IMAN KEPADA TUHAN
MARKUS 6-7
Ada perbedaan besar antara mengagumi Tuhan dan beriman kepada-Nya. Kita bisa begitu kagum kepada Allah, tetapi belum tentu sungguh-sungguh menaruh iman dan kepercayaan kita kepada-Nya.
Ketika membaca Alkitab, kita perlu memiliki hati yang ingin mengenal Tuhan lebih dalam. Jangan hanya membaca untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi belajarlah mengajukan pertanyaan. Mengapa detail-detail ini dicatat? Mengapa Tuhan merespons dengan cara demikian? Apa yang sedang Tuhan nyatakan tentang diri-Nya dan cara kerja-Nya? Apa yang bagian ini ajarkan tentang hati manusia yang berdosa? Bagaimana kisah ini memperlihatkan siapa Yesus dan anugerah-Nya? Dan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup setelah memahami kebenaran ini?
Mari kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika membaca Markus 6:45-52: “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.”
Dalam bagian ini, Yesus sedang menyatakan kemuliaan-Nya sebagai Mesias kepada para murid. Ada banyak hal yang dapat kita perhatikan dari bagian ini, tetapi mari kita memperhatikan satu hal penting. Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas seluruh ciptaan. Dia berkuasa melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya atas dunia yang telah diciptakan-Nya, termasuk berjalan di atas air.
Bagaimana respons para murid? Mereka sangat takjub! Sekilas, respons ini tampaknya baik. Bukankah wajar jika seseorang merasa kagum ketika menyaksikan kuasa Tuhan yang begitu besar? Namun, Markus ingin menunjukkan bahwa kekaguman mereka belum tentu merupakan tanda iman yang sejati. Sebelumnya, para murid telah menyaksikan Yesus memberi makan lima ribu orang secara ajaib. Tetapi mereka masih belum benar-benar memahami siapa Yesus. Bahkan, Markus mengatakan bahwa hati mereka masih keras.
Di sinilah kita melihat sebuah kebenaran yang penting yaitu ada perbedaan besar antara mengagumi Yesus dan sungguh-sungguh beriman kepada-Nya. Kita bisa kagum terhadap kisah-kisah dalam Alkitab dan ajaran Kristen, tetapi belum tentu hidup dengan iman yang sungguh kepada Kristus. Kita bisa kagum dengan khotbah yang disampaikan di gereja, tetapi belum tentu memercayakan hidup kita kepada Tuhan. Kita bisa kagum melihat kehangatan dan kasih dalam komunitas kecil kita, tetapi belum tentu benar-benar hidup dalam iman kepada Yesus. Berjalan di atas air adalah peristiwa luar biasa yang menyatakan kemuliaan Yesus sebagai Mesias. Namun, sekalipun para murid menyaksikannya sendiri, kekaguman mereka belum disertai dengan iman. Seperti yang dicatat Markus, hati mereka masih keras.
Bukankah kita juga sering seperti itu? Kita bisa berkali-kali menyaksikan kebaikan dan pemeliharaan Tuhan, tetapi ketika kesulitan datang, kita kembali diliputi ketakutan dan keraguan. Kita tahu bahwa Tuhan berkuasa, tetapi hati kita masih sulit untuk sungguh-sungguh bersandar kepada-Nya. Karena itu, yang paling kita butuhkan bukan sekadar pengalaman rohani yang membuat kita semakin kagum. Kita membutuhkan anugerah Allah yang melembutkan hati kita dan menolong kita untuk sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.
Kiranya Tuhan memberikan anugerah kepada kita, bukan hanya untuk mengagumi siapa Dia, tetapi juga untuk beriman dan memercayakan hidup kita kepada-Nya, sehingga kita dapat menemukan ketenangan di dalam Kristus, bahkan ketika badai kehidupan datang.
Refleksi
Bacalah Yohanes 20:24-31 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 6-7