MENUNGGU WAKTU TUHAN
DANIEL 10-12
Inti dari hidup dalam iman adalah kesediaan untuk menantikan Dia yang menggenapi kehendak-Nya pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya.
Satu hal yang kita tidak suka yaitu menunggu. Kita tidak suka ketika sesuatu yang seharusnya cepat justru menjadi lama. Bahkan kita akan begitu kesal, ketika dokter sudah membuat janji pada waktu tertentu, tetapi saat waktunya tiba, kita masih harus menunggu. Kita perlu mengakui bahwa pergumulan kita dalam menunggu bukan hanya berkaitan dengan keadaan atau hubungan kita dengan orang lain. Tidak, ketidaksabaran kita adalah masalah rohani.
Di balik kesulitan kita untuk menunggu, ada rasa frustrasi karena kita bukanlah pribadi yang berkuasa atas segala sesuatu dan kita tidak dapat mengendalikan semua orang maupun keadaan. Kita frustrasi karena kita tidak memiliki kendali, padahal seharusnya kita dapat bersukacita karena ada Pribadi yang duduk di takhta alam semesta, yang memiliki kendali yang tidak tergoyahkan dan kekal atas segala sesuatu.
Ketika kita meminta Tuhan menolong kita hidup oleh iman, kita sebenarnya sedang meminta Tuhan mengajarkan kita untuk bersabar. Kesediaan kita untuk menunggu Tuhan menunjukkan bahwa kita sungguh percaya bahwa Dia ada, Dia baik, Dia bekerja pada waktu yang tepat, dan pada akhirnya Dia akan melakukan apa yang telah Dia janjikan. Karena itu, masuk akal jika kitab Daniel, yang menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan berkuasa atas sejarah setiap bangsa dan setiap pemerintahan, ditutup dengan panggilan untuk bersabar: “... Berbahagialah orang yang tetap menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari. Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman." (Dan. 12:12–13).
Jika kita memahami angka 1.335 dalam konteks angka-angka dalam Daniel 12, angka tersebut menunjukkan seseorang yang bersedia menunggu lebih lama dari yang ia harapkan. Ia tetap bersedia melakukan apa yang Tuhan panggil untuk ia lakukan, sekalipun Tuhan belum bertindak pada waktu yang ia perkirakan. Janji dalam bagian ini adalah bahwa jika kita bersedia menunggu, tempat dan perhentian yang telah Tuhan janjikan akan kita terima sesuai waktu-Nya.
Hari ini, Tuhan juga memanggil kita untuk menunggu. Ada hal-hal yang sudah lama kita rindukan dan doakan, tetapi sampai sekarang belum terjadi. Hidup oleh iman berarti berdiri di antara apa yang sedang kita alami dan apa yang sedang kita nantikan. Di tengah keadaan yang sulit dan penantian yang panjang, kita tidak berhenti percaya kepada kebaikan, kuasa, dan hikmat Tuhan. Kita terus percaya dan taat karena kita tahu bahwa Tuhan masih memegang kendali. Tuhan tetap berkuasa, dan Dia sedang mengarahkan seluruh dunia menuju penggenapan dari semua yang telah Dia janjikan.
Jadi, apakah hari ini Anda sedang bergumul untuk menunggu? Tuhan tidak hanya meminta kita menunggu. Dia juga memberikan kasih karunia yang memampukan kita untuk menunggu. Percayalah kepada Tuhan. Waktu-Nya selalu tepat, cara-Nya selalu baik, dan janji-Nya tidak pernah gagal.
Refleksi
Bacalah Mazmur 27:1-14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 10-12