ALLAH TETAP BEKERJA DI TENGAH PENDERITAAN
YOHANES 9-10
Allah menuntun kita melewati kesulitan dan penderitaan yang berat agar melalui hidup kita, kemuliaan-Nya dinyatakan.
Banyak hal telah ditulis mengenai kisah Yesus yang menyembuhkan seorang buta dalam Yohanes 9. Mengapa Yesus membuat adonan tanah dan mengoleskannya pada mata orang tersebut? Mengapa orang itu harus pergi membasuh dirinya di kolam Siloam? Namun, bagian terpenting dari kisah yang dicatat Yohanes justru terdapat dalam percakapan yang terjadi sebelum mukjizat tersebut dilakukan. “Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia." Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.” (Yoh. 9:1–7).
Murid-murid Yesus beranggapan bahwa orang ini dilahirkan buta sebagai hukuman atas dosanya sendiri atau dosa orang tuanya. Mereka bahkan tidak mempertanyakan apakah kebutaan itu merupakan akibat dosa. Mereka sudah yakin bahwa itulah penyebabnya. Yang ingin mereka ketahui hanyalah siapa yang telah berbuat dosa. Banyak di antara kita juga memiliki pemikiran yang sama. Kita sering menganggap bahwa ketika mengalami penderitaan, itu berarti kita sedang dihukum atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Namun, bagi orang percaya, penderitaan bukanlah hukuman untuk membayar dosa kita, sebab seluruh hukuman atas dosa kita telah ditanggung sepenuhnya oleh Yesus Kristus di kayu salib. Utang dosa kita telah dilunasi-Nya.
Yesus menanggapi anggapan murid-murid-Nya tentang dosa dan hukuman dengan cara yang sama sekali tidak pernah mereka duga. Ia menjelaskan bahwa orang tersebut dilahirkan buta supaya “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Mungkin kita bertanya, “Apakah ini berarti bahwa Allah terkadang menetapkan penderitaan dalam kehidupan seseorang supaya kuasa dan kemuliaan-Nya dapat dinyatakan?” Ya, itulah yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya.
Kita mengalami penderitaan bukan hanya karena hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa atau karena adanya musuh yang berusaha menghancurkan kehidupan kita. Kita juga dapat mengalami penderitaan karena Allah, dalam kedaulatan-Nya, sedang mengerjakan sesuatu untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Allah bekerja sedemikian rupa sehingga melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat sesuatu yang hanya mungkin terjadi karena kehadiran dan kuasa-Nya. Ia menetapkan kita untuk melewati keadaan-keadaan sulit yang sebenarnya tidak pernah kita inginkan, supaya melalui kehidupan kita, kuasa-Nya dapat dinyatakan.
Kita tidak diciptakan untuk hidup hanya demi kenyamanan, kesenangan, atau kemuliaan diri sendiri. Kita diciptakan untuk menyatakan kehadiran, kuasa, dan kemuliaan Allah yang telah menciptakan kita. Namun, di tengah semua itu, Allah tidak akan membiarkan kita menghadapi penderitaan seorang diri. Ia akan menjumpai dan menopang kita dengan kuasa-Nya, sehingga melalui kehidupan kita, kemuliaan-Nya dapat terlihat oleh orang lain.
Kita tidak diciptakan hanya untuk mengejar kenyamanan, kesenangan, atau kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk menyatakan kehadiran, kuasa, dan kemuliaan Allah yang telah menciptakan kita. Memang, tidak semua penderitaan dapat kita pahami. Namun, perhatikanlah orang yang buta sejak lahir itu. Sebelum ia dapat melihat Yesus, Yesus telah lebih dahulu melihatnya.
Demikian pula, di tengah penderitaan kita, Kristus tidak pernah kehilangan pandangan atas hidup kita. Ia tetap hadir, memelihara, dan bekerja menurut kehendak-Nya yang penuh hikmat. Kita mungkin belum dapat melihat apa yang Allah sedang kerjakan melalui penderitaan kita, tetapi kita tidak pernah luput dari pandangan Kristus yang mengasihi kita dan berkuasa menyatakan kemuliaan-Nya melalui hidup kita.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 12:1-10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yohanes 9-10