TUHAN SENANTIASA BERDAULAT
2 TAWARIKH 21–24
Di atas segala kekacauan dunia yang telah jatuh dalam dosa ini, ada Allah yang berdaulat, kehendak-Nya pasti terjadi, dan rencana-Nya tidak akan gagal.
Mungkin Anda pernah berpikir untuk berhenti membaca berita sebab terlalu banyak hal yang menggelisahkan, baik dalam bidang politik, budaya, maupun kehidupan gereja. Jika berita menjadi satu-satunya cara kita melihat dunia, kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa dunia ini benar-benar kacau dan tidak terkendali.
Dari sudut pandang media dan dunia, sering kali terlihat seolah-olah kejahatanlah yang menang. Orang yang berpegang pada kebenaran justru tidak dihargai, bahkan ditolak. Hal-hal yang dilarang Tuhan justru dipromosikan dan dianggap biasa. Semua ini bisa membuat kita merasa takut, lemah, dan putus asa. Namun masalah terbesar zaman ini bukan hanya pengaruh media sosial atau informasi dunia. Masalah terbesarnya adalah ketika kita kehilangan cara pandang yang benar menurut firman Tuhan. Kita membutuhkan “kacamata rohani” agar dapat melihat kebenaran di tengah kekacauan dunia.
Kebenarannya adalah dunia tidak pernah berada di luar kendali Allah. Ia tetap duduk di atas takhta-Nya. Ia tidak pernah kehilangan kuasa-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya. Kejahatan tidak akan menang selamanya. Tuhan semesta alam tetap memerintah. Di dalam 2 Tawarikh 22:7, ada satu kalimat yang mengubah cara kita memahami sejarah umat Tuhan: “Telah ditentukan Allah, bahwa Ahazia akan menemui ajalnya pada waktu ia mengunjungi Yoram.”
Saat membaca kisah raja-raja jahat dalam Perjanjian Lama, kita mungkin bertanya-tanya mengapa kejahatan seolah terus menang. Penyembahan berhala menggantikan penyembahan kepada Allah. Bayi-bayi dikorbankan. Raja-raja memakai kuasa untuk memperkuat diri sendiri. Semua itu bisa membuat kita berpikir bahwa Allah telah kehilangan kendali atas umat-Nya.
Namun, Alkitab menunjukkan hal berbeda. Ahazia memang raja yang jahat. Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan mengikuti dosa keluarganya. Namun firman Tuhan menjelaskan bahwa kejatuhannya tetap berada dalam kedaulatan Allah. Walaupun Ahazia penuh kesombongan dan dosa, ia bukan penguasa tertinggi atas hidupnya sendiri. Segala sesuatu tetap berada di tangan Allah yang tidak terbatas dalam hikmat dan kemuliaan-Nya.
Ayat ini mengajarkan dua hal penting. Pertama, Rencana Allah atas dunia ini sudah ditetapkan bahkan sebelum dunia dijadikan. Tidak ada kejadian yang berada di luar pengetahuan dan kedaulatan-Nya. Kedua, Allah memiliki kuasa penuh untuk menggenapi apa yang telah Ia tetapkan. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.
Untuk itu jangan takut, sebab di tengah dunia yang gelap, Injil mengingatkan kita bahwa Allah tidak tinggal diam terhadap dosa. Ia mengutus Yesus Kristus untuk datang ke dunia yang rusak ini, menanggung hukuman dosa kita di kayu salib, bangkit mengalahkan maut, dan sekarang memerintah sebagai Raja di atas segala raja. Saat keadaan dunia terlihat kacau, salib Kristus mengingatkan bahwa Allah tetap bekerja bahkan melalui situasi yang tampaknya paling gelap sekalipun. Salib yang terlihat seperti kekalahan justru menjadi jalan kemenangan dan keselamatan bagi umat-Nya.
Oleh sebab itu, jangan takut untuk percaya kepada Tuhan. Tuhan tetap memerintah. Rencana-Nya tidak pernah gagal. Dan Kristus akan menyelesaikan seluruh karya keselamatan-Nya dengan sempurna.
Refleksi
Bacalah Yesaya 46:1-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-24