HARAPAN ANDA PADA SIAPA?
2 TAWARIKH 5–8

 

Setiap orang menggantungkan harapannya pada sesuatu. Dan apa/siapa yang menjadi tempat kita berharap, itulah yang menguasai hati kita. Apa yang menguasai hati kita, pada akhirnya akan mengendalikan hidup kita dan segala yang kita lakukan.

 

Pengharapan ada di dalam hati dan dalam perkataan setiap manusia. Kita sering berkata:
“Aku harap semuanya baik-baik saja.”
“Aku harap aku diterima kerja.”
“Aku harap cuacanya bagus.”
“Aku harap masalah pernikahanku selesai.”
“Aku harap anakku bertumbuh mengasihi Tuhan.”
“Aku harap sembuh dari penyakit ini.”
“Aku harap apa yang Tuhan katakan itu benar.”
“Aku harap mampu membayarnya.”

 

Pengharapan adalah penantian terhadap sesuatu atau hasil tertentu. Setiap hari, hidup kita digerakkan oleh pengharapan kepada seseorang atau sesuatu. Sering kali kita bahkan tidak menyadarinya. Masalahnya adalah: begitu banyak hal yang kita harapkan pada akhirnya mengecewakan. 

 

Pengharapan dalam pernikahan bisa menjadi lemah karena pernikahan adalah hubungan dua orang berdosa yang masih bergumul dengan dosa. Pengharapan kepada anak-anak juga bisa goyah, sebab meskipun kita membimbing, menyediakan, dan mendisiplin mereka, kita tidak memiliki kuasa penuh atas hati mereka. Pengharapan pada pekerjaan pun rapuh, karena kita tidak dapat mengendalikan atasan, perusahaan, atau keadaan ekonomi. Pengharapan pada kekuatan fisik juga akan memudar seiring bertambahnya usia dan datangnya penyakit. Kegagalan dari pengharapan-pengharapan duniawi ini seharusnya mendorong kita untuk semakin berpegang pada pengharapan yang sejati, yaitu pengharapan kepada Allah.

 

Dalam 2 Tawarikh 5, bangsa Israel sedang berada dalam momen perayaan besar. Bukan karena kemenangan politik atau militer, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih dalam dan rohani. Mereka bersukacita karena Salomo telah menyelesaikan pembangunan Bait Suci. Tabut perjanjian dan seluruh perlengkapan tempat kudus telah ditempatkan di dalamnya. Dan kemuliaan TUHAN turun memenuhi rumah-Nya.

 

Ini adalah momen yang mulia, yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain. Bait Suci, tabut perjanjian, dan tanda nyata kehadiran Allah di tengah umat-Nya mengingatkan mereka siapa mereka sebenarnya, dan di mana pengharapan yang sejati, setia, dan tidak mengecewakan itu ditemukan. Sebagai respons atas kesetiaan Tuhan, mereka menyanyikan: "Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (2Taw. 5:13).

 

Israel dibebaskan dari Mesir karena kasih setia TUHAN tetap untuk selama-lamanya. Mereka dipelihara di padang gurun karena kasih setia TUHAN tetap untuk selama-lamanya. Mereka menaklukkan negeri perjanjian karena kasih setia TUHAN tetap untuk selama-lamanya. Mereka menjadi bangsa dengan Bait Suci yang dipenuhi kehadiran Tuhan karena kasih setia TUHAN tetap untuk selama-lamanya. Segala sesuatu dalam hidup mereka berdiri di atas kasih setia Tuhan yang tidak berubah.

 

Namun semua itu menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: Yesus Kristus. Di dalam Injil, kita melihat bahwa pengharapan sejati bukan ditemukan pada bait fisik, keberhasilan hidup, relasi manusia, kesehatan, atau kekuatan diri. Pengharapan sejati adalah Kristus sendiri yang datang tinggal di tengah umat-Nya.

 

Yesus adalah bukti tertinggi bahwa kasih setia Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Di kayu salib, Yesus menanggung dosa dan kegagalan kita, termasuk saat kita lebih berharap kepada dunia daripada kepada Allah. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus memberikan pengharapan yang tidak dapat dihancurkan oleh dosa, penderitaan, usia, kegagalan, bahkan kematian.

 

Segala sesuatu di dunia ini akan berlalu, tetapi kasih setia Tuhan di dalam Kristus tidak akan pernah berakhir. Karena itu, jangan meletakkan dasar hidup pada sesuatu yang sementara. Letakkan pengharapan Anda pada Tuhan. Ia berdaulat. Ia mahakuasa. Ia kudus. Ia setia. Ia baik. Dan Ia layak menjadi tempat pengharapanmu selamanya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 42:1–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 5-8