KITA ADALAH ANAK-ANAK-NYA
HOSEA 8-14
Tidak ada yang lebih ajaib dan indah daripada kasih sayang Tuhan kepada kita sebagai anak-anak-Nya.
Sulit untuk menggambarkan seberapa besar kasih orang tua kepada setiap anaknya. Bahkan ketika anak-anak sudah dewasa dan menikah, kasih itu tidak menjadi berkurang. Orang tua tetap merasa senang ketika bisa meluangkan waktu bersama mereka. Kasih kepada anak-anak juga semakin terlihat dalam perhatian dan doa. Kita mungkin berdoa untuk banyak orang setiap pagi, tetapi ketika berdoa untuk anak-anak sendiri, ada kasih dan perhatian yang jauh lebih dalam. Beban mereka menjadi beban kita. Ketika mereka berhasil, kita ikut bersukacita seolah-olah keberhasilan itu adalah keberhasilan kita sendiri.
Meskipun kita tahu bahwa kasih orang tua kepada anak tidak pernah sempurna, kita tetap bisa membayangkan betapa indahnya jika kasih itu benar-benar sempurna. Lalu, bayangkan kasih Bapa kita yang di surga kepada anak-anak-Nya. Kita tidak boleh membatasi kasih Tuhan hanya berdasarkan pengalaman kita sebagai manusia.
Tuhan bukan seperti patung berhala yang terbuat dari batu dan tidak mampu merasakan apa pun. Teologi kita mengajarkan bahwa meskipun Allah Bapa tidak memiliki tubuh, Dia adalah Pribadi. Sebagai Pribadi, Tuhan memiliki perasaan, meskipun perasaan-Nya tidak berubah-ubah seperti perasaan kita. Kita tahu bahwa Allah mengasihi kita, tetapi mungkin kita tidak cukup sering memikirkan betapa besar kasih-Nya kepada kita. Kasih Tuhan membuat-Nya terus memandang kita dengan penuh kelembutan dan belas kasihan.
Coba pikirkan: apa artinya bagi kita jika kita menjadi objek kasih dari Pribadi yang duduk di atas takhta alam semesta dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya? Inilah identitas kita—bukan pekerjaan kita, bukan gelar kita, bukan universitas kita, bukan pertemanan kita, dan bukan pelayanan kita. Kita adalah anak-anak Bapa dan menjadi objek kasih-Nya yang sempurna dan kekal.
Hal yang sangat indah adalah kasih ini justru terlihat dengan sangat kuat di bagian akhir kitab Hosea, yang sebenarnya sedang berbicara tentang penghakiman Tuhan: "Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan." (Hos. 11:8–9).
Perhatikan betapa dalamnya kasih Tuhan melalui perkataan-Nya: “Masakan Aku membiarkan engkau? Masakan Aku menyerahkan engkau?” Kasih Tuhan yang kekal berarti Dia tidak bisa berhenti memandang umat-Nya dengan penuh belas kasihan. Dia tidak memperlakukan kita seperti kota Adma dan Zeboim yang dihancurkan. Dia tidak memperlakukan kita sesuai dengan apa yang layak kita terima.
Kasih Tuhan kepada kita terlihat paling jelas ketika Dia memberikan Anak-Nya sendiri untuk menanggung hukuman atas dosa kita. Kasih Bapa kepada kita mendorong Yesus untuk pergi ke kayu salib. Yesus mati supaya kita yang berdosa dapat menerima pengampunan dan hidup. Dan setelah Yesus bangkit dari kematian, kasih Bapa kepada kita juga terlihat ketika Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa sebagai Pembela dan Perantara kita.
Jadi, pengharapan kita bukan terletak pada seberapa baik kita menjalani hidup. Pengharapan kita ditemukan di dalam kasih Bapa yang tidak pernah berhenti mengasihi kita. Ketika kita gagal, kita tidak perlu melarikan diri dari Tuhan. Ketika kita merasa tidak layak, kita dapat datang kepada-Nya. Kasih-Nya tidak bergantung pada kesempurnaan kita, tetapi pada kasih-Nya yang sempurna. Kita adalah anak-anak yang dikasihi Bapa. Kasih-Nya tidak pernah berakhir, tidak berubah, dan tidak meninggalkan kita. Itulah pengharapan kita.
Refleksi
Bacalah Roma 5:6-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 8-14