KEBESARAN UNTUK KEMULIAAN TUHAN
2 TAWARIKH 9–12

 

Allah menjadikan seseorang besar, bukan untuk kemuliaannya sendiri, tetapi untuk kemuliaan-Nya.

 

Mungkin kita pernah melihat seseorang yang sangat berbakat dalam pelayanan, tetapi perlahan kehilangan arah, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Ia memiliki pikiran yang tajam dan kemampuan berbicara yang luar biasa. Pada awal pelayanannya, ia sadar bahwa semua karunia itu diberikan Tuhan untuk tujuan yang jauh lebih besar daripada keberhasilan pribadinya. Ia hidup dengan pemahaman yang dalam tentang panggilan Injil dan memakai kemampuannya untuk menolong orang bertumbuh dalam kebenaran Yesus Kristus yang mengubahkan hidup. 

 

Namun perlahan semuanya berubah. Pelayanannya mulai berpusat pada dirinya sendiri. Semua hal menjadi tentang dirinya. Ia menjadi berhasil dan berkuasa, lalu hatinya mulai dipenuhi kesombongan. Nasihat yang dahulu diterima dengan rendah hati kini ditolak. Ia mulai mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya mengatakan hal-hal yang ingin ia dengar. Ia menikmati menceritakan keberhasilan pelayanannya dan menikmati pujian manusia. Orang yang dulu lembut hatinya berubah menjadi keras dan mudah marah. Dahulu ia memimpin dengan dorongan dan visi, tetapi kemudian memimpin dengan intimidasi dan ancaman. Itu menjadi kisah kemerosotan rohani yang tragis, dan tidak lama kemudian semua yang dibangunnya runtuh. 

 

Ketika melihat kejatuhan rohani seperti ini, muncul pertanyaan: mengapa Tuhan membuat seseorang menjadi besar? Mengapa Ia memberikan karunia yang luar biasa? Mengapa Ia mempercayakan sumber daya yang besar dan orang-orang yang cakap dan setia di sekelilingnya?

 

Alkitab berulang kali menunjukkan bahwa kebesaran manusia bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana. Tuhan tidak mencurahkan kebesaran-Nya kepada manusia supaya mereka menikmati kemuliaan diri sendiri dan dipuji oleh orang lain. Ia tahu bahaya dari kebesaran itu. Ia tahu betapa cepat rasa syukur yang rendah hati bisa berubah menjadi kesombongan. Ia tahu bahwa keberhasilan sering kali lebih berbahaya secara rohani daripada kegagalan. Lalu mengapa Tuhan membuat seseorang besar?

 

Jawabannya terlihat dalam perkataan ratu Syeba ketika ia melihat kebesaran Salomo: “Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta-Nya sebagai raja untuk TUHAN, Allahmu! Karena Allahmu mengasihi orang Israel, maka Ia menetapkan mereka untuk selama-lamanya, dan menjadikan engkau raja atas mereka untuk melakukan keadilan dan kebenaran.” (2Taw. 9:8).

 

Ratu Syeba mengerti bahwa kebesaran Salomo bukan terutama tentang Salomo. Kebesaran itu adalah tentang kasih dan kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya. Kebesaran manusia bukanlah milik pribadi, melainkan alat yang Tuhan percayakan demi kebaikan umat-Nya dan demi kemuliaan nama-Nya.

 

Di dalam Injil, kita melihat teladan yang sempurna dalam diri Yesus Kristus. Ia adalah Raja di atas segala raja, namun Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang. Kristus memakai kuasa-Nya bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menyelamatkan manusia berdosa melalui salib. Inilah Injil: kebesaran sejati dipakai untuk mengasihi, melayani, dan memuliakan Tuhan. Karena itu, apa pun karunia, kemampuan, posisi, atau keberhasilan yang Tuhan percayakan kepada kita, semuanya bukan untuk membangun nama kita sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan Kristus Sang Raja.

 

Refleksi
Bacalah Matius 20:20-28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini: 

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 9-12