencoba mengurangi atau mengabaikan rencana moral Allah yang kudus dan penuh kasih bagi kita.

 

Injil mengingatkan kita: kita menaati bukan untuk diselamatkan, melainkan karena kita telah diselamatkan. Dalam Kristus, kita telah dikasihi terlebih dahulu. Dari kasih itulah lahir ketaatan yang penuh syukur, dan di dalam ketaatan itulah kita menemukan hidup yang sejati. Karena itu, belajarlah untuk percaya bahwa Allah selalu mengetahui apa yang terbaik. Berdoalah memohon anugerah, supaya engkau dapat menyerahkan sepenuhnya pikiranmu, keinginanmu, pilihanmu, perkataanmu, dan tindakanmu kepada-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 1:1–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 5-7