BERHALA DIRI SENDIRI
1 RAJA-RAJA 12–14

 

Tidak ada berhala yang lebih menggoda, menipu, dan menarik selain “berhala diri sendiri.”

 

Ada sepasang suami istri yang datang untuk konseling karena pernikahan mereka seperti medan perang. Percakapan yang seharusnya biasa berubah menjadi perdebatan sengit demi kekuasaan. Mereka saling menyerang motivasi, karakter, pilihan, dan tindakan satu sama lain dengan cara yang sangat pribadi dan menyakitkan. Sulit menemukan satu area dalam pernikahan mereka yang tidak menjadi ajang pertarungan.

 

Mereka mengaku sebagai orang percaya dan beribadah di gereja yang baik, tetapi tidak ada Allah dalam pernikahan mereka. Karena tidak ada Allah dalam pernikahan mereka, tidak ada tujuan yang lebih tinggi selain keinginan dan kebahagiaan diri. Etika pernikahan mereka ditentukan oleh “tuan” yaitu diri sendiri. Keegoisan menguasai setiap aspek hubungan mereka. Mereka lelah dan putus asa, tetapi tidak pernah menyadari bahwa harapan bagi pernikahan mereka bukan ditemukan dengan saling menyerang, melainkan dengan bersama-sama melawan berhala yang menjadi akar dari semua masalah mereka.

 

Penyembahan berhala sudah muncul sejak awal dalam kisah Alkitab. Dalam Kejadian 3, Adam dan Hawa tidak taat kepada Allah karena mereka ingin menjadi seperti Allah. Penyembahan kepada diri sendiri, bukan kepada Allah, menjadi awal dari dosa pertama di dunia. Penyembahan diri ini menjadi “nada sumbang” yang terus terdengar sepanjang cerita Alkitab. Peperangan rohani yang besar adalah antara takhta Allah yang kudus dan keinginan manusia untuk “menjadi tuhan” bagi dirinya sendiri. Setiap ketidaktaatan kepada Allah dan setiap kejahatan terhadap sesama berakar dari satu hal: Allah disingkirkan, dan diri sendiri ditinggikan.

 

Hal ini terlihat jelas dalam 1 Raja-raja 12:25–29: “Kemudian Yerobeam memperkuat Sikhem di pegunungan Efraim, lalu diam di sana. Ia keluar dari sana, lalu memperkuat Pnuel. Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain."

 

Kerajaan Israel telah terpecah. Yerobeam menjadi raja atas Israel, dan Rehabeam menjadi raja Yehuda. Sangat mengejutkan melihat Yerobeam membuat anak lembu emas untuk disembah, bahkan mengklaim bahwa itulah yang membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Namun jika hanya berhenti di sini, kita akan kehilangan peringatan yang lebih dalam. Yerobeam mendirikan penyembahan berhala supaya rakyatnya tidak lagi pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Ia takut kehilangan kekuasaan. Di balik penyembahan berhala ini, akar terdalamnya adalah berhala diri.

 

Kisah ini menjadi peringatan bagi kita. Betapa mudahnya hati menggantikan Allah dengan diri sendiri—bahkan dalam hal-hal yang tampak rohani. Kita bisa tetap beribadah, tetap terlihat religius, tetapi sesungguhnya hidup dikendalikan oleh keinginan, rasa aman, dan ambisi diri. Namun Injil membawa kabar baik: Yesus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa kita, tetapi juga untuk membebaskan kita dari perbudakan terhadap diri sendiri. Di kayu salib, Ia menggantikan kita, menanggung hukuman atas penyembahan berhala kita. Melalui kebangkitan-Nya, Ia memberi hati yang baru—hati yang kembali menempatkan Allah di takhta-Nya.

 

Anugerah Allah memanggil kita untuk berhenti menyembah diri dan kembali menyembah Dia. Di dalam Kristus, kita bukan lagi budak diri sendiri, tetapi orang-orang yang dimerdekakan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan benar. Kiranya Tuhan, oleh anugerah-Nya, membebaskan kita dari perbudakan terhadap diri sendiri.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 17:5-10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 12-14