KRISTUS YANG MEMBEBASKAN KITA
YOHANES 7-8

 

Kita tidak boleh menyangkal atau meremehkan kuasa dosa yang membuat kita terus terikat dan akhirnya memperbudak kehidupan kita.

 

Berbahaya jika kita mulai bermain-main dengan dosa. Terkadang kita membiarkan diri melakukan sesuatu yang telah Allah larang karena dosa terlihat baik dan menjanjikan kepuasan, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Salah satu tipu daya dosa adalah bahwa dosa tidak datang dengan tanda peringatan. Dosa sering kali terlihat indah dan menarik, padahal sesungguhnya buruk dan merusak.

 

Bagaimanapun dosa menampilkan dirinya, dosa tidak pernah membawa kebaikan bagi kita. Terkadang kita mencoba sedikit saja sesuatu yang dilarang, dengan berpikir bahwa kita masih mampu mengendalikan bahayanya. Kita menikmati kesenangan sementara yang ditawarkan dosa, lalu mulai menginginkannya lebih lagi. Tanpa disadari, kita mulai menyukai sesuatu yang seharusnya tidak pernah kita nikmati. Tidak lama kemudian, tindakan pemberontakan yang awalnya hanya sesaat berubah menjadi kebiasaan. Kesenangan berdosa itu kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Hati nurani kita merasa bersalah, tetapi kita berusaha mengabaikannya dengan berbagai alasan. Kita meyakinkan diri bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan berdosa itu semakin menguasai kita. Kita merasa tidak dapat hidup tanpa sesuatu yang dahulu hanya ingin kita coba-coba. Kita berjanji kepada diri sendiri untuk berhenti, tetapi kenyataannya kita tidak berhenti. Kita menyembunyikan kecanduan hal yang jahat ini sambil menyangkal bahwa dosa sedang mengendalikan kehidupan kita. Tanpa disadari, kita telah menjadi tawanan dari kuasa dosa yang memperbudak. Betapa menyedihkan ketika kita harus mengakui bahwa sesuatu yang dahulu kita pikir dapat kita kendalikan, kini justru mengendalikan kehidupan kita.

 

Injil mencatat banyak peringatan Yesus yang penuh hikmat dan kasih. Salah satu peringatan terpenting terdapat dalam Yohanes 8. Kita perlu sungguh-sungguh memperhatikan perkataan-Nya, sebab peringatan tersebut merupakan wujud anugerah Allah yang memelihara dan melindungi kita. “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka." (Yoh. 8:31–36).

 

Yesus mengajarkan kepada para pengikut-Nya bahwa kebenaran akan memerdekakan mereka, tetapi mereka tidak memahami maksud perkataan-Nya. Mereka mengira bahwa karena mereka adalah keturunan Abraham, mereka tidak diperbudak oleh siapa pun atau apa pun. Karena itu, Yesus memberikan peringatan yang sangat penting tentang kuasa dosa yang memperbudak. Pernyataan-Nya berlaku bagi semua orang, tanpa pengecualian yaitu setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Kita tidak dapat terus menyerahkan diri kepada dosa dan berharap terbebas dari kuasanya.

 

Dosa memperbudak setiap manusia, dan dengan kekuatan sendiri, kita tidak memiliki kuasa untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Artinya kita membutuhkan pertolongan dan pembebasan yang tidak mungkin berasal dari diri kita sendiri. Kita membutuhkan seorang Penyelamat dan itu hanya dapat ditemukan di dalam anugerah Sang Anak yang memerdekakan, yaitu Tuhan Yesus Kristus. 

 

Karena itu, jika hari ini kita masih bergumul dengan dosa yang terus berulang, janganlah menjauh atau bersembunyi dari-Nya. Datanglah kepada Kristus dengan hati yang jujur dan bersandarlah pada anugerah-Nya. Sebab di dalam Kristus, kita tidak dibiarkan berjuang sendirian melawan dosa. Ia yang telah membebaskan kita juga setia menolong kita untuk hidup dalam kemerdekaan yang sejati.

 

Refleksi
Bacalah Amsal 5:21-23 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 7-8