BAHAYA BERSUNGUT-SUNGUT
Bilangan 11-13

 

Bersungut-sungut itu selalu berbahaya karena membuat kita cenderung meragukan kebaikan dan kesetiaan Tuhan.

 

Setiap orang tua pasti pernah mengalaminya. Anda bangun setiap pagi dengan komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kebutuhan rohani, emosional, dan fisik anak-anak Anda. Anda melakukannya setiap hari karena Anda mengasihi mereka dan tahu apa yang mereka butuhkan. Meskipun tidak sempurna, niat Anda tulus dan penuh kasih.

 

Namun, anak-anak tidak selalu menghargai itu. Mereka sering menentang atas perhatian dan kerja keras Anda. Sering kali mereka justru mengeluh tentang makanan yang Anda berikan atau jadwal yang Anda susun. Mereka tidak selalu percaya bahwa niat Anda itu baik; mereka lebih mudah mengeluh dan bersungut-sungut daripada bersyukur. Sedihnya, hal ini bukan hanya terjadi pada anak-anak. Bersungut-sungut seolah sudah menjadi "bahasa ibu" bagi umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

 

Kisah dalam Bilangan 11 sangat menyentuh, menyedihkan, sekaligus menyadarkan kita. Bangsa Israel sedang menempuh perjalanan panjang di padang gurun menuju negeri yang dijanjikan Allah. Mereka hidup berpindah-pindah, sehingga mustahil bagi mereka untuk menanam benih, berladang atau memanen hasil bumi.

 

Dalam situasi itu, Allah melakukan salah satu mukjizat pemeliharaan yang paling luar biasa: setiap pagi Ia menurunkan manna dari langit seperti embun di atas tanah sebagai makanan bagi umat-Nya. Ini adalah bukti nyata kuasa Allah dalam memelihara umat-Nya, sekaligus nubuatan tentang "Roti Hidup" yang akan datang, yaitu Yesus.

 

Manna itu bergizi dan cukup untuk mereka, namun perhatikan respons umat pilihan Allah ini: "Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: 'Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat'" (Bil. 11:4–6).

 

Bangsa Israel mengeluh atas pemberian Allah. Keluhan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah bersungut-sungut. Tidak mungkin seseorang mengeluhkan pemeliharaan Allah tanpa sekaligus meragukan hikmat, kebaikan, kesetiaan, dan kasih-Nya. Ketika kita berhenti mempercayai Allah, kita mulai mengambil kendali atas hidup kita sendiri. Kita mulai menilai dengan ukuran dunia dan melupakan kebaikan Tuhan.

 

Bangsa Israel menoleh kembali ke Mesir, bukan sebagai tempat perbudakan dan penderitaan, melainkan seolah-olah sebagai negeri yang penuh kenikmatan. Hati yang bersungut-sungut membuat perbudakan tampak indah dan anugerah tampak remeh. Sikap ini sangat berbahaya secara rohani. Hati yang menolak manna di padang gurun adalah hati yang kelak juga menolak Yesus Kristus, penyediaan Allah yang terbesar dan sempurna. Sebab manna hanyalah bayangan, tetapi Kristus adalah penggenapannya.

 

Dalam terang Injil, kita diingatkan bahwa Allah telah memberikan yang terbaik, yaitu Anak-Nya sendiri. Jika Allah tidak menyayangkan Anak-Nya, masakan Ia tidak memelihara hidup kita? Karena itu, keluhan mengungkapkan hati yang lupa akan salib, sedangkan ucapan syukur lahir dari iman kepada Kristus. Kiranya kasih karunia Allah membentuk kita menjadi umat yang selalu bersyukur, terus percaya, dan setia berjalan bersama Tuhan, apa pun keadaan kita.

 

Refleksi
Bacalah 1 Korintus 10:1–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 11-13