HATI YANG TIDAK PERNAH PUAS
MARKUS 10-11
Mustahil kita benar-benar mempercayai Yesus sebagai Juruselamat jika kita masih mencari kepuasan dari “juruselamat-juruselamat” lain.
Kita sering berpikir bahwa hidup akan terasa lebih lengkap ketika memiliki sesuatu yang selama ini diinginkan. Mungkin uang yang lebih banyak, pekerjaan yang lebih baik, pengakuan dari orang lain, atau pencapaian tertentu. Kita membayangkan bahwa setelah mendapatkannya, hati akan merasa puas. Namun, tidak jarang kepuasan itu hanya bertahan sebentar sebelum kita kembali menginginkan sesuatu yang lain.
Markus 10 mencatat perjumpaan Yesus dengan seorang muda yang kaya. Ia memiliki banyak harta, tetapi ketika Yesus memintanya menjual segala miliknya, memberikan hasilnya kepada orang miskin, lalu mengikut Dia, orang itu pergi dengan sedih. Ia tidak sanggup melepaskan hartanya. Masalahnya bukan sekadar jumlah harta yang dimiliki, melainkan hati yang telah dikuasai oleh harta tersebut. Secara lahiriah, orang ini tampak religius dan berusaha menaati perintah Allah. Namun, ketika Yesus menyingkapkan apa yang sesungguhnya menguasai hatinya, terlihat bahwa ia lebih mengasihi kekayaannya daripada mengikut Tuhan.
Kita mungkin tidak memiliki kekayaan seperti orang muda itu. Namun, berhala hati tidak selalu berbentuk uang. Kita bisa menggantungkan identitas dan rasa aman pada pelayanan, pekerjaan, relasi, kesehatan, kemampuan, atau pengakuan orang lain. Semua itu dapat menjadi pemberian yang baik dari Allah, tetapi ketika kita menjadikannya sumber utama kepuasan dan makna hidup, hati kita mulai menggantikan Allah dengan sesuatu yang diciptakan.
Tidak heran para murid bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Mrk. 10:26). Pertanyaan ini menunjukkan bahwa mereka mulai menyadari betapa seriusnya persoalan tersebut. Jika seseorang yang tampak diberkati dan religius pun tidak sanggup melepaskan apa yang menguasai hatinya, siapa yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri?
Jawaban Yesus menegaskan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang dapat manusia usahakan dengan kekuatannya sendiri. Kita tidak mampu membebaskan hati dari perbudakan dosa hanya dengan tekad yang lebih kuat. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah (Mrk. 10:27).
Itulah sebabnya kita membutuhkan Yesus, bukan sekadar nasihat untuk hidup lebih sederhana. Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia membuka jalan keselamatan yang tidak mungkin kita peroleh melalui harta, prestasi, atau ketaatan kita sendiri.
Anugerah ini juga membebaskan kita untuk bertobat. Kita tidak perlu mempertahankan berhala hati demi merasa aman atau berharga. Di dalam Kristus, kita menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada segala sesuatu yang dapat dunia tawarkan: pendamaian dengan Allah dan hidup yang kekal.
Refleksi
Bacalah Mazmur 63:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 10-11