HIDUP UNTUK KEMULIAAN-NYA
DANIEL 4-6

 

Kita diciptakan bukan untuk hidup bagi kemuliaan diri kita sendiri, melainkan untuk kemuliaan Dia yang telah menciptakan kita.

 

Inilah pergumulan terbesar dalam hidup manusia yaitu keinginan untuk hidup bagi kemuliaan diri sendiri. Keinginan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri bisa menghancurkan hidup kita, tetapi ketika kita hidup bagi kemuliaan Tuhan, kita menemukan damai dan kepuasan yang bertahan lama.

 

Tuhan memang merancang kita untuk memiliki hati yang tertuju kepada kemuliaan. Itulah sebabnya kita senang menikmati hal-hal yang indah, agung, dan membuat kita terkagum-kagum, seperti matahari terbenam di atas laut, musik yang indah, makanan yang lezat, atau sebuah acara yang menyenangkan. Kita semua memiliki kecenderungan untuk mencari dan menikmati kemuliaan.

 

Tuhan dengan sengaja menempatkan kita di dalam dunia yang penuh dengan kemuliaan. Setiap hari dalam hidup kita adalah sebuah pertunjukan kemuliaan, karena kita dikelilingi oleh berbagai keindahan ciptaan Tuhan. Namun, setiap kemuliaan dalam ciptaan sebenarnya adalah tanda yang menunjuk kepada kemuliaan Sang Pencipta, yaitu Tuhan yang menciptakan semuanya. Hanya kemuliaan-Nya yang memiliki kuasa untuk memenuhi dan memuaskan hati kita.

 

Masalahnya, kita semua, dengan satu dan lain cara, sering mencari kepuasan hati dari hal-hal yang diciptakan. Tetapi semua itu tidak pernah benar-benar dapat memuaskan kita, karena memang bukan untuk itulah semua itu diciptakan. Kita diciptakan untuk kemuliaan Tuhan, sehingga tidak ada ciptaan yang mampu memberikan kepuasan yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan. 

 

Pernikahan Anda tidak diciptakan untuk memuaskan kerinduan hatimu akan kemuliaan. Demikian juga pekerjaanmu, jumlah uang di rekeningmu, anak-anakmu, ataupun barang-barang yang kamu miliki. Pengganti kemuliaan Tuhan yang paling berbahaya adalah kemuliaan diri sendiri. Tidak ada yang lebih menggoda, menarik, menipu, dan menggiurkan daripada keinginan untuk memuliakan diri sendiri. Keinginan akan kesuksesan, kekuasaan, pengakuan, dan kendali atas hidup dalam berbagai bentuk dapat menggoda kita semua. Bahaya dari hidup bagi kemuliaan diri sendiri adalah kita mulai menjadikan diri kita sebagai pusat kehidupan. 

 

Hal inilah yang kita lihat dalam kitab Daniel melalui kehidupan Nebukadnezar. Raja Babel ini begitu terobsesi dengan kekuasaan dan kemuliaan dirinya sendiri. Bahkan setelah mendengar peringatan Tuhan yang penuh kesabaran dan kasih karunia, Nebukadnezar masih berdiri di balkon istananya sambil memandang kerajaannya dan berkata: "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" (Dan. 4:30).

 

Betapa jelas dan beraninya pernyataan tentang kemuliaan diri sendiri itu! Namun, ketika perkataan itu masih ada di mulut sang raja, Tuhan merendahkannya hingga ia kehilangan kemuliaan dan kehormatannya sebagai seorang raja.

 

Mengapa kitab Daniel memberikan perhatian khusus kepada obsesi Nebukadnezar terhadap kemuliaan dirinya sendiri? Jawabannya jelas. Kisah ini ada di dalam Alkitab karena Tuhan mengasihi kita. Kisah ini dicatat dan dipelihara sebagai sebuah peringatan bagi kita.

 

Namun, ada sesuatu yang lebih dalam lagi. Kisah ini bukan hanya tentang Nebukadnezar. Kisah ini juga tentang Yesus. Yesus merendahkan diri-Nya dan menjadi hamba yang taat, bahkan sampai mati. Dia melakukan semua itu supaya kita dibebaskan dari belenggu hidup yang berpusat pada diri sendiri dan dapat hidup dalam kebebasan untuk mengejar kemuliaan yang jauh lebih besar.

 

Kesombongan Nebukadnezar yang meninggikan dirinya sendiri menunjukkan betapa kita membutuhkan kerendahan hati Sang Anak, yaitu Yesus. Nebukadnezar meninggikan dirinya sendiri dan akhirnya dipermalukan. Tetapi kerendahan hati Yesus justru menjadi jalan keselamatan bagi kita. Kerendahan hati-Nya menjadi jalan bagi kebebasan kita. Kematian-Nya menjadi pintu menuju kehidupan kita.

 

Di dalam Kristus, kita menemukan kekuatan yang kita perlukan untuk melawan godaan mencari kemuliaan diri sendiri dan mulai hidup sebagai orang-orang yang dibentuk oleh kemuliaan Tuhan yang benar-benar memuaskan hati. Kita tidak diciptakan untuk menjadi pusat kehidupan kita sendiri. Kita diciptakan untuk menikmati kemuliaan Tuhan dan hidup bagi kemuliaan-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 115:1-18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 4-6