KEKUDUSAN ALLAH
Bilangan 3–4

 

Semakin kita mengenal kekudusan Allah, semakin kita rindu untuk terus meninggalkan dosa.

 

Jika kita diminta untuk berdiri di hadapan Allah, kita bukan hanya akan diliputi oleh kekudusan-Nya yang tak terukur, tetapi kita juga akan dipenuhi rasa gentar dan dukacita karena besarnya ketidak-kudusan kita. Sesungguhnya, hanya di dalam terang kekudusan Allah yang sempurna, kita dapat menyadari betapa berdosanya diri kita. Sangat mudah bagi kita untuk bersikap santai terhadap hal-hal yang sangat menyakiti hati Allah yang kudus. Sangat mudah pula membela diri ketika dituduh melakukan kesalahan, padahal di hadapan Allah kita seharusnya berdukacita. Kita kerap mengecilkan arti standar kekudusan Allah dalam momen-momen kecil: dalam pilihan yang kita ambil, dalam perilaku kita, dan dalam perkataan kita. Allah begitu kudus, sehingga Ia benar-benar kudus tanpa cela.

 

Dengarkan peringatan yang serius dari Bilangan 4 ini: “TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Perhatikanlah supaya puak Kehat dan kaum-kaumnya jangan musnah binasa dari tengah-tengah orang Lewi. Inilah yang harus kamu lakukan bagi mereka, supaya mereka tinggal hidup dan jangan mati, apabila mereka mendekat ke barang-barang maha kudus: Harun dan anak-anaknya haruslah masuk ke dalam dan menempatkan mereka masing-masing di tempat tugasnya dekat barang yang harus diangkat. Tetapi janganlah orang Kehat masuk ke dalam untuk melihat barang-barang kudus itu walau sesaatpun, nanti mereka mati." (Bil. 4:17–20).

 

Dalam kemurahan belas kasihan-Nya, Tuhan memperingatkan orang-orang Kehat—yang bertugas merawat benda-benda kudus di Kemah Suci—bahwa mereka tidak boleh masuk ke Ruang Mahakudus dan melihat-lihat ke dalamnya, sebab mereka akan mati. Ini bukan sekadar peringatan bagi para pelayan Kemah Suci, melainkan juga peringatan bagi kita semua. Kekudusan Allah yang sempurna bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Mengabaikan kekudusan Allah dan hidup semaunya berarti menantang Dia—dan itu berbahaya.

 

Jika Allah benar-benar kudus tanpa cela, dan jika Ia adalah Pencipta dan Penguasa atas segala sesuatu, serta Hakim moral yang tertinggi, maka seluruh hidup ini bersifat moral dan serius. Tidak ada satu pun area hidup di mana kita boleh mengambil alih kendali dan hidup sesuka hati. Tidak ada ruang untuk menetapkan aturan kita sendiri. Tidak ada waktu ketika hawa nafsu, kesenangan, dan keinginan kita lebih penting daripada standar kekudusan Allah. Adalah berbahaya untuk menyangkal atau mengabaikan kekudusan Allah. Allah sangat serius tentang kekudusan-Nya, dan seharusnya kita juga demikian.

 

Inilah sebabnya mengapa hari ini—dan setiap hari ke depan—kita perlu merayakan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Bahkan dalam momen-momen paling “kudus” sekalipun, kita semua tetap gagal mencapai kemuliaan standar kekudusan Allah. Karena itu, kita membutuhkan seorang pengganti—seseorang yang hidup dengan kekudusan sempurna dalam segala hal dan menjadi wakil kita. Oleh karena kebenaran Kristus yang sempurna dan menggantikan kita, kita kini dapat datang ke hadirat Allah tanpa takut. Renungkanlah: orang berdosa dapat berdiri di hadapan Allah yang kudus—anugerah yang sungguh menakjubkan! Inilah Injil: di tengah kekudusan Allah yang menakutkan, kita menemukan kasih karunia yang menyelamatkan melalui Yesus Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Roma 15:1–7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 3-4