KETIKA KESALEHAN HANYA TERLIHAT DI LUAR
MARKUS 12-13
Untuk apa kita hidup? Apa yang tampaknya paling baik bagi kita saat ini? Dan menurut Allah, apa yang sungguh-sungguh baik pada akhirnya?
Kita semua perlu membaca Alkitab dengan hati dan pikiran yang ingin memahami firman Tuhan secara mendalam. Kita perlu belajar mengajukan pertanyaan tentang apa yang sedang kita baca. Sebab, kita bisa saja memahami kata-kata dalam suatu bagian Alkitab, tetapi melewatkan alasan mengapa Allah menganggap bagian itu penting untuk dicatat dan dipelihara bagi kita.
Seluruh Kitab Suci berguna bagi kehidupan kita. Di balik setiap bagian yang kita baca, ada maksud Allah yang perlu kita pahami. Tidak ada satu pun bagian Alkitab yang sia-sia, termasuk bagian berikut ini: “Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." (Mar. 12:38–40).
Mungkin kita berpikir bahwa teguran Yesus kepada ahli-ahli Taurat tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita. Namun, sesungguhnya teguran ini juga berbicara kepada kita. Ketika Yesus berkata, “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat,” Ia bukan hanya memperingatkan para pendengar-Nya agar berhati-hati karena ahli-ahli Taurat itu tidak baik. Yesus juga sedang memperingatkan para pengikut-Nya agar tidak menjadi seperti mereka. Yesus sangat menentang cara mereka menjalankan kehidupan beragama, dan kita pun seharusnya demikian.
Dalam teguran-Nya, Yesus menunjukkan tiga hal yang perlu kita waspadai dan periksa dalam hati kita sendiri: kesalehan yang hanya tampak di luar, kesombongan, dan ketidakadilan. Ketiganya sering kali saling berkaitan. Kesalehan lahiriah terlihat ketika seseorang menampilkan kehidupan rohani yang tidak sungguh-sungguh mencerminkan keadaan hatinya. Padahal, iman yang sejati selalu berkaitan dengan perubahan hati yang dikerjakan oleh Allah.
Kesombongan muncul ketika kita lebih ingin menarik perhatian kepada diri sendiri. Orang yang sombong bisa melakukan hal-hal rohani bukan untuk menyembah Allah, melainkan untuk mendapatkan kekaguman dan penghormatan dari orang lain. Kesombongan adalah musuh dari pekerjaan Allah di dalam hati manusia. Sementara itu, ketidakadilan terlihat ketika kita tidak memiliki belas kasihan, kepedulian, atau tindakan nyata untuk menolong mereka yang sedang menderita dan berada dalam keadaan yang lemah.
Ketiga hal ini saling berkaitan. Orang yang hanya mementingkan penampilan rohaninya cenderung menjadi sombong karena menganggap kehidupan beragamanya sebagai hasil pencapaian pribadi, bukan sebagai buah dari anugerah Allah. Ketika seseorang merasa berhasil karena usahanya sendiri, ia mudah memandang rendah orang-orang yang dianggap tidak sebaik dirinya. Alih-alih menunjukkan belas kasihan, ia justru menghakimi dan merendahkan mereka. Kesalehan lahiriah menumbuhkan kesombongan, dan kesombongan menjadi tanah yang subur bagi ketidakadilan.
Karena itu, kita perlu sungguh-sungguh mewaspadai cara hidup ahli-ahli Taurat. Penampilan mereka yang tampak saleh di hadapan banyak orang sebenarnya merupakan bentuk kesalehan palsu yang berbahaya. Mereka tidak sungguh-sungguh menyadari keberdosaan dan kebutuhan mereka akan anugerah Allah. Mereka tidak merayakan kasih karunia Allah dengan kerendahan hati, dan mereka tidak menunjukkan anugerah kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Allah tidak akan dipuaskan hanya dengan rutinitas membaca Alkitab setiap hari, kehadiran kita secara teratur di gereja, atau kerja keras pelayanan yang kita lakukan, jika di balik semuanya itu terdapat kesombongan atas pencapaian diri dan hati yang dingin terhadap mereka yang membutuhkan. Allah tidak berkenan pada aktivitas keagamaan yang hanya dilakukan untuk penampilan luar, tanpa pertobatan dan perubahan hati yang sungguh-sungguh. Karena itu, jangan menjadikan kesalehan sebagai cara untuk membuktikan betapa baiknya diri kita. Biarlah kehidupan kita menjadi bukti betapa besar anugerah Kristus yang telah menyelamatkan dan mengubahkan kita.
Refleksi
Bacalah Yohanes 20:24-31 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Markus 12-13