PENGAKUAN DOSA
Bilangan 5–6
Satu-satunya cara untuk kita merayakan anugerah pengampunan Allah adalah dengan hidup yang dibentuk oleh pengakuan dosa dan jujur kepada-Nya.
Ada satu pasangan muda bertemu dengan pendeta mereka. Lalu pasangan muda ini bertanya: “Menurut kalian, apa kunci dari pernikahan yang baik dan bertahan lama?” Lalu, pendeta ini memberikan jawaban yang praktis dan didukung oleh Alkitab: “Pengakuan dosa dan pengampunan.” Hal ini bukan hanya berlaku dalam pernikahan, tetapi juga dalam setiap hubungan apa pun yang akan setiap orang jalani. Tidak mungkin ada hubungan yang sehat dan bertahan lama antara dua orang berdosa di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, tanpa komitmen pada kebiasaan rendah hati untuk mengaku dosa.
Jika hal ini benar dalam hubungan antar manusia, betapa lebih lagi dalam hubungan antara manusia yang jauh dari sempurna dengan Allah yang sepenuhnya kudus. Bagaimana mungkin Anda mengakui kekudusan Allah dan keberdosaan diri Anda, tetapi tidak hidup dalam pengakuan dosa? Bagaimana mungkin Anda merenungkan standar hukum Allah yang begitu tinggi, tetapi tidak berkomitmen untuk mengaku dosa? Bagaimana mungkin Anda percaya akan adanya kejahatan yang nyata dan si jahat yang nyata, tetapi tidak hidup dalam pengakuan dosa? Bagaimana mungkin Anda mengaku bahwa hidup Anda bukan milik Anda sendiri dan bahwa Allah telah menebus Anda menjadi milik-Nya, tetapi tidak hidup dalam pengakuan dosa?
Kekudusan diri dan pengakuan dosa yang rendah hati tidak dapat dipisahkan. Selama Allah memanggil kita untuk menjadi kudus seperti Dia kudus, dan selama dosa masih tinggal di dalam diri kita, maka pengakuan dosa harus menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup setiap anak Allah.
Pengakuan dosa terkandung di dalam hukum Allah, seperti yang kita lihat dalam Bilangan 5–6. Allah yang kudus, yang memberikan hukum-hukum yang bijaksana dan kudus ini adalah Allah yang penuh dengan anugerah yang mulia. Ia mengenal umat-Nya, Ia mengetahui kondisi dunia tempat mereka hidup, Ia tahu pencobaan-pencobaan yang akan mereka hadapi, dan Ia tahu bahwa mereka akan gagal menaati perintah-perintah-Nya. Karena itu, Ia memanggil mereka untuk hidup dalam kerendahan hati melalui pengakuan dosa. Seseorang tidak dapat berdukacita atas dosa yang tidak ia sadari, dan ia tidak dapat mengakui dosa yang belum ia sesali. Bahkan perintah untuk mengaku dosa ini sendiri sudah mengandung anugerah penebusan. Jika Allah tidak mengaruniakan kepada anak-anak-Nya mata untuk melihat dosa mereka sebagaimana adanya, maka mereka tidak akan pernah mengakuinya dengan benar.
Pasal-pasal ini kembali mengingatkan kita bahwa sistem Perjanjian Lama bukanlah hukum tanpa anugerah. Di dalam hukum Allah yang kudus, terkandung tawaran pengampunan dan pemulihan dari-Nya. Maka tidak mengherankan bila kisah Alkitab tentang Allah dan umat-Nya terus bergerak menuju kedatangan anugerah yang paling sempurna—Sang Pemberi anugerah itu sendiri, Tuhan Yesus Kristus.
Di dalam Injil, kita melihat puncak dari anugerah ini: Yesus, Anak Allah yang kudus, menanggung hukuman dosa kita di kayu salib, supaya setiap orang yang mengaku dosanya dan percaya kepada-Nya menerima pengampunan dan hidup yang baru. Melalui darah-Nya, kita diperdamaikan dengan Allah. Oleh Roh Kudus, kita dimampukan untuk hidup dalam pertobatan yang terus-menerus.
Karena itu, marilah kita hidup dalam terang salib Kristus—dengan hati yang lembut, pengakuan dosa yang jujur, dan syukur yang mendalam atas anugerah pengampunan-Nya. Sebab di sanalah kita menemukan pemulihan sejati dan kehidupan yang memuliakan Allah.
Refleksi
Bacalah Mazmur 32:1–5 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 5-6