IMAM YANG TELAH DATANG
Bilangan 7–8

 

Kenyataan bahwa para imam Perjanjian Lama harus berulang kali disucikan seharusnya membuat kita bersyukur atas kedatangan seorang Imam yang tidak membutuhkan penyucian.

 

Pernahkah Anda menyadari bahwa tidak ada satu pun dalam hidup ini yang tetap bersih? Pakaian tidak tetap bersih; rumah tidak tetap bersih; mobil tidak tetap bersih; gigi tidak tetap bersih; garasi tidak tetap bersih—dan masih banyak lagi. Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan segala sesuatu. Namun ada satu hal yang jauh lebih penting untuk disadari: hati kita pun tidak pernah tetap bersih. Dosa membuat kita menyimpang dari standar kekudusan Allah dan menempatkan diri kita pada hal-hal yang tidak murni secara moral. Pencobaan sering kali menggoda kita untuk memandang indah apa yang sebenarnya Tuhan sebut sebagai sesuatu yang jahat. Debu dan kotoran dari hati yang belum sepenuhnya bebas dari dosa membuat kita semua terus-menerus membutuhkan aliran anugerah Allah yang menyucikan.

 

Karena itulah kita menemukan perintah ini dalam Bilangan 8:5–6: “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Ambillah orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel dan tahirkanlah mereka.’” Sebelum para imam melayani Tuhan dan mempersembahkan korban bagi umat, mereka sendiri harus terlebih dahulu disucikan. Hal ini mengajarkan bahwa para imam pun bukan orang-orang yang lebih suci dari yang lain. Mereka tetap membutuhkan pengampunan dan penyucian dari Allah atas dosa-dosa mereka sendiri.

 

Para imam tidak bisa hidup tanpa anugerah Allah, melainkan hidup bergantung sepenuhnya pada anugerah itu. Mereka adalah manusia biasa yang masih memiliki dosa, sehingga mereka sendiri sangat membutuhkan pengampunan, pemulihan, dan kasih karunia yang sama seperti yang mereka sampaikan kepada umat Allah.

 

Tidak ada seorang pun yang pernah hidup tanpa membutuhkan korban bagi dosanya. Tidak ada seorang pun yang pernah hidup tanpa membutuhkan anugerah Allah yang mengampuni dan menyucikan. Tidak ada seorang pun - kecuali satu yaitu Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Imam yang hidup tanpa dosa dan tanpa perlu disucikan. Ia bukan hanya Imam, tetapi juga Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

 

Bagian firman Tuhan ini menjadi peringatan sekaligus panggilan, khususnya bagi para pelayan dan pemimpin gereja. Tidak ada seorang pun yang melayani yang kebal terhadap dosa. Pendidikan teologi tidak membuat seseorang menjadi lulus dari kebutuhan akan kasih karunia. Panggilan pelayanan tidak membebaskan seseorang dari kebergantungan pada anugerah. Bahkan pengalaman dan keberhasilan pelayanan pun tidak menjamin seseorang kebal terhadap kejatuhan. Di sekolah kasih karunia Allah, tidak ada yang pernah lulus, karena selama kita hidup, kita akan selalu membutuhkan pengampunan, pemulihan, dan pengudusan dari Tuhan setiap hari.

 

Karena itu, setiap kali kita memberitakan Injil kepada orang lain, kita harus melakukannya dengan kerendahan hati, sambil mengingat bahwa kita sendiri sangat membutuhkan Injil itu. Kita dipanggil untuk melayani sebagai sesama orang berdosa yang telah ditebus, bukan sebagai mereka yang merasa lebih suci. Tidak ada seorang pun yang dapat menyalurkan kasih karunia dengan lebih tulus daripada orang yang sadar betapa ia sendiri membutuhkannya.

 

Dalam terang Injil, kita bersyukur karena Yesus adalah Imam Agung kita yang sempurna—yang telah mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya, sehingga kita boleh hidup dalam aliran kasih karunia yang membersihkan, memulihkan, dan memperbarui setiap hari. Kiranya hidup kita senantiasa berakar dalam kesadaran ini: kita diselamatkan bukan karena kesalehan kita, melainkan semata-mata oleh anugerah-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 7:26–27 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 7-8