PERKATAAN CERMINAN DARI HATI
AMSAL 10–11

 

Kalau sungguh-sungguh membaca Alkitab, kita akan menyadari satu hal: kata-kata itu penting. Apa yang kita ucapkan memiliki dampak, sehingga Alkitab menegur sekaligus mendorong kita untuk menggunakan perkataan dengan benar.

 

Alkitab mengajarkan bahwa kata-kata memiliki kuasa yang besar. Karena itu, kitab Amsal berulang kali mengingatkan kita agar memperhatikan bagaimana kita berbicara. Perhatikan dan renungkan apa yang Amsal katakan tentang dampak dari perkataan manusia: “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui. Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh. Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman. Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam. Kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya, tetapi yang menjadi kebinasaan bagi orang melarat ialah kemiskinan. Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa. Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat. Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal. Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.” (Ams. 10:9–21).

 

Perkataan kita tidak pernah netral. Kata-kata dapat menghasilkan buah yang baik atau buah yang buruk. Kita dapat menghibur seseorang yang sedang terluka, tetapi kita juga dapat menghancurkan semangatnya hanya dengan satu kalimat. Dengan perkataan, kita dapat membantu orang mengenal Allah atau justru menjauhkan mereka dari-Nya. Kita dapat memulihkan hubungan atau memperdalam perpecahan. Kita dapat menyampaikan kasih, pengharapan, dan hikmat, atau menyebarkan kebencian, kesombongan, dan kebohongan. Karena itu, perkataan kita mencerminkan kondisi hati kita. Apa yang keluar dari mulut menunjukkan apa yang memenuhi hati.

 

Sering kali kita menganggap perkataan sebagai sesuatu yang sepele. Kita berbicara tanpa berpikir, melontarkan kata-kata dengan emosi, atau merasa bahwa ucapan kita tidak akan berdampak besar. Dan Alkitab mengingatkan bahwa setiap perkataan membawa konsekuensi. Lidah yang kecil dapat menghasilkan dampak yang sangat besar.

 

Namun Injil menunjukkan bahwa akar persoalan kita bukan terutama pada lidah, melainkan pada hati yang telah dicemari dosa. Kita tidak hanya membutuhkan pengendalian diri, tetapi hati yang diperbarui oleh kasih karunia Allah. Tanpa perubahan hati, perkataan kita pada akhirnya akan terus dikuasai oleh dosa. Kabar baiknya, Yesus Kristus datang untuk menebus bukan hanya tindakan kita, tetapi juga hati kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus mengampuni dosa-dosa perkataan kita—setiap kebohongan, kata-kata kasar, fitnah, gosip, maupun ucapan yang melukai sesama. Roh Kudus juga terus menguduskan kita sehingga mulut yang dahulu dipakai untuk melukai kini dapat dipakai untuk memberkati.

 

Ketika hati dipenuhi oleh Injil, perkataan pun mulai berubah. Orang yang telah mengalami kasih Kristus akan semakin belajar mengucapkan kebenaran dengan kasih, memberi penghiburan kepada yang lemah, menegur dengan kelemahlembutan, mengampuni dengan tulus, dan membangun orang lain melalui setiap kata yang diucapkannya.

 

Hari ini, mintalah kepada Tuhan agar memenuhi hati dengan kasih karunia Kristus. Sebab ketika hati diubahkan oleh Injil, lidah pun akan menghasilkan perkataan yang membawa kehidupan, mencerminkan hikmat Allah, dan memuliakan nama-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk selalu mengingat bahwa kata-kata itu penting, dan menolong kita untuk memakai perkataan kita untuk menghasilkan buah kebenaran.

 

Refleksi
Bacalah Yakobus 3:1–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 10-11