ANUGERAH PEMULIHAN
Imamat 26–27

 

Kasih karunia Allah bukan sekadar menyelamatkan kita, tetapi juga memulihkan dan menopang kita setiap hari.

 

Kita perlu memiliki ingatan Injil yang terus “hidup” dan terpelihara. Kita perlu dengan sengaja mengingat—dan tidak membiarkan diri kita melupakan kisah tentang Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan memulihkan. Sedikit hal yang dapat menguatkan hidup rohani selain terus mengingat kembali karya anugerah Allah dalam hidup kita.

 

Penting untuk diingat bahwa kasih karunia pengampunan Allah bukan hanya kita alami sekali pada saat pertobatan, tetapi terus kita alami sebagai proses pemulihan yang penuh kesabaran dan kasih. Allah telah mengampuni dan memulihkan kita berulang kali, bahkan Ia akan terus melakukannya lagi dan lagi.

 

Allah tahu bahwa selama kita hidup di masa “sudah” tapi “belum” (already but not yet),  hidup di dunia yang jatuh dan masih bergumul dengan dosa di dalam diri, kita akan gagal. Akan ada saat-saat ketika pikiran, keinginan, dan tindakan kita menyimpang. Akan ada momen ketika kita dengan sadar melangkah keluar dari batas-batas kekudusan Allah. Selama kita masih hidup di dunia ini, kita akan berdosa. Justru karena itulah komitmen Allah untuk terus mengampuni dan memulihkan kita begitu indah dan penuh pengharapan.

 

Jika kita rendah hati, kita sadar bahwa kita tidak sempurna. Kita tahu tidak ada satu hari pun dalam hidup kita yang benar-benar bebas dari dosa. Kita sadar bahwa kita adalah orang-orang yang membutuhkan pengampunan setiap hari.

 

Kasih karunia Allah yang mengampuni dan memulihkan tidak baru dimulai saat Yesus lahir. Kasih karunia itu sudah tertanam di dalam hukum Taurat itu sendiri. Allah berfirman: “Tetapi apabila mereka mengaku kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal mereka berlaku setia terhadap Aku, dan juga dalam hal mereka hidup berlawanan dengan Aku—sehingga Aku hidup berlawanan dengan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka—dan apabila hati mereka yang tidak bersunat itu tunduk dan mereka menebus kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub dan juga perjanjian-Ku dengan Ishak dan juga perjanjian-Ku dengan Abraham dan Aku akan mengingat negeri itu.” (Im. 26:40–42).

 

Lalu, bagaimana seseorang bisa masuk ke dalam berkat kasih karunia Allah yang mengampuni dan memulihkan? Jawabannya—baik dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru—jelas: melalui pengakuan dosa yang rendah hati dan tulus. Allah tidak pernah menolak orang berdosa yang datang kepada-Nya dengan pengakuan yang jujur, tanpa pembelaan diri dan tanpa menyalahkan orang lain. Ia selalu menyambut hati yang remuk dengan kepenuhan pengampunan dan pemulihan-Nya. Sejak awal, Allah selalu adalah Allah yang penuh kasih karunia. Umat-Nya selalu membutuhkan kasih karunia itu. Dan berulang kali Allah mengingatkan mereka bahwa Ia siap menyatakan kasih karunia-Nya ketika mereka membutuhkannya.

 

Imamat 26 kembali menunjuk ke depan, kepada pribadi dan karya Yesus. Ayat-ayat ini berseru akan pengampunan yang final dan sempurna—sebuah korban yang satu kali untuk selamanya, yang benar-benar memulihkan manusia kepada Allah. Dan Yesus datang sebagai Anak Domba korban itu. Di dalam Dia, dosa-dosa kita—masa lalu, masa kini, dan masa depan—telah diampuni sepenuhnya. Melalui karya-Nya bagi kita, Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia untuk selamanya, dan tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Bagi orang-orang berdosa seperti kita, tidak ada hadiah yang lebih indah dan lebih berharga daripada kasih karunia Allah yang mengampuni dan memulihkan.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 10:1–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26-27