KASIH ALLAH BAGI ORANG MISKIN
Imamat 24–25
Kita melihat keindahan dan kelembutan hati Allah melalui kebaikan-Nya kepada orang miskin.
Setiap hari kita melangkah di tengah hiruk-pikuk kota—berangkat bekerja, berbelanja, bertemu sahabat, atau pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan itu, kita berjumpa dengan banyak wajah: wajah lelah, wajah berharap, dan wajah-wajah yang bergumul untuk bertahan hidup. Di sudut-sudut jalan, kita melihat saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, kemiskinan, mengulurkan tangan, berharap ada yang peduli.
Namun, sering kali langkah kita lebih cepat daripada belas kasihan kita. Kita memilih mengalihkan pandangan, menunduk, menghindari tatapan, dan melanjutkan perjalanan seolah-olah tidak melihat apa-apa. Perlahan, hati kita menjadi terbiasa untuk tidak lagi tergerak. Bahkan lebih mudah bagi kita merasa kesal dan merasa terganggu karena trotoar dipenuhi orang meminta-minta.
Namun, kita perlu belajar melihat apa yang Alkitab nyatakan dalam Imamat tentang bagaimana memperlakukan orang miskin: “Apabila saudaramu jatuh miskin dan tidak sanggup bertahan hidup di antaramu, maka engkau harus menyokong dia, seperti orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba daripadanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu itu hidup di antaramu. Janganlah engkau meminjamkan uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba. Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan dan menjadi Allahmu” (Im. 25:35–38).
Perkataan Tuhan ini sangat menyentuh dan penting. Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk menerima dan memelihara orang miskin di tengah komunitas mereka. Ini adalah panggilan untuk kasih yang nyata dan keramahtamahan yang radikal. Tuhan juga menyatakan motivasi di balik kebaikan itu: bukan demi keuntungan pribadi, melainkan karena takut akan Tuhan.
Allah mengingatkan umat-Nya bagaimana Dia telah berbelaskasihan kepada mereka ketika mereka miskin, tidak berdaya, dan tidak sanggup menyelamatkan diri. Dari pengalaman itulah mereka dipanggil untuk menunjukkan belas kasihan yang sama kepada sesama. Syukur atas anugerah Allah menjadi tanah subur tempat kasih bertumbuh. Allah membuat belas kasihan-Nya yang tak terlihat menjadi nyata melalui umat-Nya yang diutus untuk mengasihi mereka yang membutuhkan. Di mana pun Allah menempatkan umat-Nya, di sanalah mereka dipanggil untuk memancarkan karakter-Nya.
Jika kita hidup dengan rasa hormat dan kagum akan belas kasihan Tuhan atas hidup kita, maka kita akan menjadi alat belas kasihan-Nya bagi orang lain. Rasa syukur adalah tanah tempat kebaikan bertumbuh. Allah membuat belas kasihan-Nya yang tidak terlihat menjadi nyata dengan mengutus orang-orang yang berbelas kasihan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan belas kasihan. Di mana pun Tuhan menempatkan kita, Ia memanggil kita untuk mencerminkan karakter dan kehendak-Nya.
Sekarang, mari kita melihat hidup kita sendiri. Alkitab berkata: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor. 8:9).
Yesus memandang kita dengan kasih dan, dalam belas kasihan-Nya, melakukan bagi kita apa yang tidak mungkin kita lakukan bagi diri kita sendiri. Kiranya Tuhan memberi kita anugerah untuk menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang membutuhkan yang kita jumpai setiap hari, dengan hati yang penuh syukur atas belas kasihan yang telah kita terima. Karena di dalam Injil, kita yang miskin secara rohani telah diperkaya oleh kasih karunia Allah, supaya kita pun menjadi saluran kasih-Nya bagi dunia.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 8:1–15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 24-25