ALLAH TIDAK DAPAT DIBATASI
1 RAJA-RAJA 8–11

 

Allah yang tidak terbatas dan hadir di mana-mana tidak dapat dibatasi oleh waktu dan ruang.

 

Beberapa percakapan paling penting dengan anak-anak sering datang tanpa direncanakan. Bukan dalam waktu yang sudah dijadwalkan. Kadang hanya dari komentar kecil di dalam mobil, tiba-tiba muncul percakapan yang dalam. Atau dari obrolan sederhana tentang hari itu, berkembang menjadi diskusi panjang sampai malam. Karena itu, kita harus peka, siap menangkap momen-momen itu ketika datang.

 

Demikian juga dengan firman Tuhan. Beberapa momen teologis yang paling dalam dalam Alkitab sering muncul “diam-diam” tanpa tanda peringatan yang jelas. Tidak selalu diawali dengan kalimat besar seperti: “Perhatian: pengajaran penting akan datang.” Momen itu bisa muncul dalam narasi sejarah, terselip dalam puisi, atau berada di tengah-tengah doa. Karena itu, kita perlu peka ketika Allah “membuka tirai”, menyatakan siapa Dia, bagaimana Dia bekerja, dan bagaimana rencana-Nya berlangsung.

 

Salah satu momen penting itu muncul dalam doa Salomo saat pentahbisan Bait Suci: “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini! Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan: nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.” (1 Raj. 8:27–30).

 

Penting bagi kita untuk memahami bahwa Allah tidak seperti kita. Ia tidak memiliki batas ruang dan waktu. Ia hidup dalam kekekalan dan hadir di mana-mana. Kebenaran ini menjadi pergumulan bagi Salomo. Jika langit saja tidak dapat memuat Allah, apalagi bait yang ia bangun? Jawabannya: Ya. Tuhan hadir di bait itu karena Ia memilih untuk menyatakan nama-Nya di sana, tetapi bait itu tidak pernah bisa membatasi keberadaan-Nya.

 

Kebenaran bahwa Allah hadir di mana-mana adalah sesuatu yang sangat indah, tetapi juga sulit kita pahami sepenuhnya. Kita adalah manusia yang hidup dalam keterbatasan, terikat ruang dan waktu, terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi Allah tidak demikian. Janji-janji-Nya dapat dipercaya, karena Ia selalu hadir untuk menggenapinya di mana pun dan kapan pun.

 

Dan di sinilah Injil menjadi begitu indah. Allah yang tidak terbatas itu memilih untuk mendekat. Ia mengambil rupa manusia di dalam Yesus Kristus. Ia masuk ke dalam keterbatasan kita, bukan karena Ia harus, tetapi karena kita membutuhkan-Nya. Yang tidak terbatas menjadi terbatas, supaya yang terbatas menerima anugerah yang tidak terbatas.

 

Kita tidak dapat menjangkau Allah dengan usaha kita. Namun Allah, dalam kasih-Nya, datang menjangkau kita. Di dalam Kristus, kita tidak hanya mengenal Allah yang maha besar, tetapi juga Allah yang dekat, yang mendengar doa, yang mengampuni dosa, dan yang hadir bersama umat-Nya. Inilah anugerah: Allah yang tidak dapat dibatasi, memilih untuk hadir bagi kita.

 

Refleksi
Bacalah Ayub 38:1-18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 8-11