KEBERANIAN UNTUK TAAT
2 TAWARIKH 17–20

 

Tidak ada keberanian yang lebih besar daripada ketika seseorang berani melakukan apa yang benar, karena ia percaya penuh pada hikmat, perintah, penyertaan, kuasa, dan kasih karunia Tuhan.

 

Kita semua menyukai kisah tentang keberanian. Kita terinspirasi oleh seorang prajurit yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan rekan-rekannya. Kita kagum pada orang-orang yang meskipun memiliki keterbatasan fisik, tetap mampu melakukan hal-hal besar. Kita terharu saat mendengar kisah para petugas pemadam kebakaran yang naik ke gedung yang terbakar ketika orang lain berlari turun untuk menyelamatkan diri. Namun, di balik semua kisah itu, sering muncul satu pertanyaan dalam hati: jika aku berada dalam situasi seperti itu, apakah aku akan memiliki keberanian yang sama? Keberanian adalah sesuatu yang dikagumi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang merasa benar-benar memilikinya. Kita bertanya-tanya dari mana keberanian sejati berasal? Seperti apa keberanian itu dalam kehidupan nyata? 

 

2 Tawarikh 17 memberi kita gambaran. Tentang raja Yosafat, firman Tuhan berkata: “Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel. Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat. Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.” (2Taw. 17:3–6).

 

Di tengah segala kekayaan dan kehormatan yang dimiliki Yosafat, Alkitab menyoroti satu hal yang paling penting yaitu hatinya berani karena ia hidup di dalam jalan TUHAN. Yosafat adalah seorang raja yang begitu percaya kepada Tuhan, kepada penyertaan-Nya, kuasa-Nya, dan firman-Nya, sehingga ia berani bertindak melawan dosa dan kejahatan. Ia meruntuhkan tempat-tempat penyembahan berhala, berdiri melawan arus budaya rohani yang rusak pada zamannya.

 

Keberanian yang terbesar bukanlah keberanian fisik, melainkan keberanian untuk taat dan setia kepada Tuhan di tengah dunia yang tidak mengenal-Nya. Namun keberanian seperti ini tidak muncul secara alami dalam diri kita. Hati kita mudah takut, mudah kompromi, dan mudah mencari kenyamanan diri. Karena itu kita membutuhkan kasih karunia Tuhan. 

 

Di sinilah Injil menjadi kabar yang penuh pengharapan: Yesus Kristus, datang untuk menyelamatkan kita melalui hidup, kematian, dan kebangkitan-Nya. Di kayu salib, Yesus menunjukkan keberanian dan ketaatan yang sempurna kepada Bapa demi menebus manusia berdosa. Kristus bukan hanya memberi teladan keberanian, Ia juga memberi hati yang baru bagi orang yang percaya kepada-Nya.

 

Karena anugerah-Nya, kita dimampukan untuk berdiri teguh, melawan dosa, dan tetap setia kepada Tuhan sekalipun dunia berjalan ke arah yang berbeda. Tuhan mendengar seruan umat-Nya dan memberikan keberanian kepada mereka yang mencari Dia.

 

Refleksi
Bacalah Daniel 3:8-30 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 17-20