BERKATA TIDAK PADA DOSA
MARKUS 8-9
Di dalam kehidupan ini, tidak ada yang lebih penting daripada mengatakan “ya” kepada Allah dan “tidak” kepada dosa.
Pernikahan Anda dibentuk oleh kesediaan Anda untuk berkata tidak. Cara Anda mendidik anak juga dibentuk oleh kesediaan Anda untuk berkata tidak. Begitu pula dengan persahabatan dan persekutuan Anda dengan saudara seiman. Semuanya sangat dipengaruhi oleh bagaimana Anda belajar mengatakan tidak. Yang dimaksud bukanlah mengatakan tidak kepada pasangan, anak, atau orang lain, melainkan belajar mengatakan tidak kepada keinginan berdosa dalam hati kita sendiri.
Mengapa hal ini begitu penting? Karena salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan kita bukan hanya berasal dari dunia di sekitar kita, tetapi juga dari dosa yang masih tinggal di dalam hati. Dosa membuat kita mudah tertarik pada hal-hal yang tampaknya menyenangkan, tetapi perlahan-lahan menjauhkan kita dari Allah. Kita tergoda untuk mencari kenyamanan dengan cara yang salah, mempertahankan kebohongan, menyimpan kepahitan, atau mengikuti keinginan yang bertentangan dengan firman Tuhan.
Ketika menghadapi pencobaan, ada dua hal yang perlu kita ingat. Pertama, kita tidak mampu mengalahkan dosa dengan kekuatan sendiri. Tekad yang kuat dan disiplin pribadi saja tidak cukup untuk mengubah hati yang berdosa. Kita membutuhkan anugerah Allah yang bekerja di dalam diri kita, memampukan kita untuk menolak pencobaan dan kembali kepada-Nya.
Kedua, kita perlu melihat dosa sebagaimana Allah melihatnya. Selama kita menganggap dosa sebagai sesuatu yang kecil dan tidak berbahaya, kita akan terus mencari alasan untuk mempertahankannya. Padahal, dosa selalu membawa kehancuran, bahkan ketika pada awalnya tampak begitu menarik.
Dalam Markus 9:43–48, Yesus menggunakan gambaran yang sangat keras. Ia mengatakan bahwa lebih baik kehilangan tangan, kaki, atau mata daripada membiarkan dosa membawa seseorang kepada kebinasaan.
Apakah Yesus benar-benar memerintahkan kita untuk melukai tubuh sendiri? Tentu tidak. Yesus sedang menggunakan bahasa kiasan untuk menunjukkan betapa seriusnya dosa. Masalah terbesar manusia bukan terletak pada anggota tubuh, melainkan pada hati yang berdosa. Karena itu, membuang sesuatu yang menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa mungkin diperlukan, tetapi tindakan tersebut tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan hati. Sebab dosa tidak bisa dikalahkan hanya dengan mengubah perilaku. Kita membutuhkan hati yang diperbarui oleh anugerah Kristus.
Inilah kabar baik Injil. Yesus tidak hanya datang untuk mengajarkan bagaimana kita harus melawan dosa. Ia datang untuk menyelamatkan kita dari dosa yang tidak sanggup kita kalahkan sendiri. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus menanggung hukuman dosa dan membebaskan umat-Nya dari kuasa dosa.
Karena itu, ketika kita berjuang meninggalkan dosa, kita tidak sedang berusaha membuat Allah lebih mengasihi kita. Justru karena kita telah dikasihi dan diterima di dalam Kristus, kita dimampukan oleh Roh Kudus untuk hidup dalam pertobatan dan ketaatan.
Hari ini, jangan berdamai dengan dosa yang sedang kita pertahankan. Datanglah kepada Kristus, akuilah dosa itu dengan jujur, dan mintalah anugerah-Nya untuk mengambil langkah nyata meninggalkannya. Sebab, anugerah yang menyelamatkan kita adalah anugerah yang juga terus mengubahkan hidup kita.
Refleksi
Bacalah Mazmur 32:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 8-9