TEGURAN ADALAH ANUGERAH YANG MENYELAMATKAN
AMSAL 12–13

 

Anugerah Tuhan bukan hanya menyelamatkan kita, tetapi juga memberi kita hati yang mau dikoreksi dan ditegur. Selama kita belum hidup dalam kekekalan bersama-Nya, kita tetap membutuhkan teguran agar terus dibentuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.

 

Ada seseorang yang sedang berbincang dengan sahabat dekatnya. Tanpa diduga, sahabat itu mulai menegurnya mengenai perkataan yang pernah diucapkan serta sikap hati yang melatarbelakangi perkataan tersebut. Ketika arah pembicaraan mulai terasa tegang, muncul rasa tidak nyaman. Hatinya segera membela diri, mencari berbagai alasan untuk membuktikan bahwa diri sendiri tidak bersalah.

 

Tidak seorang pun senang ditegur. Teguran sering kali terasa menyakitkan. Namun setelah merenungkannya, ia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang sempurna. Ia tahu bahwa perkataannya saat itu dipengaruhi oleh kemarahan. Meskipun hati ingin mempertahankan diri, ia akhirnya mengakui bahwa sahabatnya benar. Oleh anugerah Allah, ia berhenti membenarkan diri, mendengarkan dengan rendah hati, lalu meminta pengampunan.

 

Firman Tuhan mengajarkan: “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu. Orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya. Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang.” (Ams. 12:1–3).

 

Bayangkan jika suatu hari ada seseorang menelepon dan berkata bahwa, “Aku ingin datang untuk menegurmu”, bagaimana respons Anda? Mungkin yang langsung terbayang adalah teguran yang keras, menyakitkan, penuh tuduhan, dan kritik yang tajam. Namun, kitab Amsal menunjukkan sudut pandang yang berbeda. Teguran bukanlah sesuatu yang seharusnya kita hindari, melainkan sesuatu yang sangat berharga, bahkan tanda hikmat, yang seharusnya kita rindukan. Teguran adalah salah satu bentuk kasih karunia Allah. Mengapa demikian? Karena dosa membuat kita buta terhadap diri sendiri. Kita sering tidak melihat dengan jelas kondisi hati, sikap, dan perkataan kita sendiri. 

 

Dosa bukan hanya membuat manusia bersalah di hadapan Allah, tetapi juga menipu hati sehingga merasa diri sudah benar. Karena itulah setiap orang membutuhkan pertolongan dari luar dirinya untuk melihat apa yang tidak dapat dilihatnya sendiri. Inilah kabar baik Injil. Yesus Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa, tetapi juga memulihkan hati yang telah dibutakan oleh dosa. Melalui Roh Kudus, Allah membuka mata rohani sehingga seseorang dapat melihat dirinya dengan jujur dan bertobat.

 

Sering kali Allah memakai orang-orang di sekitar Anda: keluarga, sahabat, pasangan, pemimpin rohani, atau rekan seiman untuk menyampaikan teguran yang membangun. Yesus datang untuk membuka mata orang yang buta, dan Ia juga mengirim orang-orang ke dalam hidup kita sebagai alat-Nya untuk membantu kita melihat kebenaran tentang diri kita. Teguran yang kita alami bukanlah tanda penolakan Allah, melainkan bukti bahwa Ia sedang membentuk kita semakin serupa dengan Kristus. Ketika Anda menerima teguran yang benar, sesungguhnya Anda sedang mengalami kasih karunia Allah yang bekerja dalam hidup kita. Allah terlalu mengasihi anak-anak-Nya untuk membiarkan mereka terus hidup dalam dosa tanpa dikoreksi.

 

Hari ini, janganlah terburu-buru membela diri ketika menerima teguran. Datanglah kepada Kristus dengan kerendahan hati. Mintalah anugerah-Nya agar mampu menerima koreksi dengan hati yang terbuka, sebab Allah sering memakai teguran untuk membentuk hidup kita semakin serupa dengan Anak-Nya. Orang yang hidup di dalam Injil tidak takut ditegur, karena identitasnya tidak dibangun di atas kesempurnaannya sendiri, melainkan di atas kasih karunia Kristus yang tidak pernah berubah.

 

Refleksi

Bacalah Wahyu 3:14–22 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 12-13