KESABARAN TUHAN YANG TIDAK TERUKUR
2 TAWARIKH 28–31

 

Masa lalu, masa kini, dan masa depan kita berdiri di atas kesabaran Tuhan yang tidak terukur.

 

Ketika membaca Perjanjian Lama, khususnya kitab Raja-raja dan Tawarikh, kita melihat betapa luar biasanya kesabaran Tuhan. Masa depan Israel, penggenapan rencana penebusan Allah, dan pengharapan bangsa-bangsa berdiri di atas dasar kesabaran-Nya. Jika melihat sejarah Israel yang terus-menerus jatuh dalam penyembahan berhala dan pelanggaran perjanjian, kita mungkin berpikir bahwa Tuhan seharusnya berkata, “Cukup! Aku selesai dengan kalian.” Tetapi Tuhan tidak bertindak seperti kita. Ia tidak bertindak tergesa-gesa dalam murka-Nya. Ia tidak dengan cepat membatalkan janji perjanjian-Nya ketika umat-Nya menyakiti hati-Nya.

 

Bukan karena Tuhan menganggap dosa itu ringan, tetapi karena Ia tahu bahwa satu-satunya harapan manusia adalah kasih karunia-Nya. Karena itu, dalam kasih karunia-Nya, Tuhan terus memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk mengaku dosa, bertobat, dan kembali menyembah Dia.

 

Kesabaran Tuhan terlihat dengan sangat jelas dalam 2 Tawarikh 29. Setelah Tuhan memakai bangsa-bangsa lain untuk mendisiplin Israel, setelah kehancuran, kekalahan, dan pembuangan yang terjadi, Tuhan ternyata belum selesai dengan umat-Nya. Ia membangkitkan Raja Hizkia, seorang raja yang benar di hadapan-Nya. Hizkia mengutus orang-orang untuk kembali mengerjakan pelayanan Tuhan dan memulihkan bait Allah supaya kembali dipakai untuk memuliakan nama-Nya.

 

Hizkia berkata: “Sekarang aku bermaksud mengikat perjanjian dengan TUHAN, Allah Israel, supaya murka-Nya yang menyala-nyala itu undur dari pada kita. Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, karena kamu telah dipilih TUHAN untuk berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi-Nya.”  (2Taw. 29:10–11).

 

Penting untuk dipahami bahwa Hizkia dapat memimpin pembaruan rohani itu hanya karena Tuhan sabar dan tetap setia pada janji perjanjian-Nya. Kesabaran Tuhan adalah alasan mengapa kita masih memiliki kesempatan untuk kembali kepada-Nya hari ini.

 

Injil menunjukkan puncak kesabaran Allah di dalam Kristus. Kita seharusnya menerima hukuman karena dosa kita, tetapi Yesus datang menanggung murka itu di kayu salib. Allah menahan penghukuman-Nya supaya kita menerima kasih karunia-Nya. Jika hari ini Tuhan masih memberi kita napas, itu berarti kasih karunia-Nya masih memanggil kita untuk bertobat dan hidup dekat dengan-Nya.

 

Oleh sebab itu, ketika Anda merasa lemah, jatuh, atau jauh dari Tuhan, ingatlah bahwa kesabaran-Nya masih membuka jalan untuk kembali kepada-Nya. Datanglah kepada Kristus dengan rendah hati, sebab di dalam Dia selalu ada pengampunan, pemulihan, dan pengharapan yang baru bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. 

 

Refleksi
Bacalah Keluaran 34:1–9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 28-31