BAHAYA DI BALIK KEBERHASILAN
2 TAWARIKH 25–27
Wajar kalau kita sedih dan menyesali kegagalan-kegagalan kita. Tetapi sering kali kita lupa bahwa keberhasilan juga bisa menjadi bahaya rohani yang besar bagi hidup kita.
Tuhan tidak pernah menuliskan sesuatu dengan sia-sia di dalam Alkitab. Setiap kata dalam firman-Nya memiliki tujuan dan manfaat bagi hidup kita (2Tim. 3:16). Tidak ada kisah yang dicatat tanpa tujuan. Tidak ada cerita yang sebenarnya tidak penting untuk diketahui. Tidak ada nasihat yang sekadar menjadi pelengkap. Setiap prinsip hikmat di dalam Alkitab diberikan untuk membentuk hidup kita.
Bahkan bagian-bagian yang terasa sulit atau seperti “biasa saja” tetap mengandung pengharapan, anugerah, pertolongan, dan kehidupan. Karena itu, kita seharusnya membaca firman Tuhan dengan hati yang haus dan penuh antusias. Kita tidak boleh membaca Alkitab dengan terburu-buru atau sekadar mencari pengetahuan. Kita perlu membaca Alkitab dengan kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam.
Bacalah firman Tuhan seperti seorang pencari harta yang menggali dengan sungguh-sungguh, karena di dalam setiap bagian firman-Nya ada “harta kasih karunia” yang Tuhan sediakan bagi kita. Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan dan ditaati. Ketika kita melakukannya, cara pandang kita akan berubah, keinginan kita dimurnikan, pengharapan kita diperdalam, dan hati kita makin dibentuk oleh Injil Kristus.
Dalam 2 Tawarikh 26, kita melihat dua sisi kehidupan Raja Uzia. Kisah ini diberikan Tuhan bukan hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran dan peringatan bagi kita. Pada awal hidupnya, Uzia melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Ia mencari Tuhan selama hidup nabi Zakharia, yang mengajarnya takut akan Allah. 2 Tawarikh 26:4–5 mencatat: “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.”
Saat membaca bagian ini, hati kita merasa lega. Akhirnya ada seorang raja Yehuda yang hidup benar di hadapan Tuhan, seorang pemimpin yang takut akan Allah dan sungguh-sungguh mencari Dia. Namun ketika cerita berlanjut, kita menemukan sesuatu yang menyedihkan. “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2Taw. 26:16).
Kalimat “setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati” sangat penting untuk kita renungkan. Kalimat ini menunjukkan bahwa keberhasilan Uzia justru menjadi awal kehancuran rohaninya. Ketika Uzia mengalami keberhasilan dan menjadi kuat, hatinya mulai berubah. Kesuksesan membuatnya tidak lagi hidup dalam takut akan Tuhan. Orang yang dahulu bergantung kepada Tuhan mulai merasa cukup dengan dirinya sendiri. Ia mulai merasa dirinya mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Ia masuk ke Bait Allah dan melakukan hal yang bukan haknya, yaitu membakar ukupan di atas mezbah. Keberhasilan membuatnya lupa bahwa semua yang ia miliki berasal dari Tuhan. Dengan sombong ia melakukan sesuatu yang bukan haknya di hadapan Allah. Kesombongan itulah yang akhirnya membawa kehancuran dalam hidupnya. Sering kali, bukan kegagalan yang paling berbahaya bagi iman kita, melainkan keberhasilan yang membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.
Ketika hidup berjalan baik, pelayanan berhasil, pekerjaan lancar, atau kita mulai dipuji banyak orang, hati kita dapat diam-diam berubah menjadi sombong. Kita mulai mengambil kemuliaan yang seharusnya hanya milik Tuhan. Kita merasa kuat, padahal tanpa kasih karunia-Nya kita tidak dapat berdiri satu hari pun.
Injil mengingatkan kita bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah. Keselamatan kita bukan hasil usaha kita, tetapi karya Kristus di kayu salib. Bahkan kemampuan untuk taat, melayani, dan bertahan pun berasal dari kasih karunia Tuhan. Karena itu, keberhasilan seharusnya membuat kita makin rendah hati, bukan makin meninggikan diri. Di dalam Kristus, kita belajar bahwa hidup bukan tentang membangun nama kita sendiri, tetapi memuliakan Dia yang telah menyelamatkan kita. Ketika kita berhasil, biarlah hati kita terus bersandar dan bergantung pada kasih karunia-Nya.
Karena itu, biarlah peringatan dari firman Tuhan hari ini membawa kita kembali untuk menyadari bahwa kita selalu membutuhkan Tuhan. Kita membutuhkan hikmat-Nya, kekuatan-Nya, dan anugerah-Nya yang tidak pernah habis bagi hidup kita.
Refleksi
Bacalah Mazmur 119:1–8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27