KETIKA TUHAN MEMANGGIL, IA JUGA MEMAMPUKAN
DANIEL 1-3

 

Tuhan tidak selalu memanggil kita untuk melakukan tugas tertentu karena kita secara alami mampu melakukannya, tetapi karena Dia sanggup memampukan kita.

 

Kitab Daniel berfokus pada pemerintahan Tuhan yang berdaulat atas sejarah manusia dan bangsa-bangsa. Bangsa Israel telah dibawa ke dalam pembuangan oleh Babel. Rasanya sulit dipercaya bahwa, setelah semua janji yang Tuhan berikan, Dia membiarkan hal ini terjadi. Sepertinya semuanya sudah berakhir bagi Israel. Namun, tidak lama kemudian kita melihat bahwa ternyata belum berakhir.

 

Di antara orang-orang yang dibawa ke dalam pembuangan itu ada empat pemuda: Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya. Mereka bukan sekadar tawanan biasa. Mereka dibawa ke Babel sesuai dengan rencana Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya: “Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.” (Dan. 1:17–21).

 

Coba bayangkan kalau kita berada dalam situasi mereka. Bagaimana perasaan kita kalau tiba-tiba harus meninggalkan rumah, keluarga, bangsa, bahkan identitas kita? Kita ditempatkan di negeri asing yang tidak kita pilih dan berada di bawah kekuasaan orang yang tidak kita kenal.  Apa yang mungkin muncul dalam pikiran kita ketika dipanggil untuk berdiri di hadapan raja? Mungkin banyak pertanyaan muncul dalam pikiran mereka. “Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi?” “Apa yang akan terjadi dengan hidup kami?” “Apa yang bisa kami lakukan di tempat seperti ini?” Tetapi keempat pemuda ini berdiri di hadapan Nebukadnezar karena panggilan Tuhan atas hidup mereka. Mereka bukan sekadar tawanan yang berada di Babel. Mereka adalah hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi.

 

Ini adalah salah satu bagian yang paling menguatkan dalam Perjanjian Lama. Tuhan memilih mereka untuk melakukan pekerjaan penting di Babel. Namun Tuhan tidak memilih mereka karena mereka memiliki karakter yang sempurna, kemampuan alami yang luar biasa, atau karena tempat itu merupakan tempat yang mudah bagi mereka. Tuhan memanggil mereka bukan karena mereka mampu, tetapi karena Dia mampu.

 

Perhatikan kembali bagian ini: “... Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat… didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.” (Dan. 1:17, 20). Alkitab mengatakan bahwa “Allah memberikan” kepada mereka pengetahuan dan kepandaian. Semua kemampuan yang mereka miliki pada akhirnya bukan alasan untuk memegahkan diri. Kemampuan itu adalah pemberian Tuhan untuk mengerjakan panggilan-Nya. 

 

Begitu juga ketika Tuhan memanggil kita melakukan sesuatu. Ketika Tuhan memanggil kita, Dia juga memberikan kemampuan yang kita perlukan untuk menjalankan panggilan tersebut. Karena itu, keberhasilan dalam pekerjaan Tuhan bukan terutama tentang seberapa hebat kemampuan, hikmat, atau karakter kita. Pada akhirnya, semua pujian harus kembali kepada Tuhan.

 

Mungkin hari ini kita merasa kewalahan dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Mungkin kita merasa tidak cukup mampu, tidak cukup pintar, tidak cukup berpengalaman, atau tidak cukup kuat. Tetapi ingatlah ini: Ketika Tuhan mengutus kita, Dia pergi bersama kita. Ketika Tuhan memanggil kita, Dia memampukan kita. Kita tidak perlu menunggu sampai merasa cukup mampu untuk menaati panggilan Tuhan. Kita dapat melangkah karena yang menjadi dasar pengharapan kita bukan kemampuan kita, melainkan kemampuan dan penyertaan Tuhan.

 

Dan pada akhirnya, ini menunjuk kepada Injil: Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk hidup bagi-Nya, tetapi di dalam Kristus Dia juga mengubah dan memperlengkapi kita untuk menjalani hidup yang baru. Jadi, ketika kita merasa tidak sanggup, kita tidak perlu melihat kepada diri sendiri terlebih dahulu. Lihatlah kepada Tuhan yang memanggil, menyertai, dan memampukan kita.

 

Refleksi
Bacalah Kisah Para Rasul 1:1-8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 1-3